Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Bagaimana Quentin Tarantino Mengolok-olok Polisi di Film-Filmnya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Bagaimana Quentin Tarantino Mengolok-olok Polisi di Film-Filmnya

Redaktur Opini
Last updated: November 28, 2025 7:53 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Sulung Pamanggih, peternak Kambing. Tinggal di Bojongnangka, Pemalang.

“…kejahatan tidak selalu datang dari penjahat, dan kebaikan tidak selalu datang dari aparat penegak hukum.”

Suatu hari saat sedang menonton ulang filmnya Quentin Tarantino, pacar saya cemberut. Ia tampak tak senang menyaksikan adegan seorang polisi yang diiris telinganya. Saya menduga, ia kurang menyukai kekerasan dan lebih tertarik drama percintaan. Tapi mendengar komentarnya, saya sedikit terkejut.

“Film nggak mutu sama sekali, institusi kepolisian kok dihina begitu,” katanya. “Itu kan cuma film, lagi pula bukan di Indonesia,” saya berusaha menjawab. Beberapa saat kemudian saya sadar, ia anak seorang polisi dan adegan dalam Reservoir Dogs itu mungkin membuatnya kurang nyaman.

Di satu sisi, pacar saya ada benarnya juga. Janganlah kita berharap menemukan sosok polisi yang heroik dalam film-film bikinan Tarantino. Misalnya seorang polisi menyelamatkan anak kucing yang kedinginan di tengah jalan, atau seorang polisi yang punya semangat jiwa menolong tinggi. Sebaliknya, polisi dalam dunia Tarantino jadi semacam olok-olok. Kalau tidak brengsek, ya sial.

Bayangkan seorang perampok menyekap polisi dan menyiksanya sambil berjoget diiringi Stuck In The Middle With You dari Stealers Wheel yang mengalun dari radio. Bahkan saat telinga itu diiris, Mr. Blonde masih sempat-sempatnya berbisik di depan telinga berlumur darah yang ada di genggamannya itu, lalu berkata, “You hear me?”

Selain adegan dalam Reservoir Dogs yang sulit dilupakan itu, di Pulp Fiction Tarantino juga menampilkan polisi Zed dan kawannya yang bareng-bareng menyodomi preman. Seolah-olah menggambarkan bahwa aparat yang mestinya sebagai pelindung, justru mirip pemangsa liar.

Sementara dalam Kill Bill, meski kemunculannya singkat, sheriff yang memeriksa lokasi pembantaian gereja malah dapat semburan darah dari mulut Beatrix Kiddo yang dikira sudah jadi mayat.

Jika Hollywood tampak sibuk mempercantik citra penegak hukum; bagaimana misalnya agen FBI membongkar kejahatan demi kejahatan, Tarantino memberi pemandangan yang agak berbeda, seolah ia sedang menepuk bahu kita bahwa moralitas tak muncul dari seragam, tapi ia tumbuh sebagai pribadi dalam diri manusia. Di sisi lain, Tarantino memang punya gaya.

Bukan berarti tidak ada film yang menghadirkan citra baik polisi. Aksi heroik kepolisian sebenarnya juga banyak dikemas dalam film Tanah Air. “Sayap-Sayap Patah”, “Brata”, atau serial “Rencana Besar” yang tayang di Prime Vidio misalnya. Polisi digambarkan nyaris sempurna. Hampir tidak ada kita jumpai polisi yang penanganan kasusnya lambat, misalnya.

Meski realitasnya di negara ini lembaga kepolisian mendapat ketidakpercayaan publik lumayan besar. Survei Indikator yang dirilis bulan November ini menunjukan data tersebut. Polri menempati urutan kedua setelah DPR dalam urusan mengantongi ketidakpercayaan publik.

Sebuah cerita laga memang perlu ada jagoan dan sosok jahat. Dan polisi sebagai aparat penegak hukum, menjadi gambaran yang manis dan ideal untuk ditempatkan di panggung itu.

Kecuali, tentu saja film-film Tarantino. Mungkin ia tahu satu hal yang enggan kita akui: bahwa kejahatan tidak selalu datang dari penjahat, dan kebaikan tidak selalu datang dari aparat penegak hukum. Maka ia mengubahnya menjadi semacam humor pahit, sebuah cara untuk mengatakan bahwa hidup tak sehitam putih film laga. Terkadang, justru banyolan gelaplah yang paling mendekati kejujuran.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Transisi Energi atau Transisi Bencana?

Semasa Kecil di Sawah

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Meretas Kesadaran Kelas di Tengah Ilusi Ekonomi Pro-Rakyat

Krisis Bikinan Itu Bernama Krisis Sampah

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article 2026, Status Honorer Guru Semarang Resmi Tamat
Next Article Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Konflik PBNU, Gus Yahya: Mari Selesaikan Baik-baik Lewat Muktamar

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

KOORDINASI--Sudewo Bupati Pati nonaktif, berkoordinasi dengan penasihat hukumnya di ruang sidang, Senin (29/6/2026). (bae)

Kubu Sudewo Salahkan Pengawal KPK: Kericuhan Dipicu Ulah Petugas

FPP Undip dan Pertamina Bikin KKN Naik Kelas di Pedurungan

HADANG MOBIL--Ribuan massa pendukung Sudewo, Bupati Pati nonaktif, menghadang mobil tahanan yang mengangkut junjungannya di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (29/6/2026). (bae)

Eksepsi Sudewo Ditolak Hakim, Massa Pendukung Ngamuk Cegat Mobil Tahanan

Ngaji Pancasila: IKAL Lemhannas Ajak Anak Muda Jadikan Pancasila Gaya Hidup

MINTA MAAF--Pengawal tahanan KPK, Rusli minta maaf kepada massa jika tangannya tak sengaja mengenai Sudewo, Senin (29/6/2026). (bae)

Isu Sudewo Dipukul Bikin Pendukung Marah, Pengawal KPK Minta Maaf: Bukan Maksud Saya Sengaja

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Bersama-sama Tapi Sendiri

November 19, 2025
Opini

Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?

Maret 27, 2026
Opini

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Desember 16, 2025
Opini

Teguran dari Muhammad Iqbal Terkait Agama, Iman, dan Kemiskinan

Januari 12, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bagaimana Quentin Tarantino Mengolok-olok Polisi di Film-Filmnya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?