Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Bersama-sama Tapi Sendiri
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Bersama-sama Tapi Sendiri

Redaktur Opini
Last updated: November 19, 2025 8:25 am
By Redaktur Opini
5 Min Read
Share
SHARE

Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS)

“Smartphone seperti cermin yang terus memantulkan kehidupan orang lain, sementara pantulan diri sendiri semakin kabur.”

Kapan terakhir kali kamu menikmati senja tanpa menatap layar?

Ini masalah saya, mungkin juga dialami oleh orang lain. Sebagian hidup saya, saya habiskan untuk bermain media sosial. Saya punya akun instagram, dan mengelola beberapa akun instragram organisasi. Saya juga memiliki akun youtube, facebook, pinterest, whatsapp. Saya juga punya akun marketplace. Selain yang saya sebutkan tadi, saya juga bekerja menggunakan canva dan capcut. Saya menonton film di netflik. Berbagai aplikasi tersebut merenggut waktu saya.

Belum cukup sampai di situ. Sekarang ini pembayaran serba cashless. Pernah suatu ketika saya masuk ke sebuah cafe. Saya memesan beberapa menu. Saat pembayaran saya mengeluarkan uang. Sang kasir bilang cashless. Uang yang saya bawa tidak laku. Pada saat itu saya belum tahu caranya membayar secara online. Bingunglah saya harus bagaimana, untung pada waktu itu ada teman yang kenal sehingga dia dapat membantu saya.

Hal yang sama juga terjadi saat saya mau membayar ongkos travel. Saya sudah datang membawa uang cash, tetapi mereka mengharuskan pembayaran via online. Akhirnya saya berjalan cukup jauh ke Indomaret untuk membayar ongkos travel itu. Parkir, tol, hampir semua kini bisa dibayar via online. Dengan demikian keberadaan smartphone semakin krusial. Rasanya lebih berat puasa nasi dibanding puasa smartphone.

Waktu saya untuk smartphone lebih banyak dibanding untuk istri saya sendiri, apalagi untuk anak-anak saya. Sepulang kerja saya pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga. Namun, masing-masing dari kami sama-sama sibuk dengan smartphone masing-masing. Ada obrolan hanya sedikit-sedikit.

Kalaupun akhirnya kami mengobrol, (istirahat ber-HP) yang jadi bahan obrolan kami juga apa-apa yang kami lihat dan kami baca di media sosial. Saya jadi teringat pendapat Sherry Turkle dalam bukunya Alone Together: Why We Expect More From Technology and Less From Each Other (2011), teknologi membuat manusia ‘bersama-sama tapi sendiri’—terhubung secara digital, tapi terputus secara emosional. Wah, bahaya nih!

Menurut saya dampak yang paling buruk dari smartphone dan perangkatnya ialah saya dipaksa mengetahui lebih banyak informasi yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Berita-berita berseliweran di mana-mana tanpa saya minta melalui jendela-jendela yang terbuka. Informasi itu memaksa saya untuk turut memikirkannya. Energi saya terkuras oleh informasi-informasi itu.

Tidak jarang saya bertengkar dengan istri saya lantaran memperdebatkan informasi yang muncul di media sosial yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kehidupan kami. Smartphone seperti cermin yang terus memantulkan kehidupan orang lain, sementara pantulan diri sendiri semakin kabur.

Laporan Digital 2025 Indonesia yang dirilis oleh We Are Social dan Meltwater menyebutkan, rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari delapan jam per hari di depan layar, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan tingkat penggunaan media sosial tertinggi di dunia.

Smartphone tidak selalu buruk, hal baik yang diberikannya ialah ia selalu menemani ketika saya sendirian sehingga saya tidak kesepian. Menjelang tidur atau setelah tidur saya bisa membuka salah satu aplikasi di smartphone. Waktu jeda antara satu kegiatan dengan kegiatan lain saya juga terhibur berbagai tayangan di Youtube atau Instagram.

Menunggu menjadi hal yang tidak membosankan karena adanya smartphone. Saya pernah mengalami delay pesawat. Pesawat yang harusnya terbang pukul enam pagi harus ditunda sampai pukul dua siang karena masalah cuaca. Tidak ada orang yang saya kenal sama sekali di bandara itu.

Saya bukan orang yang pandai bergaul dan dapat mengobrol secara random dengan orang yang baru saya temui. Akhirnya di bandara itu, menghadap cakrawala yang keruh dan mendung, saya duduk di sebuah kursi, tas di samping saya, dan teh poci hangat yang saya pesan di kedai di dalam bandara, ada di hadapan saya. Di dalam tas sebenarnya ada buku, tetapi saya memilih membuka smartphone, beralih dari satu akun ke akun yang lain. Melihat status-status teman.  Pada saat seperti ini, hal yang paling saya khawatirkan adalah menipisnya cadangan baterai. Untung saja bandara itu menyediakan colokan listrik. Waktu berlalu dalam damai.

Kita harus sadar bahwa smartphone hanyalah alat. Kita gunakan sesuai dengan keperluan kita saja. Jika sudah mulai mengganggu, letakkan dulu. Toh banyak juga orang yang bisa hidup tanpa smartphone.

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

 

You Might Also Like

Rindu Masa Kecil Padahal Dulu Ingin Cepat Dewasa

CEO yang Menyamar dan Fantasi Kenaikan Kelas

Prabowo dan Trump, Kedekatan Tapi Tanpa Pengaruh

Belajar Mengendalikan Nafsu dari Filsuf Epicurus

Rabiah dan Seni Mencintai Tuhan

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Sembiz 2025, Langkah Semarang Nge-boost Investasi
Next Article Tanah Labil dan Kubangan Air Ganggu Operasi SAR Pandanarum

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Tangkapan layar siaran berita debut dua sopir bus profesional asal Indonesia di Jepang, yang berangkat melalui program JIDS.

Pecah Rekor! Lulusan JIDS Jadi Sopir Bus Perempuan Asing Pertama di Jepang

Kepala Disbudpar Kota Semarang

Lebaran Monyet di Gua Kreo: Kera Berpesta di Sesaji Rewanda, Wisatawan Ikutan Seru-seruan

Niacinamide Bukan Selalu Jawaban, Ini Tiga Kondisi Stop Dulu

Banjir Brebes Gak Cuma Soal Hujan, Menteri PU: Beresi Muara Dulu

PSIS vs Persipal, Laga Hidup Mati di Jatidiri

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Pajak dan Kisah Suami-Istri

Februari 16, 2026
Opini

NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana

Februari 3, 2026
Opini

Cara Terbaik Seorang Istri Memahami Suami yang Hobi Memancing

Januari 14, 2026
Opini

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Desember 17, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Bersama-sama Tapi Sendiri
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?