BACAAJA, JOHOR – Kasus yang satu ini bikin banyak orang nggak habis pikir. Seorang bocah berusia sembilan tahun di Johor, Malaysia, nekat menyerang adik kandungnya gara-gara game Roblox.
Insiden itu terjadi di Kampung Parit Nipah Laut pada Senin (27/10) pagi. Bocah tersebut diduga kehilangan kendali setelah ponsel yang ia pakai untuk bermain rusak—dan yang merusaknya ternyata adiknya sendiri.
Menurut laporan New Straits Times yang terbit Rabu (29/10), Kepala Kepolisian Johor, Datuk Ab Rahaman Arsad, menjelaskan bahwa sang bocah diketahui sangat kecanduan Roblox. Ia bahkan sudah mengumpulkan hampir sejuta poin sebelum semua progresnya hilang dalam sekejap.
“Waktu diperiksa, anak itu bilang sempat kayak dengar suara yang nyuruh dia nyerang keluarganya,” ujar Ab Rahaman.
Sontak, bocah itu pun mengambil pisau dan melukai adiknya yang baru berusia enam tahun. Untungnya, nyawa sang adik berhasil diselamatkan dan kini sedang dirawat di Rumah Sakit Sultanah Nora Ismail. Kondisinya dikabarkan stabil, tapi masih dalam pengawasan ketat dokter.
Pihak kepolisian belum bisa meminta keterangan dari korban karena kondisinya yang belum pulih sepenuhnya. Mereka masih menunggu waktu yang tepat agar semuanya bisa dijelaskan secara utuh.
Sementara itu, kedua orang tua bocah tersebut juga ikut dimintai keterangan. Usia mereka sekitar 40-an, dan kini masih dalam proses pemeriksaan polisi.
Kasus ini ternyata nggak cuma berhenti di tindakan sang anak. Orang tuanya juga diselidiki dengan dugaan kelalaian pengasuhan berdasarkan Pasal 31(1)(a) Undang-Undang Anak 2001, serta Pasal 326 KUHP karena menyebabkan luka berat.
Kini, baik pelaku maupun korban sama-sama berada di bawah pengawasan Departemen Kesejahteraan Sosial Malaysia untuk pemulihan dan evaluasi psikologis.
Polisi Johor menegaskan, penyelidikan masih berlanjut. Mereka ingin memastikan kondisi mental bocah tersebut dan mencari tahu apakah ada faktor lain selain kecanduan game yang memicu amarahnya.
Kasus ini sekaligus jadi alarm buat para orang tua. Dunia digital memang seru, tapi tanpa batas dan pengawasan, bisa berubah jadi bumerang yang mengerikan. (*)


