BACAAJA, SEMARANG- Rencana pengaktivan lagi jalur kereta api Semarang-Rembang makin menguat. Rencana itu masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional sampai 2030.
Ini bukan jalur baru. Dulu, rel membentang dari Jurnatan di Kota Semarang ke Rembang lewat Demak, Kudus, sampai Juana (Pati). Jalur pesisir utara ini sempat jadi urat nadi angkutan orang dan barang.
Sekarang banyak titiknya mati. Beberapa stasiun bahkan berubah fungsi, ada yang jadi pasar, gudang, sampai bangunan kosong yang nyaris tak terurus. Dorongan buat ngidupin lagi jalur ini datang dari Masyarakat Transportasi Indonesia. Mereka menilai rel lama itu masih sangat relevan buat kebutuhan transportasi hari ini.
Baca juga: Pengamat Dorong Reaktivasi: Neraka Mini Buat Sopir ODOL di Jateng, Biar Jalan Gak Cepet Rusak
Djoko Setijowarno dari MTI bilang, reaktivasi rel bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini langkah penting buat meratakan akses dan menggerakkan ekonomi daerah.
“Reaktivasi jalan rel adalah langkah strategis untuk menyeimbangkan kembali sistem transportasi, memastikan pemerataan akses, dan memicu perkembangan ekonomi berbasis kewilayahan,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian tahun 2026 mencatat total jaringan rel nasional sudah 9.178 kilometer. Tapi yang aktif baru 6.945 kilometer, sisanya 2.233 kilometer masih non-aktif.
Berdampak Besar
Artinya, masih banyak aset negara yang belum dimanfaatkan maksimal. Termasuk jalur Semarang-Rembang yang sudah lama “tidur”. Djoko bilang, kalau jalur ini aktif lagi, dampaknya cukup besar. Pertama, masyarakat punya alternatif transportasi yang lebih aman dan terjangkau.
Kedua, distribusi barang bisa lebih efisien. Selama ini logistik berat banyak bergantung ke jalan pantura yang padat dan cepat rusak. Ketiga, kota-kota kecil di sepanjang jalur berpotensi hidup lagi. Aktivitas ekonomi bisa tumbuh dari sekitar stasiun.
Selain itu, jalur ini juga bisa dikembangkan untuk wisata. Rute pesisir utara punya daya tarik tersendiri kalau dikemas serius. Pemerintah juga mendorong kolaborasi dengan swasta untuk proyek besar ini.
Baca juga: 23 Perjalanan Kereta Api Dibatalkan Imbas Banjir Pekalongan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono menyebut kebutuhan anggaran reaktivasi dan pembangunan rel nasional sangat besar. Targetnya bahkan mencapai 14.000 kilometer jalur hingga 2045. Nilai investasinya diperkirakan tembus Rp1.200 triliun, jadi tak bisa hanya mengandalkan dana pemerintah.
Relnya sudah ada, jalurnya sudah jelas, yang lama cuma “ditinggal tidur”. Sekarang tinggal satu pertanyaan: mau benar-benar dibangunkan… atau lagi-lagi cuma jadi rencana yang lewat seperti kereta tanpa rel? (bae)

