Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bagimana Krisis Iklim Mengganggu Hubungan Keluarga
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Bagimana Krisis Iklim Mengganggu Hubungan Keluarga

Redaktur Opini
Last updated: April 29, 2026 10:02 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Cuaca ekstrem kini menjadi salah satu pendorong utama lonjakan harga pangan global. Penyebabnya gangguan produksi yang semakin sering terjadi.

 

Jika sebelumnya hubungan dengan pasangan terasa panas karena salah paham, salah nada, atau salah dalam memilih kata. Sekarang ada kemungkinan lain yang lebih “ilmiah”. Suhu yang benar-benar naik dan bersamaan dengan itu tagihan listrik juga ikut naik.

Krisis iklim yang sering dibahas dalam istilah besar seperti pemanasan global, perlahan turun kelas menjadi sesuatu yang jauh lebih konkret, yaitu pengeluaran bulanan yang makin sulit diajak kompromi.

Perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan dan hampir tidak disadari. Harga bahan makanan naik karena cuaca ekstrem mengganggu panen dan distribusi. Kebutuhan listrik meningkat karena suhu yang lebih panas. Biaya tak terduga muncul akibat banjir, kekeringan, atau gangguan lingkungan lainnya.

Dalam studi yang dilakukan peneliti dari UCLA dan MIT yang kemudian dirangkum oleh media seperti Investopedia, rumah tangga bahkan bisa menanggung tambahan biaya sekitar $400–$900 per tahun, dan hingga lebih dari $1.300 di wilayah tertentu akibat perubahan iklim.

Fenomena tersebut sering disebut sebagai climateflation, yaitu inflasi yang dipicu oleh faktor iklim. Laporan yang dibahas oleh berbagai media ekonomi internasional seperti The Guardian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, harga pangan berpotensi meningkat lebih dari 30% akibat tekanan iklim yang terus berlanjut.

Sementara itu, analisis lain menunjukkan bahwa cuaca ekstrem kini menjadi salah satu pendorong utama lonjakan harga pangan global. Penyebabnya gangguan produksi yang semakin sering terjadi.

Selain masalah kenaikan biaya, ketidakpastian juga ikut datang bersamanya. Dulu, anggaran bulanan bisa disusun dengan cukup percaya diri, dengan sedikit fleksibilitas. Sekarang, anggaran terasa seperti rencana yang siap direvisi kapan saja. Selalu ada kemungkinan munculnya “biaya kejutan”, entah dari cuaca ekstrem atau gangguan pasokan.

Pada titik ini, krisis iklim mulai menyentuh fondasi relasi. Stabilitas ekonomi, yang selama ini menjadi penopang rasa aman, perlahan terganggu. Ketika pengeluaran meningkat sementara pendapatan tidak selalu mengikuti, pasangan dipaksa untuk lebih sering bernegosiasi. Keputusan-keputusan kecil, seperti belanja mingguan atau penggunaan listrik, mulai membawa bobot yang lebih besar dari biasanya.

Yang menarik, konflik yang muncul sering terlihat sangat personal. Seolah-olah masalahnya ada pada pasangan. Padahal jika ditarik lebih jauh, akar persoalannya seringkali karena biaya hidup yang meningkat akibat tekanan lingkungan. Ibaratnya, dua orang sedang berdiri di lantai yang perlahan miring, tapi yang diperdebatkan justru cara berdiri masing-masing.

Dalam kondisi seperti ini, hubungan mudah kembali ke mode “menghitung”. Siapa yang memberi lebih, siapa yang mengurangi, siapa yang harus berkorban. Tanpa disadari, relasi bisa berubah menjadi semacam laporan keuangan berjalan. Padahal, memahami sumber tekanan bisa mengubah cara meresponsnya.

Menyadari bahwa sebagian beban berasal dari faktor eksternal membantu mengurangi kecenderungan untuk saling menyalahkan. Untuk sekali ini, mungkin tidak berlebihan jika kita mengakui bahwa sebagian persoalan memang “salah cuaca”.

Krisis iklim tidak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga struktur ekonomi rumah tangga. Dan ketika fondasi ekonomi terganggu, relasi ikut merasakan dampaknya. Hubungan yang mampu bertahan bukanlah yang bebas dari tekanan, melainkan yang mampu menghadapi tekanan tersebut sebagai masalah bersama. (*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Meretas Kesadaran Kelas di Tengah Ilusi Ekonomi Pro-Rakyat

Ada Semangat Diponegoro dalam Aksi Penolakan Penambangan di Lereng Gunung Mrico

Rabiah dan Seni Mencintai Tuhan

Ironi Kisah Reyhan dan Fara: Dari Kedekatan Personal ke Penghakiman Nasional

Saat Media Sosial Menggerus Fokus dan Kesehatan Mental Remaja

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi truk boks tertemper kereta. (wahyu/grafis) Kecelakaan Kereta Api Kembali Terjadi, Lagi-lagi Dipicu Kendaraan Mogok di Tengah Rel
Next Article Ilustrasi Ruang Terbuka Hijau (RTH). HUT ke-579 Semarang, Pemkot Diminta Serius Urus RTH Biar Nggak Langganan Banjir

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

20 Bidang Spesialisasi di RS Samsoe Hidajat, dari Kandungan hingga Rehabilitasi Medik

Era Baru Nonton Sepak Bola

Kepala Dinkes Jawa Tengah, dr. Zulfachmi Wahab, Sp.PD, Subsp.H.Onk.M(K), FINASIM, saat ditemui di kantornya, Kamis (30/6/2026). (bae)

Kadinkes Jateng: Jam Panjang di PPDS Bagian dari Proses Pendidikan

Lokasi Strategis RS Samsoe Hidajat, Dekat Bandara Ahmad Yani Semarang

Pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini. (bae)

Banyak Kepala Daerah Terjaring OTT KPK, Pengamat Undip Sorot Lemahnya Pengawasan Internal

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Selingkuh adalah Tindakan Krisis Moral

Desember 30, 2025
Opini

Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati

Januari 2, 2026
Opini

Surat Terbuka untuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Maret 2, 2026
Opini

Mentalitas “Jalur Ordal” Ternyata Bisa Bikin Negara Gagal

Januari 22, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bagimana Krisis Iklim Mengganggu Hubungan Keluarga
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?