BACAAJA, SEMARANG– Kinerja investasi Jawa Tengah di triwulan I 2026 bisa dibilang lagi ngebut tanpa rem. Sepanjang Januari sampai Maret, total investasi tembus Rp23,02 triliun, naik 5,35 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Yang bikin makin menarik, angka itu ikut nyeret sekitar 92.000 tenaga kerja dari 24.957 proyek yang tersebar di berbagai daerah.
Kepala DPMPTSP Jateng, Sakina Rosellasari bilang, kalau investasi asing masih jadi pemain utama. Nilainya mencapai Rp12,98 triliun atau sekitar 56 persen dari total investasi. Sisanya, Rp10,04 triliun, datang dari investor dalam negeri.
Baca juga: Pabrik Rp1,1 T di Kendal Siap Serap Ribuan Warga
“Di tengah situasi global yang lagi nggak santai, ini tentu jadi kabar yang cukup membanggakan,” ujar Sakina, Selasa (5/5/2026).
Yang mulai kelihatan sekarang, arah investasi di Jateng juga pelan-pelan berubah. Kalau dulu identik dengan industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki, sekarang sektor padat modal mulai naik panggung, mulai dari industri mesin, elektronik, alat kesehatan, sampai kelistrikan.
Meski begitu, Jateng belum sepenuhnya “move on” dari sektor lama. Industri alas kaki berbasis ekspor masih kuat, jadi daerah ini tetap ramah buat investasi yang butuh banyak tenaga kerja.
Tenaga Kerja
Kalau ngomongin daerah yang paling banyak nyerap tenaga kerja, Kota Semarang masih jadi juaranya dengan 15.650 pekerja. Disusul Kendal (9.009), Brebes (8.915), Jepara (6.897), dan Klaten (6.886).
Dari sisi negara asal investor, Singapura jadi yang paling dominan dengan nilai Rp3,33 triliun. Di belakangnya ada Hongkong (Rp3,22 triliun), Tiongkok (Rp2,14 triliun), Jepang (Rp1,85 triliun), dan Korea Selatan (Rp0,52 triliun).
Baca juga: Gubernur Lempar Karpet Merah ke Investor India
Sakina juga menyinggung kalau industri baterai mulai tumbuh di Jateng, dari anoda sampai katoda. Artinya, bukan cuma investasi utama yang masuk, tapi juga “rombongan” sektor pendukungnya ikut merapat. “Kami dampingi semua investasi yang masuk, baik yang padat karya maupun padat modal,” tegasnya.
Jateng sekarang lagi di persimpangan: antara tetap jadi “rumah produksi sepatu dunia” atau naik level jadi pemain industri masa depan. Tapi satu hal pasti, selama investasi terus datang, kursi kerja masih tersedia. Tinggal, siapa yang siap duduk… dan siapa yang cuma jadi penonton di pinggir lapangan. (tebe)

