BACAAJA, SEMARANG – Banyak orang mengira kerja lingkungan tidak punya masa depan ekonomi.
Namun, kisah Sururi menunjukkan sebaliknya: saat lingkungan diberi ruang, ekonomi akan mengikuti.
Dari awal ia menanam mangrove, Sururi menyadari bahwa kerja sosial ini harus berkelanjutan secara ekonomi.
“Kalau tidak masuk ekonomi, saya mau makan apa? Mau bayar bank dari mana?” katanya.
Bacaaja: Sururi Profesor Mangrove Semarang: Wariskan Kelestarian Alam untuk Anak-Cucu
Bacaaja: Kenalan Sama Pak Sururi, Orang Biasa dengan Aksi Luar Biasa Jaga Pesisir Semarang
Dengan model bisnis sederhana, ia menjual bibit mangrove: bibit kosong Rp3.000 dan bibit paket tanam Rp5.000 dengan jaminan hidup satu tahun.
Ini bukan hanya soal jual beli bibit. Ia menetapkan standar bahwa setiap bibit harus hidup, dan siap menanggung jika ada yang mati.
Budaya tanggung jawab semacam itu membuat banyak pihak, dari CSR perusahaan hingga komunitas, mulai percaya dan berinvestasi pada penanamannya.
Dari pembibitan, usaha mangrove ini mampu menjadi sumber pendapatan tetap. Dalam satu bulan, penjualan bisa mencapai puluhan ribu bibit.
Uang itu bukan hanya menghidupi keluarga, tetapi juga membantu anak-anaknya menyelesaikan kuliah hingga S1.
Sururi punya enam anak, dan semua lulus kuliah. Dua di antaranya kini menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Anak lainnya bekerja di sektor swasta dengan penghasilan stabil.
“Ilmu dulu, harta akan mengikuti,” begitu falsafah Jawa yang ia pegang dan buktikan dalam kehidupan nyata.
Tantangan tentu tetap ada. Pandemi sempat membuat pasar mangrove anjlok drastis sampai tiga bulan tanpa pesanan.
Bibit numpuk dan penjualan jatuh. Tetapi ia tak menyerah. Bibit tetap ditanam, meski harus mengurangi makan jadi dua kali sehari demi tetap bayar angsuran.
Kisah Sururi menunjukkan bahwa kerja lingkungan yang tulus dan profesional bukan hanya memberi dampak ekologis, tetapi juga menghidupi keluarga dan membuka ruang penghidupan baru bagi banyak orang. (dul)

