Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
Cuaca ekstrem kini menjadi salah satu pendorong utama lonjakan harga pangan global. Penyebabnya gangguan produksi yang semakin sering terjadi.
Jika sebelumnya hubungan dengan pasangan terasa panas karena salah paham, salah nada, atau salah dalam memilih kata. Sekarang ada kemungkinan lain yang lebih “ilmiah”. Suhu yang benar-benar naik dan bersamaan dengan itu tagihan listrik juga ikut naik.
Krisis iklim yang sering dibahas dalam istilah besar seperti pemanasan global, perlahan turun kelas menjadi sesuatu yang jauh lebih konkret, yaitu pengeluaran bulanan yang makin sulit diajak kompromi.
Perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan dan hampir tidak disadari. Harga bahan makanan naik karena cuaca ekstrem mengganggu panen dan distribusi. Kebutuhan listrik meningkat karena suhu yang lebih panas. Biaya tak terduga muncul akibat banjir, kekeringan, atau gangguan lingkungan lainnya.
Dalam studi yang dilakukan peneliti dari UCLA dan MIT yang kemudian dirangkum oleh media seperti Investopedia, rumah tangga bahkan bisa menanggung tambahan biaya sekitar $400–$900 per tahun, dan hingga lebih dari $1.300 di wilayah tertentu akibat perubahan iklim.
Fenomena tersebut sering disebut sebagai climateflation, yaitu inflasi yang dipicu oleh faktor iklim. Laporan yang dibahas oleh berbagai media ekonomi internasional seperti The Guardian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, harga pangan berpotensi meningkat lebih dari 30% akibat tekanan iklim yang terus berlanjut.
Sementara itu, analisis lain menunjukkan bahwa cuaca ekstrem kini menjadi salah satu pendorong utama lonjakan harga pangan global. Penyebabnya gangguan produksi yang semakin sering terjadi.
Selain masalah kenaikan biaya, ketidakpastian juga ikut datang bersamanya. Dulu, anggaran bulanan bisa disusun dengan cukup percaya diri, dengan sedikit fleksibilitas. Sekarang, anggaran terasa seperti rencana yang siap direvisi kapan saja. Selalu ada kemungkinan munculnya “biaya kejutan”, entah dari cuaca ekstrem atau gangguan pasokan.
Pada titik ini, krisis iklim mulai menyentuh fondasi relasi. Stabilitas ekonomi, yang selama ini menjadi penopang rasa aman, perlahan terganggu. Ketika pengeluaran meningkat sementara pendapatan tidak selalu mengikuti, pasangan dipaksa untuk lebih sering bernegosiasi. Keputusan-keputusan kecil, seperti belanja mingguan atau penggunaan listrik, mulai membawa bobot yang lebih besar dari biasanya.
Yang menarik, konflik yang muncul sering terlihat sangat personal. Seolah-olah masalahnya ada pada pasangan. Padahal jika ditarik lebih jauh, akar persoalannya seringkali karena biaya hidup yang meningkat akibat tekanan lingkungan. Ibaratnya, dua orang sedang berdiri di lantai yang perlahan miring, tapi yang diperdebatkan justru cara berdiri masing-masing.
Dalam kondisi seperti ini, hubungan mudah kembali ke mode “menghitung”. Siapa yang memberi lebih, siapa yang mengurangi, siapa yang harus berkorban. Tanpa disadari, relasi bisa berubah menjadi semacam laporan keuangan berjalan. Padahal, memahami sumber tekanan bisa mengubah cara meresponsnya.
Menyadari bahwa sebagian beban berasal dari faktor eksternal membantu mengurangi kecenderungan untuk saling menyalahkan. Untuk sekali ini, mungkin tidak berlebihan jika kita mengakui bahwa sebagian persoalan memang “salah cuaca”.
Krisis iklim tidak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga struktur ekonomi rumah tangga. Dan ketika fondasi ekonomi terganggu, relasi ikut merasakan dampaknya. Hubungan yang mampu bertahan bukanlah yang bebas dari tekanan, melainkan yang mampu menghadapi tekanan tersebut sebagai masalah bersama. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

