BACAAJA, SEMARANG – Densus 88 Antiteror menilai pencegahan ekstremisme pada anak tidak bisa hanya mengandalkan polisi. Peran orang tua di rumah dianggap jadi kunci agar anak tidak terjerumus ke kelompok radikal di internet.
Katim Semarang Raya Satgaswil Jateng Densus 88 Polri, Iptu Yusuf mengatakan sosialisasi yang mereka lakukan mulai menyasar keluarga. Tujuannya agar orang tua lebih waspada terhadap aktivitas anak, terutama di dunia digital.
“Sampai saat ini kami melihat kalau sosialisasi ini menyentuh orang tua, paling tidak (outputnya) ada rasa kewaspadaan di rumah,” ucapnya saat diskusi dan buka bersama di kantor bacaaja.co, Jumat (13/3/2026).
Bacaaja: Pengakuan Siswa SMAN 6 Semarang: Auto Melek Isu Radikalisme Usai Meet & Greet Densus
Bacaaja: Cerita Densus 88 Gagalkan Aksi Anak SMP di Jateng Mau Serang Teman
Menurut Yusuf, banyak orang tua sebenarnya tidak tahu anak mereka berinteraksi dengan siapa di internet. Bahkan ada yang baru sadar setelah mendapat penjelasan dari aparat.
“Di beberapa desa yang kami datangi, orang tua justru berterima kasih. Selama ini mereka tidak paham soal itu,” katanya.
Ia menjelaskan keluarga adalah lingkungan pengawasan paling kecil tapi paling penting. Jika orang tua tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya, maka paham ekstrem bisa masuk tanpa disadari.
“Kalau pengawasnya saja tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya, ini yang jadi celah,” jelas Yusuf.
Karena itu Densus mulai memberikan indikator sederhana kepada orang tua. Misalnya perubahan perilaku anak, aktivitas mencurigakan di internet, hingga ketertarikan pada konten kekerasan.
Harapannya, orang tua bisa lebih cepat mengenali tanda-tanda tersebut. Dengan begitu pengawasan di rumah bisa lebih ketat.
“Paling tidak orang tua bisa melihat, oh anak saya sudah mulai begini,” katanya.
Dalam beberapa sosialisasi di desa, warga bahkan mulai berani melaporkan temuan mencurigakan. Ada yang mengaku pernah menemukan perilaku serupa di lingkungan sekolah.
Informasi seperti itu kemudian ditindaklanjuti oleh aparat. Jika sudah berkaitan dengan ideologi tertentu, maka penanganannya juga melibatkan tokoh agama dan pihak terkait lainnya.
Menurut Densus, pencegahan ekstremisme memang harus dilakukan bersama. Mulai dari keluarga, sekolah, tokoh masyarakat hingga aparat keamanan.
Sebelumnya, Kanit Idensos Satgas Wilayah Jateng Densus 88, Lugito Gopar, menyebut ada 22 anak sekolah di Jawa Tengah yang terpapar paham intoleransi dan radikalisme.
Puluhan anak itu sudah lebih dulu mendapat pembinaan bersama aparat kewilayahan. Kasusnya tersebar di berbagai daerah seperti Pekalongan, Pemalang, Tegal, Banyumas, Semarang, Magelang, Solo, Jepara, hingga Kudus.
Menurut Gopar, sebagian besar paparan itu berasal dari media sosial. Anak-anak terhubung dengan konten atau grup yang mengarah pada kekerasan dan ideologi ekstrem. (*)


