BACAAJA, SEMARANG- Kritik kondisi jalan rusak di kawasan Ngaliyan dan Tugu rame di media sosial usai banjir besar Jumat (15/5/2026) malam. Warganet ngeluh karena banyak jalan rusak.
Sorotan paling banyak muncul dari Jalan Silayur, Ngaliyan. Jalur vital penghubung Semarang-Boja itu penuh lumpur tebal, licin, dan bahkan banyak lubangnya. Sempat bikin kendaraan susah melintas.
Yang lebih parah terlihat di Jalan Sriyatno, Purwoyoso, Ngaliyan. Dalam video yang beredar, paving jalan tampak mumbul, pecah, amburadul, bahkan naik turun nggak karuan usai diterjang banjir.
Kondisi itu langsung bikin kritik bermunculan di medsos. Banyak warga minta pemerintah cepat turun tangan karena akses lingkungan jadi rusak berat dan membahayakan.
Baca juga: 556 KK Terdampak Banjir Ngaliyan-Tugu
Pemkot Semarang pun memastikan penanganan langsung dilakukan. Petugas diterjunkan buat bersihin lumpur sekaligus mulai mendata kerusakan infrastruktur di lokasi terdampak.
Di jalur Silayur, Dinas PU langsung nurunin alat berat dan truk tangki air buat membersihkan material lumpur yang nutup badan jalan. Pembersihan dikebut supaya akses utama warga bisa cepat normal lagi. Perbaikan juga langsung dilakukan Sabtu (16/5/2026) dengan cara mengaspal titik-titik yang berlubang.
Sementara di kawasan Sriyatno Purwoyoso, alat berat juga mulai dikerahkan buat menangani paving jalan yang ambrol dan bergelombang. Pemkot bilang proses perbaikan dilakukan bertahap sesuai tingkat kerusakan.
Pendataan Kerusakan
Lewat Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), pendataan kerusakan jalan lingkungan dan fasilitas warga juga dilakukan sejak Sabtu (16/5/2025) siang.
Titik-titik kerusakan lain juga tengah didata dan segera diproses untuk diperbaiki. “Untuk jalan lingkungan dan fasilitas permukiman warga, hari ini tim Disperkim mulai melakukan survei dan identifikasi kerusakan sebagai dasar penanganan lanjutan,” ujar Kepala Disperkim Kota Semarang, Murni Ediati.
Pemkot juga menjelaskan kalau kerusakan jalan itu terjadi akibat luapan sungai yang menghantam badan jalan dan kawasan permukiman warga. Karena itu, penanganannya melibatkan banyak pihak.
Baca juga: Semarang Jangan Terbiasa dengan Banjir dan Longsor
“Karena berkaitan dengan aliran sungai dan tanggul, penanganannya dilakukan melalui koordinasi bersama BBWS Pemali Juana dengan dukungan teknis dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang,” jelas Murni.
Saat ini penanganan dibagi sesuai kewenangan supaya nggak saling tunggu. Disperkim fokus ke jalan lingkungan warga, sedangkan jalur utama ditangani bersama BBWS dan DPU Kota Semarang.
“Yang terpenting bagi kami saat ini adalah memastikan warga tetap terlayani dan seluruh penanganan berjalan secepat mungkin sesuai kondisi di lapangan,” pungkasnya.
Karena buat warga Ngaliyan sekarang, jalan rata ternyata sudah bukan soal kenyamanan lagi. Tapi soal bisa pulang tanpa takut motor mental gara-gara paving yang berubah kayak ombak laut. (bae)

