BACAAJA, TEMANGGUNG – Bupati Temanggung Agus Setyawan ngajak generasi muda buat lebih dekat sama budaya sendiri, khususnya keris. Bukan cuma dilihat sebagai benda “mistis”, tapi dipahami sebagai warisan dunia yang punya nilai filosofi tinggi.
Hal itu disampaikan saat membuka Pagelaran Nasional Syawalan Pusaka 2026 bertajuk “Telusur Jejak Pusaka Mataram Kuno” di Pendopo Pengayoman, Jumat (17/4/2026).
Menurut Agus, Keris Indonesia sudah diakui dunia lewat UNESCO. Jadi, sudah seharusnya generasi muda juga ikut bangga dan menjaga.
Bacaaja: Kepedulian di Tengah Duka, Bupati Temanggung Turun Langsung Jemput Jenazah Warganya
Bacaaja: Rumah Terapi Gratis untuk ABK, Bupati Agus Gondrong: Bentuk Cinta Warga Temanggung
“Pameran ini bukan cuma ajang kumpul, tapi juga ruang belajar. Ada nilai kesabaran, ketelitian, sampai pengabdian di balik keris,” ujarnya.
Agus juga menyoroti fenomena anak muda yang kadang lebih kenal budaya luar dibanding budaya sendiri. Lewat pameran ini, ia berharap ada perubahan mindset.
Pesannya simpel: kenali dulu, baru bisa mencintai dan menjaga.
Senada dengan itu, Wakil Sekjen Senapati Nusantara, Nurjianto, menegaskan kalau pelestarian keris bukan cuma urusan kolektor atau komunitas.
“Budaya itu nggak cukup dikenang. Harus diwujudkan dan diperjuangkan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Sri Hariyadi menjelaskan, event ini diikuti 146 pebursa dari berbagai daerah, mulai dari Lampung sampai Lombok. Selain itu, ada juga empat komunitas tosan aji lokal yang ikut meramaikan.
Menariknya, panitia juga menggandeng sekolah-sekolah biar pelajar bisa datang langsung dan belajar soal keris.
“Selama ini masih banyak yang nganggep keris itu klenik atau mistis. Padahal ini karya budaya tinggi,” jelasnya.
Lewat event ini, Temanggung seolah ingin kasih pesan kuat: budaya lokal nggak kalah keren. Tinggal gimana generasi mudanya mau kenal lebih dekat atau nggak. (*)

