BACAAJA, SEMARANG- Pemkot Semarang memastikan akses layanan kesehatan gratis tetap kebuka lebar buat seluruh warga. Hasilnya kelihatan nyata: angka stunting berhasil dijaga tetap rendah.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang hingga cut-off Desember 2025, prevalensi stunting tercatat di angka 4,27 persen atau sekitar 2.593 balita. Capaian ini nggak datang tiba-tiba, tapi hasil dari layanan kesehatan ibu dan anak yang makin kuat, pemantauan tumbuh kembang rutin, plus edukasi gizi yang digencarkan sampai level keluarga.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menyebut, capaian ini sebagai bukti komitmen pemkot supaya nggak ada warga yang ke-skip soal urusan kesehatan. Menurutnya, sektor kesehatan itu bukan sekadar program tahunan, tapi investasi jangka panjang buat kualitas hidup warga.
Baca juga: Nataru Boleh Libur, Layanan Kesehatan Semarang Nggak Ikut Cuti
“Menjaga kesehatan warga adalah fondasi utama pembangunan Kota Semarang. Upaya pengendalian stunting dan tercapainya UHC 100 persen menunjukkan kebijakan kesehatan kami benar-benar diarahkan ke kebutuhan masyarakat, terutama sejak usia dini,” ujar Agustina, Rabu (21/1/2026).
Harus Terasa
Ia menegaskan, kebijakan kesehatan di Semarang nggak berhenti di laporan angka atau grafik presentasi. Targetnya jelas: layanan kesehatan harus benar-benar terasa di kehidupan sehari-hari warga.
“Supaya setiap warga Kota Semarang punya kesempatan tumbuh sehat dan hidup lebih produktif,” tambahnya. Menurut Agustina, pengendalian stunting dan tercapainya Universal Health Coverage (UHC) 100 persen sejalan dengan fokus pembangunan kesehatan di Semarang yang mengutamakan pencegahan, pemerataan layanan, dan perlindungan sosial.
Baca juga: Kader Posyandu Jadi Pahlawan Kesehatan, Pemkot Semarang Luncurkan Program “Lincah”
Dengan fondasi kesehatan yang kuat, ia optimistis kualitas sumber daya manusia Kota Semarang bakal terus naik dari tahun ke tahun. Di Semarang, ke puskesmas nggak bikin kantong kering. Yang kurus tinggal stuntingnya, bukan dompet warganya. (tebe)


