BACAAJA, BANDUNG – Program Makan Bergizi Gratis yang seharusnya jadi harapan banyak masyarakat malah dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk menjalankan aksi penipuan. Modusnya dibuat rapi, lengkap dengan janji pembukaan dapur MBG di berbagai daerah Jawa Barat sampai membawa-bawa nama pejabat agar korban makin percaya.
Kasus ini akhirnya dibongkar Polda Jawa Barat setelah belasan orang melapor merasa tertipu. Para korban sebelumnya dijanjikan bisa membuka Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG, yang disebut sebagai dapur resmi untuk program MBG. Tawaran itu terdengar meyakinkan karena pelaku mengaku punya akses langsung ke Badan Gizi Nasional.
Yang bikin banyak orang langsung percaya, para pelaku tidak sekadar ngomong kosong. Mereka datang dengan dokumen, identitas, sampai cerita soal “jalur orang dalam” yang seolah benar-benar resmi. Bahkan nama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, ikut dicatut demi memperkuat skenario penipuan tersebut.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar, Ade Sapari, menjelaskan kalau kasus ini mulai terungkap setelah ada dua laporan polisi masuk pada awal Januari 2026. Laporan itu berasal dari Kota Banjar dan wilayah Cicendo, Kota Bandung, yang sama-sama mengaku dijanjikan titik dapur MBG.
Dalam praktiknya, korban diminta menyetor uang dengan nominal tidak kecil. Tarif yang dipasang pelaku berkisar antara Rp75 juta sampai Rp150 juta untuk satu titik koordinat dapur MBG. Semakin strategis lokasi yang diminta, semakin mahal pula biaya yang harus dibayar.
Pelaku utama berinisial YRN disebut menjadi sosok yang paling aktif menawarkan peluang tersebut. Ia meyakinkan korban bahwa pembukaan dapur MBG bisa diproses cepat asalkan ada pembayaran tertentu sebagai syarat administrasi dan pengamanan lokasi.
Banyak korban akhirnya tergoda karena program MBG memang sedang jadi perhatian besar pemerintah. Selain dianggap punya nilai sosial, dapur MBG juga dinilai punya potensi ekonomi yang menjanjikan. Dari situlah pelaku memainkan situasi dan mencari celah untuk memperdaya masyarakat.
Polisi menyebut para korban benar-benar dibuat yakin lewat berbagai atribut palsu yang ditunjukkan pelaku. Ada identitas, dokumen persetujuan, sampai ID SPPG palsu yang dibuat seolah resmi dari Badan Gizi Nasional.
Salah satu pertemuan antara korban dan pelaku bahkan dilakukan secara langsung di wilayah Jalan Dr. Husein Kartasasmita, Kota Banjar. Di sana, pelaku tampil percaya diri sambil mengaku punya hubungan dekat dengan pejabat di lingkungan BGN.
Nama Sony Sonjaya menjadi salah satu “jualan utama” yang dipakai untuk membuat korban makin yakin. Salah satu tersangka berinisial OSP bahkan nekat mengaku sebagai keponakan Sony agar calon korban tidak curiga terhadap tawaran yang diberikan.
Korban yang sudah percaya kemudian diminta melakukan transfer uang ke rekening tertentu. Setelah pembayaran masuk, mereka diberi titik koordinat dapur dan ID SPPG palsu sebagai bukti bahwa lokasi tersebut sudah resmi disetujui.
Namun semuanya mulai terbongkar ketika titik dapur yang dijanjikan ternyata tidak bisa diakses. Para korban baru sadar ada yang tidak beres setelah 28 Desember 2025, saat lokasi yang dijanjikan tak kunjung aktif maupun terdaftar secara resmi.
Dari hasil pendataan sementara, polisi menemukan sedikitnya 13 orang menjadi korban dengan modus yang hampir sama. Total kerugian yang tercatat pun nilainya fantastis, mendekati Rp2 miliar.
Polda Jabar menduga jumlah korban sebenarnya bisa lebih banyak. Penyidik saat ini masih membuka kemungkinan adanya masyarakat lain yang sempat menyetor uang namun belum melapor karena malu atau masih berharap dana mereka bisa kembali.
Ade Sapari menegaskan bahwa proses pembukaan titik dapur MBG sebenarnya tidak dipungut biaya seperti yang dijanjikan para pelaku. Semua penentuan lokasi merupakan kewenangan Badan Gizi Nasional dan dilakukan melalui prosedur resmi.
Karena itu, masyarakat diminta lebih hati-hati jika ada pihak yang mengatasnamakan program pemerintah sambil meminta sejumlah uang. Terlebih bila prosesnya dilakukan diam-diam tanpa surat resmi maupun jalur administrasi yang jelas.
Dalam kasus ini, polisi sudah menetapkan empat orang sebagai tersangka yakni YRN, AY, AN, dan OSP. Keempatnya kini masuk dalam daftar pencarian orang atau DPO karena belum berhasil diamankan.
Polisi juga telah memeriksa sembilan orang saksi untuk mendalami alur penipuan tersebut. Sejumlah barang bukti ikut diamankan mulai dari tangkapan layar percakapan WhatsApp, identitas palsu, hingga bukti transfer dari para korban.
Sementara itu, Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya menegaskan bahwa lembaganya tidak pernah menjual titik koordinat dapur MBG kepada siapa pun. Ia memastikan seluruh proses pengajuan dilakukan terbuka melalui sistem resmi dan terverifikasi.
Sony juga mengaku ikut dirugikan karena namanya dicatut dalam praktik penipuan tersebut. Ia mengapresiasi langkah cepat Polda Jabar yang berhasil membongkar kasus sebelum jumlah korban semakin bertambah banyak.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa program pemerintah yang sedang ramai sering dijadikan alat mencari keuntungan oleh oknum tertentu. Modusnya pun makin rapi, tidak lagi sekadar janji lewat telepon, tapi sudah memakai dokumen dan identitas palsu yang terlihat meyakinkan.
Di tengah antusiasme masyarakat terhadap program MBG, polisi meminta warga tetap kritis dan tidak mudah tergoda tawaran instan. Apalagi jika ada pihak yang menjanjikan akses cepat dengan syarat transfer uang dalam jumlah besar tanpa prosedur resmi yang jelas. (*)

