BACAAJA, DEMAK- Pemprov Jateng memastikan ketersediaan pangan di wilayahnya tetap aman, meskipun cuaca ekstrem melanda sejumlah daerah dan Ramadan sudah di depan mata.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno menegaskan, pemerintah daerah terus memperkuat pengendalian harga sekaligus menjaga pasokan bahan pokok agar masyarakat tetap tenang.
“Masalah inflasi selalu kami pantau. Kalau ada gejolak, tentu kami ambil langkah untuk mengendalikan harga di Jawa Tengah,” ujar Sumarno usai menjadi narasumber di Studio I TVRI Jateng, Jalan Pucang Gading Raya, Mranggen, Kabupaten Demak, Selasa (20/1/2026).
Menurut Sumarno, hingga saat ini harga bahan pokok di Jawa Tengah masih relatif stabil. Pemerintah juga aktif menggandeng Bulog untuk memastikan pasokan tetap tersedia, terutama menghadapi lonjakan kebutuhan selama Ramadan.
Baca juga: Bulog Jamin Stok Beras di Jateng Aman Hingga Juni 2026
Ia mengakui, Ramadan memang punya “ritme ekonomi” yang beda. Aktivitas belanja naik, dapur makin sibuk, dan permintaan bahan pangan ikut ngebut. Karena itu, koordinasi lintas daerah sudah dilakukan sejak jauh hari.
Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga harian di pasar-pasar tradisional. Dari situ, pergerakan harga bisa dipantau secara real time.
“Pemantauan harga kami lakukan setiap hari. Kalau ada gejolak, langsung kami tindaklanjuti. Kenaikan harga mungkin nggak bisa dicegah sepenuhnya, tapi harus tetap terkendali,” katanya.
Dampak Terbatas
Terkait dampak cuaca ekstrem yang menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah seperti Pati, Jepara, Kudus, dan Grobogan, Sumarno menyebut dampaknya terhadap stok pangan masih terbatas. Pemerintah sudah melakukan pendataan lahan yang terdampak puso dan menyiapkan langkah perlindungan bagi petani.
“Kami sudah identifikasi dampak bencana dan menyiapkan asuransi untuk petani. Dampaknya ke stok pangan belum besar karena hanya terjadi di beberapa lokasi,” jelasnya.
Ia menambahkan, secara umum produktivitas pangan Jateng sepanjang 2025 masih memenuhi target yang ditetapkan pemerintah pusat. Bahkan, capaian ini menjadi langkah awal untuk mengokohkan Jateng sebagai salah satu penopang pangan nasional.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jateng, hingga November 2025 produktivitas padi mencapai 11.377.731 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau setara 9.397.904 ton Gabah Kering Giling (GKG). Produksi itu berasal dari luas tanam sekitar 2.025.782 hektare dengan luas panen 1.673.012 hektare.
Baca juga: Padi Jateng Diproyeksi Nanjak 5,5 Persen di 2026
Angka tersebut menempatkan Jateng sebagai tiga besar provinsi penyumbang pangan nasional, sebuah posisi strategis di tengah tantangan cuaca yang makin sulit ditebak.
Sebelumnya, Bulog Kanwil Jateng-DIY juga sudah memberi sinyal aman. Pimpinan Wilayah Bulog Jateng-DIY, Sri Muniati memastikan, stok beras di wilayah ini masih sangat cukup. Berdasarkan data Bulog, stok beras di Jateng saat ini mencapai 339.094 ton dan dipastikan aman hingga Juni 2026.
Cuaca boleh ekstrem, hujan boleh datang tanpa aba-aba. Tapi selama beras masih ada dan harga nggak bikin kaget di kasir, masyarakat Jateng bisa tetap fokus: siap-siap puasa, bukan siap-siap panik. (tebe)

