BACAAJA, BANDUNG – Kasus dugaan penipuan penjualan titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG akhirnya bikin geger banyak pihak. Modusnya terbilang nekat karena pelaku diduga hanya bermodal percakapan WhatsApp palsu untuk meyakinkan calon korban agar mau menyetor uang hingga ratusan juta rupiah.
Nama Okky Septian Pradana kini jadi sorotan setelah dirinya ditangkap Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat. Ia diduga menjual titik dapur program Makan Bergizi Gratis atau MBG dengan harga fantastis, mulai puluhan juta hingga tembus Rp140 juta per titik.
Yang bikin banyak orang geleng kepala, Okky disebut memakai chat dengan kontak bernama “Om Sony Sonjaya” untuk memperkuat aksinya. Percakapan itu dipamerkan kepada korban sebagai bukti kalau dirinya punya hubungan dekat dengan orang penting di Badan Gizi Nasional atau BGN.
Dari situlah para korban mulai percaya. Mereka mengira tawaran tersebut benar-benar resmi dan bisa membuka peluang bisnis besar lewat program MBG yang memang sedang ramai diperbincangkan di berbagai daerah.
Dalam aksinya, Okky bahkan disebut mengaku sebagai keponakan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya. Klaim itu makin membuat korban yakin kalau jalur yang ditawarkan benar-benar punya akses khusus.
Padahal setelah ditelusuri polisi, seluruh pengakuan tersebut ternyata tidak sesuai fakta. Chat yang diperlihatkan kepada korban diduga hanya dipakai sebagai alat untuk memuluskan penipuan.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Hendra Rochmawan, mengatakan kasus ini muncul dari dua laporan polisi berbeda yang masuk pada Januari 2026.
Menurut Hendra, para tersangka memakai cara yang cukup rapi untuk membuat korban percaya. Mereka menawarkan akses eksklusif ke proyek MBG sambil mengaku dekat dengan pejabat penting di lingkungan BGN.
“Modus yang digunakan para tersangka adalah dengan meyakinkan korban bahwa mereka memiliki akses eksklusif dan hubungan kekerabatan dengan pejabat di Badan Gizi Nasional (BGN),” ujar Hendra.
Tak cuma menunjukkan chat WhatsApp, korban juga diperlihatkan akun dan portal yang diklaim sebagai akses resmi program MBG. Dari tampilan luar, semuanya terlihat meyakinkan sehingga banyak orang akhirnya tergoda untuk ikut bergabung.
Kasus ini disebut bermula sekitar akhir November 2025 di kawasan Apartemen Gateway Pasteur, Kota Bandung. Saat itu, Okky menawarkan bantuan kepada calon korban untuk mendaftarkan titik dapur MBG sekaligus mengurus ID SPPG melalui portal yang disebut resmi.
Untuk setiap titik dapur MBG, tarif yang dipasang bervariasi. Ada yang diminta Rp50 juta, ada pula yang sampai Rp100 juta hingga Rp140 juta tergantung lokasi dan janji fasilitas yang diberikan.
Korban yang sudah kepincut peluang bisnis itu akhirnya mentransfer uang dengan harapan mendapatkan titik layanan MBG resmi. Mereka percaya proyek tersebut bakal menghasilkan keuntungan besar karena berkaitan langsung dengan program pemerintah.
Namun seiring waktu berjalan, titik yang dijanjikan tak pernah benar-benar muncul. Beberapa korban mulai curiga setelah akses yang dijanjikan tak kunjung aktif dan lokasi dapur MBG tidak terealisasi.
Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga sindikat tersebut sudah menjual sedikitnya 21 titik SPPG palsu kepada masyarakat. Jumlah kerugian pun tidak main-main karena mencapai miliaran rupiah.
Dalam laporan pertama, korban bernama Anwar bersama sejumlah pihak lain disebut mengalami kerugian hingga Rp1,2 miliar setelah percaya dengan tawaran tersebut.
“Pelapor beserta korban lainnya mengalami kerugian materiil dengan nilai total sebesar Rp1,2 miliar,” kata Hendra.
Sementara dalam laporan kedua, pelapor bernama Eko Pradana Utama bersama 10 mitranya juga mengaku menjadi korban setelah berniat mendaftarkan 21 titik layanan MBG.
Mereka disebut mentransfer uang ke rekening seseorang bernama Ali Nugraha karena percaya akses akun MBG yang diperlihatkan adalah asli. Belakangan akun itu justru diduga palsu dan sudah disiapkan sebelumnya untuk mengelabui korban.
Akibat kasus tersebut, total kerugian dari laporan kedua mencapai sekitar Rp1,9 miliar. Nominal itu membuat kasus ini makin ramai dibicarakan publik karena berkaitan dengan program yang sedang jadi perhatian nasional.
Kini polisi masih terus mendalami alur uang dan kemungkinan adanya pihak lain yang ikut terlibat dalam praktik dugaan penjualan titik MBG palsu tersebut. Sementara itu, masyarakat diingatkan agar lebih hati-hati terhadap tawaran proyek instan yang menjanjikan akses khusus lewat jalur orang dalam.
Kasus ini juga jadi pengingat kalau modus penipuan sekarang makin rapi. Cukup bermodal chat WhatsApp, akun palsu, dan pengakuan punya koneksi pejabat, banyak orang akhirnya rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi peluang yang ternyata cuma jebakan. (*)

