BACAAJA, SEMARANG — Kenaikan harga ternyata nggak cuma soal bahan pokok. Sekarang, kantong plastik, yang sering dianggap sepele, ikut naik dan mulai bikin pedagang kecil ngos-ngosan.
Buat pembeli mungkin kelihatan biasa aja. Tapi buat pedagang, ini jadi beban tambahan yang cukup kerasa di aktivitas jual beli sehari-hari.
Salah satu pemilik toko kelontong, Wulan (35), bilang kalau harga plastik naik cukup signifikan.
Bacaaja: Selat Hormuz Seret, Industri Plastik Dalam Negeri Mulai Panik
Bacaaja: Iran Siap Akhiri Perang, Teheran Ajukan Dua Poin Peting sebagai Syarat
“Yang biasanya Rp3.000 sekarang jadi Rp5.000. Yang Rp15.000 juga naik jadi Rp20.000,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Kondisi ini bikin pedagang harus putar otak. Di satu sisi, plastik masih jadi kebutuhan utama buat bungkus belanjaan. Tapi di sisi lain, harganya makin mahal.
Mau nggak mau, biaya tambahan ini akhirnya berdampak ke harga jual barang.
“Ya keberatan, tapi mau gimana. Kalau plastik tetap gratis, nanti yang nanggung siapa?” tambahnya.
Dampaknya? Pedagang kecil lagi-lagi jadi pihak yang paling terasa. Untuk bertahan, banyak dari mereka akhirnya menaikkan harga barang sedikit demi sedikit.
“Ya dinaikkan pelan-pelan, buat nutup biaya plastik,” kata Wulan.
Fenomena ini ternyata bukan kasus satu-dua pedagang aja. Data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) menyebutkan harga plastik bahkan sudah naik sampai 50 persen dari kondisi normal.
Sekjen DPP IKAPPI, Reynaldi Sarijowan, menjelaskan kenaikan ini terjadi bertahap sejak akhir Februari 2026.
Awalnya harga plastik sekitar Rp10.000, tapi sekarang sudah tembus Rp15.000.
“Naiknya pelan-pelan, seminggu naik Rp500 sampai Rp700. Sampai sekarang kita proyeksikan total kenaikan sekitar 50 persen,” jelasnya.
Kenaikan ini dipicu berbagai faktor, mulai dari harga bahan baku plastik yang berbasis minyak bumi, gangguan pasokan, sampai efek konflik global yang bikin harga energi ikut goyang.
Situasi ini nunjukkin satu hal: hal kecil kayak plastik ternyata punya efek besar. Pedagang harus adaptasi, sementara konsumen juga pelan-pelan ikut ngerasain lewat harga yang makin naik. (dul)


