BACAAJA, SEMARANG- Semarang Night Carnival 2026 (SNC) dipastikan bakal naik level tahun ini. Nggak cuma jadi pesta warga lokal, tapi juga ajang internasional dengan kehadiran peserta dari setidaknya 15 negara.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyebut angka itu masih bisa bertambah. Soalnya, beberapa negara masih dalam proses konfirmasi. “Per hari ini sudah ada sekitar 15 negara, mulai dari Inggris, Perancis, Belanda, Jepang, sampai Ghana, Sierra Leone, dan Libya. Antusiasmenya luar biasa,” ujarnya.
Peserta internasional ini kebanyakan pelajar program pertukaran budaya. Mereka bakal tampil dalam satu defile khusus, lengkap dengan kostum nasional dan bendera masing-masing.
Baca juga: Semarang Gaspol Jadi Kota Wisata: Event Dibikin Meriah, Kotanya Dipoles Biar Makin Keren
Bayangin aja, dalam satu barisan, kamu bisa lihat berbagai identitas budaya dunia jalan bareng di tengah kota Semarang. Total ada sekitar 55 peserta internasional yang bakal gabung dengan ratusan peserta lokal. Secara keseluruhan, SNC 2026 bakal melibatkan sekitar 650 orang.
Mulai dari komunitas, barisan Akpol, delegasi daerah, sampai tamu luar negeri, semuanya jadi satu dalam parade kreatif. Agustina bilang, ini bukan sekadar karnaval. Tapi juga bentuk “diplomasi budaya”. “Seni itu bisa jadi jembatan persaudaraan tanpa batas negara,” katanya.
Unggulan Nasional
Tahun ini juga makin spesial karena SNC resmi masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata RI. Artinya, event ini sudah masuk kategori unggulan nasional.
Tema yang diangkat pun nggak kalah menarik: “Miracle of Recycle”. Jadi selain estetika, ada pesan soal kreativitas dan keberlanjutan. Pawai bakal dimulai Sabtu (2/5/2026) pukul 18.30 WIB dari Balai Kota Semarang di Jalan Pemuda.
Baca juga: Sebelas Event Wisata Jateng Masuk KEN 2026
Rutenya klasik tapi selalu ikonik, melewati Tugu Muda lanjut ke Jalan Pandanaran, dan finish di Simpang Lima. Agustina berharap event ini bisa dinikmati semua kalangan, sekaligus jadi ajang menunjukkan wajah Semarang yang ramah dan inklusif ke dunia.
Kadang, dunia butuh forum besar buat bicara soal perdamaian. Tapi di Semarang, cukup tutup jalan, nyalakan lampu, dan biarkan kostum warna-warni yang bicara. Lucunya, harmoni global justru lebih gampang kelihatan di karnaval… daripada di berita internasional. (tebe)

