BACAAJA, SEMARANG – Nama Andrie Yunus kembali jadi sorotan publik. Aktivis HAM yang dikenal vokal ini menjadi korban teror penyiraman air keras sepulang dari rekaman podcast remiliterisasi dan judicial review UU TNI di Kantor YLBHI Jakarta.
Siapa sebenarnya Andrie Yunus, sehingga suara-suara kritisnya coba dibungkam dengan teror?
Andrie Yunus dikenal sebagai advokat sekaligus aktivis hak asasi manusia yang aktif mengawal isu demokrasi dan kebebasan sipil di Indonesia.
Bacaaja: Aktivis KontraS Diteror Siram Air Keras, Begini Reaksi Kapolri
Bacaaja: Teror ke Ketua BEM UGM Bertubi, Giliran Dituding Gelapkan Uang
Saat ini ia terlibat dalam kerja advokasi bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
Sebelum aktif di KontraS, Andrie juga pernah bekerja di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, salah satu lembaga bantuan hukum yang sering menangani kasus-kasus pelanggaran HAM dan ketidakadilan hukum.
Di kalangan aktivis, Andrie dikenal sebagai sosok yang konsisten menyuarakan kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan, brutalitas aparat, hingga berbagai kebijakan negara yang dianggap berpotensi mengancam demokrasi.
Geruduk rapat Revisi UU TNI di hotel mewah
Nama Andrie makin ramai dibicarakan setelah aksinya bersama Koalisi Masyarakat Sipil yang menerobos rapat pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI di Hotel Fairmont Jakarta, pada Sabtu (15/3/2025) silam.
Rapat yang digelar oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia bersama pemerintah itu menuai kritik karena dilakukan secara tertutup.
Dalam aksi tersebut, Andrie dan sejumlah aktivis membentangkan poster penolakan serta menyuarakan protes langsung di ruang rapat.
Mereka menilai proses pembahasan revisi UU TNI tidak transparan dan berpotensi membuka jalan kembalinya konsep Dwifungsi ABRI, yang dulu sempat menjadi bagian dari praktik politik di era Orde Baru.
Aksi itu memang berlangsung singkat karena para aktivis kemudian digiring keluar oleh petugas keamanan. Namun momen tersebut sudah cukup untuk menarik perhatian publik.
Komitmen mengawal demokrasi
Bagi Andrie, aksi menerobos rapat tertutup bukan sekadar aksi spontan. Ia menilai pengawasan masyarakat sipil terhadap kebijakan negara adalah bagian penting dalam menjaga demokrasi.
Selama ini ia juga dikenal sering menulis opini kritis terkait penyimpangan kekuasaan, praktik kekerasan aparat, serta lemahnya perlindungan terhadap hak-hak warga negara.
Dengan rekam jejak advokasi yang panjang, Andrie menjadi salah satu figur aktivis muda yang cukup vokal di ruang publik.
Coba dibungkam dengan teror
Belakangan, nama Andrie kembali ramai diperbincangkan setelah ia menjadi korban teror penyiraman air keras, Kamis (12/3/2026) malam. Insiden ini memicu kekhawatiran banyak pihak terkait keselamatan para pembela HAM di Indonesia.
Kasus tersebut juga memantik reaksi dari berbagai organisasi masyarakat sipil yang mendesak agar pelaku segera diusut dan keamanan aktivis HAM lebih diperhatikan.
Bagi banyak orang, teror terhadap Andrie justru memperlihatkan satu hal: perjuangan aktivis HAM di Indonesia masih penuh risiko. Namun bagi Andrie Yunus, suara kritis tetap harus disuarakan, apa pun risikonya. (*)

