BACAAJA, SEMARANG- Karnaval Paskah Kota Semarang 2026 nggak cuma soal arak-arakan dan hiburan. Ada pesan yang lebih dalam: inklusivitas yang benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar slogan.
Di titik akhir karnaval, tepat di depan Balai Kota, Jumat, (17/4/2026), kelompok penyandang disabilitas tampil memukau lewat pertunjukan tari. Penampilan ini bukan cuma hiburan biasa, tapi jadi simbol bahwa ruang publik di Semarang makin terbuka untuk semua.
Baca juga: LINKK Semar Latih Penyandang Disabilitas Biar Nggak Cuma ‘Nunggu Diselamatkan’
Bukan sekadar “dikasih tempat”, tapi benar-benar diberi panggung yang setara. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa kegiatan seperti ini adalah bagian dari wajah kota yang terus bergerak ke arah inklusif.
“Kota ini harus jadi ruang bersama, tempat semua orang bisa bertemu dan berbagi kebahagiaan,” ujarnya. Menurutnya, kekuatan sebuah kota justru lahir dari keberagaman, bukan keseragaman.
Kekuatan Kebersamaan
“Sering kita pikir kebersamaan itu karena sama. Padahal justru karena beda, kebersamaan jadi lebih kuat,” tambahnya.
Karnaval ini jadi semacam “pengingat halus” bahwa pembangunan kota nggak melulu soal jalan, gedung, atau angka pertumbuhan. Tapi juga soal bagaimana setiap warga, termasuk penyandang disabilitas, punya akses, ruang, dan kesempatan yang sama.
Baca juga: Pemprov Perkuat Hak Peyandang Disabilitas, Mulai Peluang Kerja sampai Bantuan
Dan di momen itu, para difabel bukan lagi penonton. Mereka jadi pusat perhatian. Mereka tampil, percaya diri, dan yang paling penting, dihargai.
Banyak kota ngomong soal inklusivitas, tapi sering berhenti di spanduk dan jargon. Semarang mencoba melangkah lebih jauh, meski mungkin belum sempurna. Karena pada akhirnya, kota yang benar-benar maju bukan yang paling megah, tapi yang memastikan semua warganya punya tempat… bukan cuma di pinggir, tapi di panggung utama. (tebe)

