BACAAJA, SEMARANG – Retakan panjang di Jalan Jembawan 1, Kalibanteng, Semarang Barat membuat warga sekitar resah. Jalan yang berada tepat di samping aliran sungai itu kini ambles dan pecah di beberapa titik. Sebagian badan jalan bahkan sudah longsor hingga mendekati permukiman warga.
Kondisi paling parah terlihat dalam tiga hari terakhir. Retakan yang sebelumnya kecil kini melebar dan memanjang mengikuti bantaran sungai. Warga pun memasang garis pembatas dan kerucut lalu lintas agar pengendara tidak melintas terlalu dekat dengan titik ambles.
Manto (50), warga setempat yang sejak kecil tinggal di kawasan itu, mengatakan kejadian separah ini baru pertama kali terjadi. “Pertama niki, Mas. Sing paling parah niki. Sak derenge namung retak-retak biasa,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Pemulihan Longsor Kalialang Digeber
Menurutnya, sebelum ambles besar terjadi, jalan memang sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Retakan kecil muncul sejak beberapa waktu lalu, namun lama-kelamaan kondisi jalan semakin turun dan pecah. “Wes retak-retak terus anjlok. Sempat arep diperbaiki, tapi malah tambah parah,” katanya.
Warga menyebut ada beberapa titik kerusakan di sepanjang jalan tersebut. Salah satunya berada dekat area parkiran, sementara titik lain memanjang mengikuti tikungan sungai.
Sejak Ramadan
Hal serupa disampaikan Supat (70), warga RW 1 Kalibanteng. Ia mengaku retakan sebenarnya sudah muncul sejak bulan Ramadan. Bahkan laporan juga sudah disampaikan ke pihak kelurahan. “Mulai Ramadan itu sudah retak-retak kecil. Tapi sampai sekarang belum ada penanganan maksimal,” ucapnya.
Ia mengatakan warga sempat melihat alat berat datang ke lokasi, namun belum dilakukan pengerjaan lebih lanjut. Kondisi itu membuat warga semakin khawatir, terlebih ketika hujan turun deras pada malam hari.
Baca juga: Belasan Jiwa Terdampak Longsor Kalialang
“Kalau hujan besar warga sini takut. Air bisa meluap, rumah-rumah dekat sini juga bisa kena dampaknya,” katanya. Meski belum menimbulkan korban jiwa, akses jalan kini dibatasi. Kendaraan roda dua masih bisa melintas secara bergantian, sementara mobil sudah tidak diperbolehkan lewat demi keselamatan.
Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan sebelum kerusakan semakin meluas. Sebab selain mengancam akses jalan, amblesnya tanggul juga dikhawatirkan memicu banjir di kawasan permukiman sekitar. “Harapannya ya segera diperbaiki. Kasihan warga sini kalau terus dibiarkan,” tutup Supat.
Kadang yang bikin warga panik bukan hujannya. Tapi suara “krek” kecil dari tanah retak yang tiap hari makin terdengar dekat ke rumah. (dul)

