BACAAJA, SEMARANG- Geliat seni dan budaya di Kota Semarang memang nggak pernah benar-benar mati. Aktivitasnya selalu ada dan terus tumbuh. Tapi kalau dibandingkan kota lain, posisinya masih tertinggal.
Cipta Purna dari komunitas Hysteria bilang, kondisi ini cukup terasa. Apalagi jika melihat kota-kota sekitar yang justru lebih kuat secara ekosistem. Menurut dia, untuk seni tradisi, dorongan dari pemerintah di Semarang sebenarnya sudah ada. Program dan event juga cukup sering digelar.
Namun di luar itu, terutama dalam konteks komunitas, masih banyak kekurangan. Ekosistem yang mendukung belum terbentuk kuat. Ia menilai, Semarang kalah dari Solo dan Magelang dalam hal seni tradisi. Sementara untuk komunitas dan jejaring, Jogja masih jauh di depan.
Baca juga: Pemkot Semarang Dorong Seni-Budaya Hidup Sampai Tingkat Kampung
Meski hidup, skena seni di Semarang belum mapan. Belum punya sistem yang benar-benar bisa menopang komunitas secara berkelanjutan. Indikatornya terlihat dari jumlah galeri yang masih terbatas. Termasuk kolaborasi antar komunitas dan stakeholder yang belum maksimal.
Selain itu, intensitas event juga belum konsisten. Belum lagi jumlah seniman yang bisa menembus panggung nasional hingga internasional. “Belum cukup ada kerja bersama dan ekosistem yang bisa jadi jalan komunitas untuk bertahan,” bebernya, Rabu (22/4/2026).
Tidak Berkelanjutan
Ia mencontohkan, skena seni rupa di Semarang pernah booming sekitar 2010 hingga 2015. Saat itu, banyak pameran dan diskusi bermunculan. Namun momentum itu tidak bertahan lama. Setelahnya, geliatnya menurun dan tidak berkelanjutan.
Di level komunitas, banyak yang muncul tapi tidak bertahan lama. Kondisinya seperti jamur di musim hujan. “Ada yang muncul, terus vakum, lalu muncul lagi,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini bukan kesalahan semata. Tapi menunjukkan bahwa membangun skena seni di Semarang memang tidak mudah. Banyak komunitas kesulitan mencari ruang, jaringan, hingga lingkungan yang tepat. Fasilitas dan sumber daya juga masih terbatas.
Meski begitu, Cipta melihat potensi besar di Semarang. Kota ini cocok jadi tempat belajar dan bertumbuh bagi pelaku seni. Dengan segala keterbatasan, seniman ditempa lebih kuat. Banyak yang akhirnya berkembang di luar kota.
Semarang mungkin belum jadi panggung utama, tapi lebih sering jadi “tempat latihan”. Ironisnya, banyak talenta lahir di sini, lalu bersinar di kota lain. Jadi, kalau seni di Semarang terasa redup, bisa jadi bukan karena nggak ada cahaya… tapi karena lampunya belum dipasang bareng-bareng. (bae)

