BACAAJA, SEMARANG – Suasana nobar film dokumenter Pesta Babi di Semarang mendadak hening saat sejumlah adegan tentang kondisi Papua mulai diputar. Ruangan yang awalnya ramai obrolan perlahan berubah sunyi. Banyak penonton terlihat serius menatap layar, sebagian lain hanya bisa geleng-geleng kepala karena syok dengan isi film tersebut.
Nobar yang dihadiri mahasiswa dan aktivis itu bukan sekadar acara nonton biasa. Film Pesta Babi menampilkan potret kehidupan masyarakat Papua dari sisi yang jarang terlihat di media arus utama.
Mulai dari kerusakan hutan, konflik agraria, sampai keresahan masyarakat adat yang merasa ruang hidup mereka makin terdesak.
Bacaaja: Film Pesta Babi Dilarang Malah Meledak, Mahfud MD Ikut Buka Suara Keras
Bacaaja: Megawati Menangis Nonton Pesta Babi, Papua Mendadak Jadi Sorotan Lagi
Buat sebagian penonton, isi film itu terasa cukup menampar. Salah satunya Aldit (25), warga Kendal yang awalnya mengaku cuma kebetulan lewat sebelum akhirnya ikut duduk menonton sampai selesai. Ia bilang banyak fakta di film itu yang baru pertama kali ia tahu.
“Kaget banget sih. Banyak kejadian di Papua yang ternyata kita nggak tahu dan nggak pernah diekspos media,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Menurut Aldit, selama ini masyarakat di luar Papua cuma melihat persoalan dari permukaan tanpa benar-benar tahu kondisi di lapangan.
“Yang bikin syok itu ternyata dampaknya besar banget ke masyarakat di sana. Aku pribadi baru tahu separah itu,” katanya.
Ia juga menilai acara nobar seperti ini penting karena bisa membuka sudut pandang baru buat masyarakat.
“Biasanya kita cuma lihat berita sekilas. Tapi lewat film dokumenter kayak gini rasanya beda, lebih kena,” lanjutnya.
Hal serupa juga disampaikan Aris Petege (21), mahasiswa asal Papua yang kini kuliah di Semarang dan tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). Menurutnya, banyak adegan dalam film tersebut memang dekat dengan realitas yang dirasakan masyarakat Papua sehari-hari.
“Itu fakta yang dirangkul dalam film Pesta Babi. Yang jadi masalah bukan filmnya, tapi karena ada pihak yang nggak mau kenyataan itu kelihatan,” ujarnya.
Aris mengatakan persoalan terbesar yang dirasakan masyarakat adat Papua saat ini adalah hilangnya hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
“Hutan itu bukan cuma pohon buat kami. Itu sumber makan, sumber hidup masyarakat Papua,” katanya.
Menurutnya, pembukaan lahan dan penebangan hutan yang terus terjadi membuat masyarakat adat makin kehilangan tempat hidup.
“Kalau hutannya habis, masyarakat adat mau hidup bagaimana?” lanjutnya.
Ia juga menyinggung sulitnya akses informasi dari Papua yang membuat banyak orang luar tidak benar-benar tahu situasi di sana.
“Media asing aja susah masuk Papua. Jadi banyak orang luar nggak tahu sebenarnya apa yang terjadi,” ucapnya.
Meski sempat diwarnai gangguan teknis dan suasana tegang karena disebut ada orang tak dikenal yang memantau jalannya acara, diskusi usai pemutaran film tetap berlangsung hangat. Para peserta duduk melingkar sambil bertukar pandangan soal isi film dan kondisi Papua saat ini.
Setelah acara selesai, banyak peserta masih bertahan di luar lokasi untuk ngobrol kecil. Sebagian mengaku pulang dengan pikiran yang berbeda setelah menonton dokumenter tersebut.
Bagi mereka, Pesta Babi bukan cuma soal film, tapi tentang suara-suara dari Papua yang selama ini jarang benar-benar terdengar. (dul)

