BACAAJA, SEMARANG- Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, terang-terangan kasih lampu hijau penuh buat gelaran Kompetisi Sepak Bola U-13 Piala Wali Kota Semarang.
Turnamen yang digagas Aruna Academy bareng legenda sepak bola Emanuel De Porras ini bakal digelar 2-3 Mei 2026 di Stadion Citarum. Bukan sekadar turnamen usia dini biasa, ajang ini diproyeksikan jadi “gerbang awal” buat talenta muda lokal menuju level profesional.
Menurut Agustina, selama ini banyak yang terlalu fokus ngejar hasil di level atas, tapi lupa kalau fondasinya justru harus dibangun dari bawah.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Jateng Gelar Turnamen Sepak Bola Perangkat Desa
“Kita sering terpaku pada hasil akhir di level atas, padahal persiapan itu harus dimulai dari usia dini. Menyiapkan pemain berkualitas itu tanggung jawab bersama, bukan cuma pusat,” ujarnya saat press conference di Balai Kota Semarang, Sabtu (25/4/2026).
Dia juga menyoroti fenomena menarik: geliat sepak bola di Semarang justru banyak hidup dari gerakan akar rumput. Dari gang sempit sampai lapangan seadanya, banyak pembina yang dengan cara swadaya melatih anak-anak sejak kecil.
Jalan Keluar
Contohnya seperti di kawasan Rusunawa Kudu, tempat di mana mimpi besar sering dimulai dari bola plastik dan lapangan sederhana. “Selama ini banyak pembina yang kerja luar biasa secara mandiri. Nah, kompetisi seperti ini harus jadi jalan keluar, supaya pembinaan mereka punya arah yang jelas,” tegasnya.
Masalah klasiknya memang itu: banyak talenta, tapi bingung mau ke mana. Nggak ada jembatan dari latihan ke prestasi. Lewat kehadiran akademi seperti Aruna Academy dan kompetisi yang lebih terstruktur, Pemkot Semarang ingin bikin jalur yang lebih “realistis”, dari pemain kampung ke panggung profesional.
Agustina juga nggak menutup mata kalau sepak bola bukan cuma soal pertandingan, tapi juga soal industri. Dari ekonomi kreatif, event, sampai peluang karier, semuanya bisa ikut bergerak kalau ekosistemnya dibangun serius.
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Olahraga itu bukan cuma fisik, tapi juga karakter. Sinergi dengan profesional seperti De Porras ini jadi kunci buat wujudkan mimpi besar sepak bola kita,” katanya.
Baca juga: 36 Tim Ikuti Turnamen Sepak Bola Soekarno Cup 2025
Dengan adanya ruang kompetisi yang sehat, diharapkan anak-anak Semarang nggak cuma punya mimpi, tapi juga punya jalur untuk ngejar mimpi itu sampai jadi nyata.
Selama ini banyak anak jago bola cuma jadi legenda di kampung sendiri. Bukan karena nggak berbakat, tapi karena nggak tahu harus melangkah ke mana. Jadi kalau sekarang sudah mulai dibikinkan jalannya, pertanyaannya tinggal satu: mau serius ngejar… atau tetap puas jadi “Messi-nya lapangan sebelah”? (tebe)

