Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Tragedi robohnya suara Ponpes Al Khoziny bukan soal takdir, melainkan alarm bagi sistem di pondok pesantren. Utamanya, soal keamanan bangunan gedung.

R. Izra
Last updated: Oktober 7, 2025 6:15 pm
By R. Izra
4 Min Read
Share
Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jatim, roboh.
Musala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jatim, roboh.
SHARE

Oleh: Abdullah Ulul Albab || Santri, alumni Ponpes Al-Islam Joresan, Ponorogo, bermukim di Semarang

Contents
Bukan Takdir, tapi Pilihan SistemLangkah Perbaikan yang Mendesak

Pondok pesantren seharusnya menjadi tempat lahirnya generasi bangsa yang saleh, cerdas, dan berakhlak mulia. Namun, kadang realitas di lapangan justru menunjukkan ironi yang bikin miris.

Lembaga yang diharapkan jadi benteng moral bangsa kini malah jadi sumber kekhawatiran baru bagi para orang tua yang menitipkan anak-anaknya.

Kasus demi kasus muncul ke permukaan —mulai dari kekerasan, penyalahgunaan dana, sampai runtuhnya bangunan yang menelan korban jiwa seperti tragedi di Ponpes Al-Khoziny.

Pertanyaannya: apakah ini murni takdir, atau ada yang salah dengan sistem yang selama ini dibiarkan berjalan begitu saja?

Indonesia dikenal sebagai “surganya santri”, dengan puluhan ribu pondok pesantren tersebar di seluruh negeri.

Pesantren memang punya keunikan tersendiri —perpaduan antara ilmu agama dan pembentukan karakter yang jarang dijumpai di sekolah formal.

Namun, keunggulan ini mulai tergerus oleh praktik-praktik lama yang masih dipertahankan tanpa evaluasi kritis.

Banyak pesantren masih menganut sistem nderek atau pengabdian, di mana santri diwajibkan membantu operasional pesantren —dari membangun gedung, menggarap sawah, hingga mengurus ternak.

Padahal, tugas utama santri adalah belajar, bukan jadi tenaga kerja gratis demi kelangsungan pondok.

Yang lebih berbahaya, sistem ini sering dijalankan tanpa standar keselamatan. Santri yang seharusnya fokus pada pengembangan intelektual dan spiritual justru dihadapkan pada risiko fisik yang seharusnya bisa dihindari.

Ketika tragedi terjadi —bangunan roboh atau kecelakaan kerja— barulah disadari bahwa “pembelajaran langsung” ini sebenarnya lebih dekat dengan eksploitasi daripada pendidikan karakter.

Masalah lain adalah kurangnya transparansi dari pengelola pesantren. Saat orang tua mendaftarkan anaknya, jarang sekali ada penjelasan detail tentang sistem pendidikan, termasuk seberapa besar keterlibatan santri dalam pekerjaan fisik.

Akibatnya, banyak orang tua tidak punya gambaran utuh tentang apa yang akan dialami anak mereka di pondok.

Selain itu, lemahnya standarisasi dan minimnya pengawasan dari pemerintah membuat banyak pesantren berjalan tanpa sistem manajemen yang baik.

Bantuan yang tidak merata, ditambah pengawasan yang longgar, menciptakan celah besar bagi praktik yang bisa membahayakan keselamatan santri.

Bukan Takdir, tapi Pilihan Sistem

Setiap kali tragedi terjadi, alasan yang paling sering muncul adalah “sudah takdir Allah”. Padahal, takdir tidak pernah membebaskan manusia dari tanggung jawab untuk berikhtiar.

Bangunan roboh bukan karena takdir, tapi karena kualitas konstruksi yang buruk dan pengawasan yang lemah.

Santri terluka saat bekerja bukan karena takdir, tapi karena sistem yang memaksa mereka mengerjakan hal yang seharusnya dilakukan oleh tenaga profesional.

Langkah Perbaikan yang Mendesak

Sudah waktunya pemerintah dan pengelola pesantren melakukan reformasi menyeluruh.

Standar bangunan harus jelas, sistem pengawasan harus ketat, dan transparansi wajib ditegakkan. Pengasuh pondok pun perlu terbuka sejak awal soal sistem pendidikan yang diterapkan, supaya orang tua bisa memilih dengan sadar.

Yang paling penting, berhentilah bersembunyi di balik kata “takdir” untuk menutupi kelalaian manusia.
Tragedi Ponpes Al-Khoziny adalah pengingat keras bahwa kesalehan tidak boleh menyingkirkan keselamatan.

Generasi yang berakhlak mulia tidak akan lahir dari sistem yang abai terhadap kesejahteraan santrinya sendiri. (*)

You Might Also Like

Ketika Wakil Rakyat Merasa Tersaingi Rakyatnya Sendiri

Menimbang Dampak Ketergantungan Manusia terhadap Akal Imitasi

Reklamasi sebagai Kunci Resiliensi

Dalang di Balik Perpecahan PPP dan Bayangan Jokowi

NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana

TAGGED:al khozinyalarmkualitas sistem pesantrensistem pesantrentragedi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Menko PMK yang juga Ketua Umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin. Cak Imin Minta Tradisi Santri Nguli di Pesantren Dikaji: Gak Boleh Bangun Gedung Tanpa Izin
Next Article Wali Kota Solo, Respati Ardi. Wali Kota Solo Ajak Dapur MBG Belanja ke Pasar Tradisional: Biar Ekonominya Muter!

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mohammad Saleh: BUMD Jangan Cuma Numpang Nama, Saatnya Fokus Nambah PAD

Kolaborasi Riset: Dari Sampah Jadi Energi, Dari Beasiswa Jadi Solusi

Jepara Diterjang Longsor (Lagi): Akses Damarwulan-Tempur Putus Total

Gedung Sekolah Jadi ‘Mesin Uang’? Cara Jateng Bikin Aset Jadi Sumber Cuan

Kota Lama Semarang Moncer, Kunjungan Wisatawan Naik 24,7 Persen saat Lebaran

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?

Maret 27, 2026
Opini

Pasar Spekulatif dan Batas Rasionalitas Ekonomi

Februari 26, 2026
Opini

Pada Sebuah Cakram Padat Leonard Cohen

Desember 5, 2025
Opini

Secuil Cerita dari Sebuah Museum di Kota Lama Semarang

Februari 24, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?