Sulung Pamanggih, peternak Kambing. Tinggal di Bojongnangka, Pemalang.
“…kejahatan tidak selalu datang dari penjahat, dan kebaikan tidak selalu datang dari aparat penegak hukum.”
Suatu hari saat sedang menonton ulang filmnya Quentin Tarantino, pacar saya cemberut. Ia tampak tak senang menyaksikan adegan seorang polisi yang diiris telinganya. Saya menduga, ia kurang menyukai kekerasan dan lebih tertarik drama percintaan. Tapi mendengar komentarnya, saya sedikit terkejut.
“Film nggak mutu sama sekali, institusi kepolisian kok dihina begitu,” katanya. “Itu kan cuma film, lagi pula bukan di Indonesia,” saya berusaha menjawab. Beberapa saat kemudian saya sadar, ia anak seorang polisi dan adegan dalam Reservoir Dogs itu mungkin membuatnya kurang nyaman.
Di satu sisi, pacar saya ada benarnya juga. Janganlah kita berharap menemukan sosok polisi yang heroik dalam film-film bikinan Tarantino. Misalnya seorang polisi menyelamatkan anak kucing yang kedinginan di tengah jalan, atau seorang polisi yang punya semangat jiwa menolong tinggi. Sebaliknya, polisi dalam dunia Tarantino jadi semacam olok-olok. Kalau tidak brengsek, ya sial.
Bayangkan seorang perampok menyekap polisi dan menyiksanya sambil berjoget diiringi Stuck In The Middle With You dari Stealers Wheel yang mengalun dari radio. Bahkan saat telinga itu diiris, Mr. Blonde masih sempat-sempatnya berbisik di depan telinga berlumur darah yang ada di genggamannya itu, lalu berkata, “You hear me?”
Selain adegan dalam Reservoir Dogs yang sulit dilupakan itu, di Pulp Fiction Tarantino juga menampilkan polisi Zed dan kawannya yang bareng-bareng menyodomi preman. Seolah-olah menggambarkan bahwa aparat yang mestinya sebagai pelindung, justru mirip pemangsa liar.
Sementara dalam Kill Bill, meski kemunculannya singkat, sheriff yang memeriksa lokasi pembantaian gereja malah dapat semburan darah dari mulut Beatrix Kiddo yang dikira sudah jadi mayat.
Jika Hollywood tampak sibuk mempercantik citra penegak hukum; bagaimana misalnya agen FBI membongkar kejahatan demi kejahatan, Tarantino memberi pemandangan yang agak berbeda, seolah ia sedang menepuk bahu kita bahwa moralitas tak muncul dari seragam, tapi ia tumbuh sebagai pribadi dalam diri manusia. Di sisi lain, Tarantino memang punya gaya.
Bukan berarti tidak ada film yang menghadirkan citra baik polisi. Aksi heroik kepolisian sebenarnya juga banyak dikemas dalam film Tanah Air. “Sayap-Sayap Patah”, “Brata”, atau serial “Rencana Besar” yang tayang di Prime Vidio misalnya. Polisi digambarkan nyaris sempurna. Hampir tidak ada kita jumpai polisi yang penanganan kasusnya lambat, misalnya.
Meski realitasnya di negara ini lembaga kepolisian mendapat ketidakpercayaan publik lumayan besar. Survei Indikator yang dirilis bulan November ini menunjukan data tersebut. Polri menempati urutan kedua setelah DPR dalam urusan mengantongi ketidakpercayaan publik.
Sebuah cerita laga memang perlu ada jagoan dan sosok jahat. Dan polisi sebagai aparat penegak hukum, menjadi gambaran yang manis dan ideal untuk ditempatkan di panggung itu.
Kecuali, tentu saja film-film Tarantino. Mungkin ia tahu satu hal yang enggan kita akui: bahwa kejahatan tidak selalu datang dari penjahat, dan kebaikan tidak selalu datang dari aparat penegak hukum. Maka ia mengubahnya menjadi semacam humor pahit, sebuah cara untuk mengatakan bahwa hidup tak sehitam putih film laga. Terkadang, justru banyolan gelaplah yang paling mendekati kejujuran.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

