Oleh: Abdullah Ulul Albab || Santri, alumni Ponpes Al-Islam Joresan, Ponorogo, bermukim di Semarang
Pondok pesantren seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi bangsa yang saleh, cerdas, dan berakhlak mulia. Namun, kadang realitas di lapangan justru menunjukkan ironi yang bikin miris.
Lembaga yang diharapkan jadi benteng moral bangsa kini malah jadi sumber kekhawatiran baru bagi para orang tua yang menitipkan anak-anaknya.
Kasus demi kasus muncul ke permukaan —mulai dari kekerasan, penyalahgunaan dana, sampai runtuhnya bangunan yang menelan korban jiwa seperti tragedi di Ponpes Al-Khoziny.
Pertanyaannya: apakah ini murni takdir, atau ada yang salah dengan sistem yang selama ini dibiarkan berjalan begitu saja?
Indonesia dikenal sebagai “surganya santri”, dengan puluhan ribu pondok pesantren tersebar di seluruh negeri.
Pesantren memang punya keunikan tersendiri —perpaduan antara ilmu agama dan pembentukan karakter yang jarang dijumpai di sekolah formal.
Namun, keunggulan ini mulai tergerus oleh praktik-praktik lama yang masih dipertahankan tanpa evaluasi kritis.
Banyak pesantren masih menganut sistem nderek atau pengabdian, di mana santri diwajibkan membantu operasional pesantren —dari membangun gedung, menggarap sawah, hingga mengurus ternak.
Padahal, tugas utama santri adalah belajar, bukan jadi tenaga kerja gratis demi kelangsungan pondok.
Yang lebih berbahaya, sistem ini sering dijalankan tanpa standar keselamatan. Santri yang seharusnya fokus pada pengembangan intelektual dan spiritual justru dihadapkan pada risiko fisik yang seharusnya bisa dihindari.
Ketika tragedi terjadi —bangunan roboh atau kecelakaan kerja— barulah disadari bahwa “pembelajaran langsung” ini sebenarnya lebih dekat dengan eksploitasi daripada pendidikan karakter.
Masalah lain adalah kurangnya transparansi dari pengelola pesantren. Saat orang tua mendaftarkan anaknya, jarang sekali ada penjelasan detail tentang sistem pendidikan, termasuk seberapa besar keterlibatan santri dalam pekerjaan fisik.
Akibatnya, banyak orang tua tidak punya gambaran utuh tentang apa yang akan dialami anak mereka di pondok.
Selain itu, lemahnya standarisasi dan minimnya pengawasan dari pemerintah membuat banyak pesantren berjalan tanpa sistem manajemen yang baik.
Bantuan yang tidak merata, ditambah pengawasan yang longgar, menciptakan celah besar bagi praktik yang bisa membahayakan keselamatan santri.
Bukan Takdir, tapi Pilihan Sistem
Setiap kali tragedi terjadi, alasan yang paling sering muncul adalah “sudah takdir Allah”. Padahal, takdir tidak pernah membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk berikhtiar.
Bangunan roboh bukan karena takdir, tapi karena kualitas konstruksi yang buruk dan pengawasan yang lemah.
Santri terluka saat bekerja bukan karena takdir, tapi karena sistem yang memaksa mereka mengerjakan hal yang seharusnya dilakukan oleh tenaga profesional.
Langkah Perbaikan yang Mendesak
Sudah waktunya pemerintah dan pengelola pesantren melakukan reformasi menyeluruh.
Standar bangunan harus jelas, sistem pengawasan harus ketat, dan transparansi wajib ditegakkan. Pengasuh pondok pun perlu terbuka sejak awal soal sistem pendidikan yang diterapkan, supaya orang tua bisa memilih dengan sadar.
Yang paling penting, berhentilah bersembunyi di balik kata “takdir” untuk menutupi kelalaian manusia.
Tragedi Ponpes Al-Khoziny adalah pengingat keras bahwa kesalehan tidak boleh menyingkirkan keselamatan.
Generasi yang berakhlak mulia tidak akan lahir dari sistem yang abai terhadap kesejahteraan santrinya sendiri. (*)


