BACAAJA, SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang menggelar “kado besar” di HUT ke-479: transportasi, wisata, hingga fasilitas olahraga digratiskan. Sekilas terdengar ideal, kota dibuka tanpa batas. Tapi di balik euforia, muncul pertanyaan: ini kebijakan berkelanjutan atau sekadar perayaan tahunan?
Salah satu program utama adalah penggratisan layanan Bus Rapid Transit Semarang di seluruh koridor pada 1–5 Mei 2026. Selama lima hari, warga bisa keliling kota tanpa bayar.
Langkah ini diklaim untuk mendorong penggunaan transportasi umum. Namun pertanyaannya sederhana: apakah kebiasaan itu akan bertahan setelah tarif kembali normal?
Bacaaja: HUT Kota Semarang Nggak Cuma Seremoni, Prioritaskan Program Langsung ke Warga
Bacaaja: Silayur Park Comeback! Setahun Vakum, Siap Kembali Buka dengan Konsep ‘Hutan Menyala’
Banyak gratisan pada puncak perayaan
Pada puncak perayaan 2 Mei, Pemkot juga membuka akses gratis ke sejumlah destinasi. Mulai dari Goa Kreo, Taman Lele, hingga Hutan Wisata Tinjomoyo.
Fasilitas lain seperti Kolam Renang Sodong dan Taman Lalu Lintas Semarang juga ikut dibuka tanpa tiket.
Gratis, ramai, dan meriah, tapi hanya sehari. Model seperti ini berisiko jadi “wisata musiman”: penuh saat gratis, sepi saat normal. Dampak jangka panjangnya terhadap sektor pariwisata masih perlu diuji.
Pemkot juga membuka fasilitas olahraga seperti Gedung Tri Lomba Juang dan GOR Manunggal Jati secara gratis.
Tujuannya jelas: menghidupkan ruang publik dan mendorong gaya hidup sehat. Namun lagi-lagi, ini program temporer.
Tanpa konsistensi kebijakan, ruang publik berpotensi kembali sepi setelah perayaan usai.
Pemkot menyebut program ini sebagai bentuk apresiasi untuk warga. Tidak salah. Tapi pendekatan berbasis “gratisan sesaat” kerap berhenti di simbolik.
Pertanyaan yang lebih penting:
- Apakah setelah ini transportasi umum makin terjangkau?
- Apakah pengelolaan wisata akan lebih serius?
- Apakah fasilitas publik benar-benar dioptimalkan jangka panjang?
Jika jawabannya tidak, maka program ini hanya jadi rutinitas seremonial.
HUT ke-479 Semarang memang terasa meriah. Warga bisa jalan-jalan tanpa biaya, menikmati kota dengan bebas, dan merasakan fasilitas publik tanpa batas, untuk sementara.
Karena setelah tanggal lewat, yang tersisa bukan lagi gratisan, tapi realitas pelayanan kota sehari-hari. (dul)

