Imaniar Yordan Christy, S.Pd., M.S., guru Bahasa Indonesia SMA N 5 Semarang.
Anak harus tumbuh dengan rasa aman tanpa beban, terlindung dari segala bentuk kekerasan, dan tentu saja memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang dalam mencari jati diri, serta belajar dari pengalaman hidup mereka.
Di tengah serbuan film horor Indonesia yang laris penonton, Na Willa hadir sebagai film drama keluarga. Tentu saja Visinema Studios sebagai rumah produksi film ini berharap Na Willa akan bisa menarik perhatian penonton seperti pendahulunya Jumbo. Namun, agaknya jauh panggang dari api, pada hari ke-15 penayangan Na Willa menyita 942.595 penonton sementara Jumbo kala itu berhasil menjual tiket 3.566.454.
Sebagai film drama dengan aksen musikal yang kuat, Na Willa sepertinya kurang berhasil menghadirkan lagu yang akhirnya booming dinyanyikan oleh penonton. Berbeda dengan OST Jumbo “Selalu Ada di Nadimu” yang sampai setahun setelah rilis masih didengarkan dan dinyanyikan. OST Na Willa “Sikilku Iso Muni” justru mencipta gelak tawa dan gelengan kepala. Bisa juga digunakan sebagai pembanding, film yang pernah hadir di tahun 2000 yaitu Petualangan Sherina. Musik, lagu, gerak, dan akting pada film itu terasa jauh lebih sempurna dalam penggarapan sebuah film musikal.
Film Na Willa diangkat dari buku yang ditulis oleh Reda Gaudiamo. Penonton film yang sudah membaca bukunya, pasti bisa melakukan perbandingan-perbandingan. Salah satunya adalah ritme cerita. Dalam buku, cerita sangat ringan dan mengalir dengan cepat karena berkisah tentang dunia anak-anak. Pengamatan peristiwa, kejadian, orang dewasa, dan petualangan semua sambil lalu saja, seperti ketika anak-anak bercerita ceplas-ceplos tentang hal yang mereka alami atau rasakan.
Ritme ringan dan cepat berganti karena terlalu banyak yang spesial di mata kanak-kanak. Namun, di dalam film ritme berjalan lambat dan detail. Jadi apa yang dipikirkan anak-anak, oleh sutradara diinterpretasikan terlalu berat. Misal ketika Na Willa melihat orang tuanya berdansa, dalam sudut pandang anak-anak yang terpesona, itu hanya sekejap. Namun, dalam film adegan berdansa itu menjadi terlalu panjang dan lambat, sehingga fokusnya justru pada romansa ayah dan ibu. Tentu ini berimbas pada kebosanan penonton yang masih anak-anak dan berpikir ini memang film anak-anak karena bercerita dunia anak 5 tahun.
Dalam pengambilan gambar, kamera disesuaikan dengan tinggi Na Willa atau mata seorang anak. Sehingga pengambilan gambar untuk menyorot tokoh-tokoh yang lebih tinggi dari Na Willa (orang dewasa) semua dari bawah (low angle). Adegan-adegan yang menyoroti Na Willa ketika berdialog dengan orang dewasa menggunakan high angle yang tingginya disesuaikan dengan mata orang dewasa di hadapan anak-anak. Dengan kesadaran semacam ini, sangat disayangkan sutradara, Ryan Adriandhy, justru terlalu banyak memberi porsi perhatian pada tokoh Ibu. Memang Na Willa sangat mengagumi ibunya. Dia ingin memiliki rambut yang bergelombang seperti ibunya. Namun, dalam film ini, semua kekaguman anak pada Ibu dieksekusi dengan pengambilan gambar yang sangat detail pada tokoh Ibu dengan ritme pergerakan kamera yang lambat. Ibu menjelma sebagai sosok yang sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki yang justru pergulatannya dalam berpikir dan bertindak menjadi fokus utama cerita.
Na Willa memang bukan film khusus anak. Ini adalah film keluarga yang adegannya berfokus pada gaya pengasuhan ibu. Ayah yang harus bekerja di dunia pelayaran membuat kehadirannya sering absen di rumah. Bahkan di awal film diceritakan Na Willa tidak tahu bahwa laki-laki itu adalah ayahnya. Ia mengira sang ayah adalah tamu atau orang asing di rumahnya sendiri. Saat ini fenomena fatherless juga terjadi. Ayah yang berperan mencari nafkah kadang tidak punya waktu bersama keluarga.
Dalam film ini, kehadiran ayah diwakili oleh surat-surat. Tempo dialog dan akting saat pembacaan surat-surat ini membuat film menjadi semakin terkesan lambat. Penonton anak-anak yang cenderung mudah bosan dan berharap keseruan adegan, akan memilih tertidur atau berlari keluar sebelum film selesai. Akhirnya, yang pernah menjadi kanak-kanaklah yang lebih tersentuh pada setiap adegan dalam film ini. Yang sudah mampu mengerti kehidupan dengan segala permasalahan dan kebermaknaanya bisa menikmati keindahan film Na Willa.
Dengan setting masa ’60-an, keluarga Na Willa sebetulnya termasuk keluarga menengah atas. Karena di masa itu, Indonesia sedang mengalami resesi ekonomi. Keterpurukan ekonomi di masa itu tidak terlihat dalam film. Na Willa memiliki seorang pembantu, setiap hari keluarganya masih bisa menggoreng bandeng, memiliki radio, selalu dibelikan buku-buku tebal bergambar penuh warna, serta baju-baju yang indah. Hiperinflasi di masa itu memang tidak tampak di film. Terlebih production design film memang memilih membuat segalanya berwana cerah dan ajaib sesuai dengan kacamata anak-anak. Pikiran, perasaan, dan imajinasi Na Willa pun dikonkretkan dalam bentuk animasi.
Cara pandang anak memang jauh berbeda dengan orang dewasa. Dalam buku Harmonium (2023) Budi Darma mengungkapkan perubahan cara pandangnya tentang jalan yang biasa ia lewati semasa kecil: “Sekarang setiap kali melewati jalan itu, saya heran bercampur kagum terhadap persepsi ruang dalam dunia kanak-kanak. Dunia kanak-kanak jauh lebih mulia, lebih bersih, dan lebih nikmat dibanding dengan dunia sesungguhnya.” Dalam film penonton bisa menyaksikan persepsi anak-anak terhadap dunia sama seperti yang dituliskan Budi Darma.
Yang paham sejarah, pasti bisa menduga bahwa keluarga Na Willa memang kaya. Tentu peran ayah yang bekerja keras membuat kehidupan Na Willa tidak perlu menderita. Ketiadaan ayah dalam rumah tetap membuktikan tanggung jawabnya pada keluarga. Sementara pengasuhan anak menjadi tanggungan ibu sepenuhnya. Ibu berperan di ranah domestik dalam pengaturan rumah tangga.
Yang menarik, pengasuhan dan pengajaran anak di rumah tetap dipegang oleh ibu. Na Willa tidak diasuh dan dididik pembantu. Pembantu hanya membantu pekerjaan ibu dalam mengurus rumah agar ibu tidak terlalu lelah. Kedekatan Na Willa dan Ibu mengundang haru. Gadis kecil itu sangat mengidolakan ibunya. Dalam film, penonton bisa melihat bahwa Ibu adalah madrasah pertama seorang anak.
Na Willa beruntung memiliki keluarga yang melek literasi. Ayah mengupayakan hadirnya buku-buku di rumah, sementara Ibu yang bertugas membacakan untuk Na Willa. Yang dilakukan ibu sebetulnya tidak sekadar membacakan kisah tetapi ia mengajari anaknya tentang bahasa yang utuh (whole language). Ketika Ayah memberi saran agar Ibu mengajari Na Willa membaca, sebetulnya hal itu sudah dilakukan saat ia membacakan cerita. Namun, memang pandangan konvensional menganggap bahwa belajar membaca akan sah jika anak sudah menghafal “fonik” yang merujuk pada hubungan antara simbol dan bunyi. Dalam film pun, akhirnya Ibu mengajari Na Willa untuk mengenal huruf. Namun, sejatinya Ibu Na Willa mengajar membaca dan menulis dengan menggunakan metode bahasa utuh.
Alfie Khon dalam buku Memilih Sekolah Terbaik Untuk Anak (2009) menjelaskan, “Guru bahasa utuh berlanjut dari asumsi bahwa ada sejumlah cara untuk membantu para pembaca pemula untuk memahami apa yang ada di suatu halaman. Anak-anak itu bisa mengikuti tulisan kata-katanya sementara orang lain membacakannya untuk mereka. Mereka bisa mengamati guru menuliskan kata-kata yang sudah dikenal atau bahkan mengambil pensil dan mencoba menuliskannya sendiri.”
Dengan metode yang dilakukan oleh ibunya, Na Willa ternyata bisa lebih cepat membaca dan menulis tanpa merasa tertekan dan kebingungan. Ibu sering mengajak Na Willa ke pasar alih-alih segera menyekolahkannya. Pasar menjadi tempat belajar. Stimulasi sensorik dan motorik terjadi di sana. Jadi secara tidak langsung Na Willa mengembangkan motorik kasar dan halusnya. Selain itu juga kemampuan kognitifnya dalam berpikir dan berbahasa. Ia memahami segala rupa aroma, mengecap rasa, merasakan tekstur dan suhu. Mengamati segala warna, bentuk, bahkan segala rupa peristiwa yang terjadi di sana. Setelah ia mampu membaca, Na Willa juga senang membaca plang nama toko dan iklan-iklan.
Belajar tidak harus di sekolah formal dengan guru. Ivan Illich dalam buku Bebas dari Sekolah (1982) menyebut, “Sekolah adalah lembaga yang didirikan berdasarkan aksioma bahwa pelajaran adalah hasil pengajaran. Dan kebijaksanaan lembaga tetap bersedia menerima aksioma ini, meskipun banyak sekali bukti-bukti kebalikannya. Kita semua mengalami bahwa bagian terbesar yang kita ketahui dipelajari di luar sekolah. Murid mempelajari sebagian besar pengetahuan mereka tanpa guru, malah kerap kali meskipun ada guru.”
Tentu, cerita tidak hanya tentang Na Willa. Di sana juga ada Bud, Farida, dan Dul. Mereka berempat senang bermain dan berlari. Meskipun mereka tinggal di gang sempit, tetapi lapangan memberi ruang yang nyaman dan leluasa utuk berteriak dan berkejaran. Mereka berempat dikisahkan tangguh.
Farida anak terakhir dari 8 bersaudara. Dengan jumlah anak yang terlalu banyak ternyata membuat perhatian orang tua kepada anak itu berkurang. Keberadaan Farida di rumah kerap tidak dipedulikan. Ia tidak pernah dicari meskipun belum pulang. Selain itu, karena jumlah anak yang terlalu banyak menimbulkan beban ekonomi bagi orang tua. Farida harus menyaksikan kakak perempuannya dinikahkan secara paksa padahal usianya masih sangat muda.
Bud memiliki ayah yang berprofesi seperti ayah Na Willa. Ia tumbuh dengan sedikit kehadiran ayah di rumah. Tapi berbeda dengan Na Willa, kasih sayang ibunya harus dibagi dengan adik Bud. Tentu saja sebagai anak yang lebih tua meskipun dia sendiri masih kecil tetap harus banyak mengalah kepada adiknya.
Lalu ada Dul, ia adalah anak yang pemberani. Dia senang berlari dengan cepat. Impiannya bisa mengalahkan kecepatan kereta. Namun, ia mengalami masa buruk di sekolah. Ia direndahkan oleh guru yang mengatakan dia lambat karena tidak bisa menulis. Dul kesulitan membaca dan menulis padahal ia yang paling awal bersekolah dibanding tiga orang temannya.
Film ini membawa penyadaran bahwa masih banyak hak-hak anak yang dilanggar dalam kehidupan. Meskipun hal tersebut tidak dikemas secara suram, film ini merupakan potret dari kenyataan bahwa Konvensi Hak-Hak Anak (1989) masih banyak dilanggar. Yayasan Aulia menerbitkan Aku Anak Dunia untuk mengingatkan kita bahwa, “Hak-hak anak melekat dalam diri anak. Hak-hak anak merupakan hak asasi manusia. Hak-hak anak menjamin hak asasi anak.” Artinya siapapun tidak boleh melanggar dan menghilangkannya. Anak harus tumbuh dengan rasa aman tanpa beban, terlindung dari segala bentuk kekerasan, dan tentu saja memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang dalam mencari jati diri, serta belajar dari pengalaman hidup mereka.
Peristiwa buruk terjadi, Dul tertabrak kereta dan kehilangan 1 kakinya. Keputusan aneh diambil oleh orang tua Farida dan Bud. Anak harus secepatnya masuk sekolah agar bisa membaca larangan dan tanda bahaya. Farida dan Bud akhirnya bersekolah di sekolah yang sama dengan Dul. Sementara, Ibu Na Willa belum ikhlas melepas anaknya bersekolah.
Na Willa kesepian, karena tidak punya teman untuk diajak bermain. Segala tingkah polah yang sebetulnya memang khas anak-anak tetapi dianggap “nakal” oleh orang dewasa akhirnya terus bermunculan. Membongkar radio yang masih tersambung listrik, mengambil piring makanan pembantunya dan meninggalkannya untuk ayam peliharaannya, dan menyeret seprei putih yang baru selesai dicuci di jalanan untuk digunakan sebagai mukena. Belum lagi Na Willa itu dari keluarga Kristiani tapi ikut mengaji dan mencoba salat. Kejadian-kejadian ini sebetulnya lucu, tetapi menguras emosi ibu. Sehingga hukuman demi hukuman harus diterima Na Willa.
Keputusan Na Willa bersekolah ada di tangan ibu. Menyerahkan anak ke sekolah untuk dididik dan mendapatkan pengajaran dari orang lain adalah hal terberat bagi Ibu. Kecermatan dalam memilih sekolah sangat penting untuk dipahami orang tua. Film ini memberi kritik tentang dunia pendidikan sekaligus penyadaran bagi siapa pun yang berkait dengan penyelenggaraan pendidikan.
Na Willa akhirnya masuk kekolah konvensional dengan cara pengajaran tradisional yang tidak ramah anak. Ia bertemu guru yang galak, otoriter, dan merendahkan pengetahuan serta kemampuan siswa. Sekolah yang tidak aman bagi anak-anak. Sekolah itu, juga tempat Bud, Farida, dan Dul belajar. Di awal film, sebelum peristiwa kecelakaan nahas, ada adegan saat Na Willa diminta untuk membaca tulisan “Pancasila” oleh Dul. Sekolah Dul sepertinya memang fokus untuk mengajarkan anak membaca dan menulis tanpa peduli pemaknaan. Mereka masih Taman Kanak-Kanak. Pancasila memang bisa dibaca dengan mengenali huruf demi huruf. Namun, apakah mereka memahami pemaknaannya? Oleh karena itu, saat Dul tertabrak kereta penonton bisa berasumsi bahwa Dul sudah bisa membaca kata bahaya atau larangan, tetapi tidak mampu menyikapi pemaknaan kata tersebut.
Alief Khon (2019) menyatakan sekolah semacam itu sebagai tempat yang mengerikan. “Tamannya anak-anak yang merupakan arti harafiah dari taman kanak-kanak. Di banyak tempat, TK telah berubah menjadi program persiapan kelas satu dengan instruksi yang sama untuk seluruh kelas, berpusat pada guru, perintah membaca formal, tugas tertulis dari lembar kerja siswa, dan penilaian yang sering. Hal ini dilakukan kepada anak berumur 5 tahun walaupun semua spesialis pendidikan anak usia dini memandang hal ini mengerikan.”
Maka penonton haru saat Ibu bersepeda untuk membela anaknya di sekolah. Karena ia yang paling berat melepas ternyata salah dalam memilih tempat menitipkan anak. Ibu menyadari harus memilih sekolah terbaik untuk anak. Ia mencari sekolah itu bersama Na Willa. Anak boleh menentukan tempat di mana ia nyaman untuk belajar. Film ini mengajukan kritik halus terhadap pola pendidikan anak di dalam keluarga, sekolah, hingga lingkaran pertemanan. Jangan sampai pendidikan justru mematikan empati dan kreativitas anak. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


