BACAAJA, SEMARANG – Gimana nih, sudah hampir dua pekan warga Kampung Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kota Semarang, hidup serba terbatas.
Penyebabnya, jembatan penghubung kampung putus sejak Kamis (15/1/2026) lalu. Jembatan hanyut bersamaan dengan derasnya arus sungai saat hujan.
Sejak itu, warga cuma bisa menyeberang Sungai Beringin pakai perahu atau getek seadanya. Mau tak mau, mereka keluar uang seikhlasnya buat jasa penyeberangan.
Bacaaja: Satu Ton Garam Disemai, Hujan di Jateng Dialihkan ke Laut Utara
Bacaaja: Cuaca Lagi Galak, Sekda Jateng Bilang: Tenang, Beras Masih Aman
Syakhshiatul, warga kampung sebelah, merasakan sulitnya menyebrang saat ada keperluan di Kampung Tambaksari. Ia harus menyeberang dengan menaiki getek bambu.
“Memang cukup miris sih. Soalnya ya gimana, aku juga takut naik getek, kayak takut kejebur juga,” ucapnya, Selasa (27/1/2026).
Tapi kesulitannya tidak seberapa. Sebab, warga Tambaksari jauh lebih sulit karena tiap hari harus menyeberang jika ada keperluan keluar kampung.
Warga Tambaksari harus pergi dari kampung jika mau belanja sayur.
Akses ibadah pun ikut terdampak. Saat Jumat kemarin, warga kesulitan menyeberang untuk salat Jumat karena masjid berada di seberang sungai.
Jembatan yang putus itu menghubungkan Kampung Tambaksari dan Kampung Ngebruk, di Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu.
Jembatan selebar sekitar tiga meter dengan panjang 15 meter itu selama ini jadi jalur utama warga. Jembatan tersebut dibangun swadaya sebagai akses sementara, sebelum akhirnya tak sanggup melawan derasnya sungai. (bae)


