BACAAAJA, SEMARANG – Drama kasus dugaan pencabulan santriwati di Ponpes Ndholo Kusumo makin bikin geleng-geleng kepala.
Kiai Ashari, tersangka utama kasus dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati, kini resmi jadi buronan polisi setelah menghilang dan diduga kabur ke luar Jawa Tengah.
Ironisnya, beberapa waktu lalu polisi bilang gak menahan Kiai Ashari karena dianggap masih kooperatif. Tapi sekarang? Orangnya lenyap. Menghilang. Polisi baru kelabakan nyari.
Bacaaja: The Power of Kiai Ashari: Cabuli 50 Santriwati, Bebas Berkeliaran Gak Ditahan, Polisi Kalah Sakti?
Bacaaja: Pengacara Tolak Suap Rp400 Juta, Pilih Kawal Terus Kasus Kiai Pati Cabuli 50 Santriwati
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, mengaku tim Jatanras sudah diterjunkan untuk memburu keberadaan pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo itu.
“Diduga berada di luar wilayah Jawa Tengah. Sudah dipanggil, tapi yang bersangkutan tidak hadir,” katanya, Rabu (6/5/2026).
Keluarga bilang gak tahu kiai cabul kabur ke mana
Situasi ini langsung memancing sorotan publik. Banyak yang mempertanyakan kenapa tersangka kasus serius dengan dugaan korban mencapai puluhan orang justru tidak ditahan. Padahal, kemarin kesempatan menahan lebih dulu ada.
Sekarang polisi malah harus sibuk mencari keberadaan tersangka yang telanjur menghilang.
Pihak kepolisian mengaku sudah memeriksa keluarga Ashari untuk melacak posisi terakhirnya. Tapi hasilnya nihil. Keluarga disebut sama-sama tidak tahu keberadaan sang kiai. Kalau benar begitu, artinya Ashari hilang tanpa jejak.
“Kalau ditemukan langsung ditangkap dan ditahan,” tegas Artanto.
Perlu diketahui, Kiai Ashari sudah beberapa kali dilaporkan sebelum ini. Namun, laporan-laporan sebelumnya kandas di tengah jalan.
Kiai Ashari disebut telah mencabuli sekitar 50 santriwati, bahkan bisa lebih. Mayoritas korban adalah dari keluarga rentan: miskin, bahkan yatim-piatu.
Sejumlah korban dilaporkan hamil karena perbuatan bejat Kiai Ashari. Oleh kiai yang mengaku wali dalam melancarkan kejahatannya ini, korban dinikahkan dengan santri pilihannya untuk menutupi aib.
Sementara itu, kondisi Ponpes Ndholo Kusumo sendiri dilaporkan lumpuh total. Aktivitas pesantren berhenti, santri banyak yang pulang, dan lingkungan pondok yang biasanya ramai sekarang mendadak sepi.
Kasus ini sebelumnya bikin geger setelah muncul dugaan korban pencabulan mencapai puluhan santriwati. Publik pun mulai mempertanyakan keseriusan penanganan aparat sejak awal.
Sebab pola seperti ini sering berulang: tersangka dipanggil, dianggap kooperatif, tidak ditahan, lalu menghilang.
Kini polisi berpacu dengan waktu. Kalau terlambat, bukan cuma tersangka yang kabur, kepercayaan publik juga ikut lenyap. (*)

