BACAAJA, JAKARTA – Suasana ruang sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mendadak hening saat sosok Nadiem Makarim berdiri dan mulai berbicara dengan nada yang tak biasa. Bukan pembelaan keras, melainkan pengakuan yang terasa jujur dan personal.
Di momen yang cukup emosional itu, mantan pejabat negara yang juga dikenal sebagai pendiri Gojek memilih membuka sisi lain dirinya yang jarang terlihat publik selama ini.
Sudah tujuh bulan ia menjalani masa tahanan dalam kasus yang menyeret namanya. Waktu yang tidak sebentar itu, menurutnya, justru menjadi ruang untuk merenung dan melihat kembali perjalanan hidupnya secara lebih dalam.
Di hadapan media, ia mengawali pernyataannya dengan ucapan syukur. Ia merasa bahwa perjalanan panjang yang dijalaninya bukan tanpa makna, meski berada dalam situasi yang tidak mudah.
“Saya sudah 7 bulan di penjara dan walaupun alhamdulillah saya bersyukur bahwa semua tuduhan tidak terbukti,” ucapnya dengan suara tenang, seolah mencoba menahan banyak hal yang ingin disampaikan.
Namun bukan soal perkara hukum yang paling ia soroti. Ia justru lebih banyak berbicara tentang dirinya sendiri, terutama soal gaya kepemimpinan yang dulu ia jalani.
Selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, ia mengakui banyak keputusan yang diambil dengan pendekatan berbeda dari kebiasaan birokrasi.
Ia tidak menutup-nutupi bahwa keputusannya membawa banyak profesional muda dari luar sistem pemerintahan telah memicu dinamika baru di dalam.
Langkah tersebut memang membawa perubahan cepat, tetapi di sisi lain juga menimbulkan gesekan yang tidak bisa dihindari.
“Saya masuk mungkin tidak selalu menghormati budaya birokrasi. Saya bawa banyak sekali orang dari luar masuk ke dalam,” ungkapnya dengan nada yang terdengar lebih rendah.
Pernyataan itu seperti menjadi titik balik dari pengakuannya. Ia mulai menyadari bahwa perubahan yang terlalu cepat tanpa memahami akar budaya bisa menimbulkan resistensi.
Lebih jauh, ia juga mengakui bahwa fokusnya selama ini terlalu condong pada profesionalisme kerja, sementara aspek sosial dan politik kurang mendapat perhatian.
Padahal, sebagai pejabat publik, ia menyadari bahwa komunikasi dan pendekatan kepada tokoh masyarakat maupun politik memiliki peran yang tidak kalah penting.
“Saya mungkin kurang santun dalam cara penyampaian saya. Saya kurang menghormati dan kurang sowan,” lanjutnya, mengakui kekurangan dengan cukup terbuka.
Ucapan itu menjadi salah satu bagian paling disorot, karena menunjukkan refleksi yang jarang disampaikan secara gamblang oleh figur publik.
Ia juga menyinggung bahwa dalam perjalanannya, ada kemungkinan ucapan atau sikapnya yang menyinggung banyak pihak, baik disengaja maupun tidak.
Untuk itu, ia menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada semua pihak yang merasa tidak nyaman dengan sikapnya di masa lalu.
Permintaan maaf itu disampaikan tanpa basa-basi, dengan nada yang lebih personal dibandingkan formalitas biasa dalam pernyataan publik.
Di balik semua itu, pengalaman menjalani hidup di balik jeruji besi menjadi fase yang paling berat baginya.
Terpisah dari keluarga, terutama anak dan pasangan, menjadi ujian yang ia akui sangat menguras emosi dan mental.
Namun, ia mencoba melihat sisi lain dari pengalaman tersebut. Ia menyebut banyak membaca kisah tokoh-tokoh bangsa yang pernah menghadapi situasi serupa.
Dari sana, ia menemukan semacam energi baru untuk tetap bertahan dan tidak kehilangan harapan.
Pengalaman itu perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan, termasuk dalam melihat kesalahan dan tanggung jawab.
Alih-alih terpuruk, ia mengaku justru menemukan alasan untuk tetap optimis, meski berada dalam kondisi yang sulit.
Optimisme itu juga berkaitan dengan keyakinannya terhadap sistem hukum di Indonesia yang menurutnya masih memiliki dasar keadilan.
Ia menegaskan bahwa kecintaannya terhadap Indonesia tidak berubah, bahkan di tengah ujian yang sedang dihadapi.
“Saya masih mencintai negara saya,” ucapnya, menutup pernyataan dengan kalimat yang sederhana namun terasa kuat.
Pernyataan itu seolah menjadi penegasan bahwa perjalanan hidupnya belum selesai, dan masih ada ruang untuk memperbaiki diri.
Di sisi lain, pengakuan ini juga membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana seorang pemimpin beradaptasi dengan sistem yang sudah lama terbentuk.
Banyak yang melihat bahwa kombinasi antara inovasi dan penghormatan terhadap budaya menjadi kunci penting dalam menjalankan perubahan.
Kisah ini pada akhirnya bukan hanya tentang satu orang, tetapi juga tentang proses belajar yang tidak pernah berhenti.
Dan dari ruang sidang itu, publik melihat sisi lain seorang tokoh yang kini memilih berbicara lebih jujur tentang dirinya sendiri. (*)

