Iksaka Banu adalah penulis prosa, praktisi desain dan periklanan.
“…cerita tunggal yang terus diulang dalam melihat asal usul seseorang atau suatu bangsa, sering kali bisa melahirkan cara pandang klise yang menyesatkan.”
Band Blackened Death Metal ekstrem asal Austria, Belphegor, tampil di hari kedua Rock In Solo 2025, 23 November 2025. Namun, aksi pertama mereka ketika mendarat di Solo adalah … berfoto di depan gerumbul pohon pisang.
Kata mereka, selama ini hanya tahu buah pisang tetapi belum pernah melihat pohon pisang seperti yang kerap mereka lihat di foto-foto tentang negara tropis. Agaknya, bagi mereka berfoto di depan pohon pisang lebih menegaskan petualangan pergi jauh ke “Eastern World” dibandingkan berfoto di depan gedung-gedung bertingkat di Jakarta.
Seorang teman saya dari Belanda, kebalikannya, merasa terkejut ketika tiba di Jakarta dan disambut oleh jalan tol lebar, gedung-gedung menjulang tinggi, LRT (Lintas Raya Terpadu) dan MRT (Moda Raya Terpadu).
Dalam pikirannya, Jakarta atau Indonesia adalah sebuah daerah yang indah permai dengan pantai landai yang dipenuhi jajaran pohon nyiur melambai. Persis seperti lukisan-lukisan Mooi Indie yang dibekukan dalam album sejarah Hindia.
Ini mengingatkan saya kepada Chimamanda Ngozi Adichie, penulis dan ahli poskolonial asal Nigeria, yang suatu kali juga dihadapkan kepada pengalaman “The Western Gaze” alias kebiasaan cara pandang Barat yang menurut ia menggelikan.
Ketika berusia 19 tahun, gadis itu mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat. Teman sekamar Ngozi, seorang mahasiswi berkulit putih, takjub melihat wajah, bibir, dan rambut kriwil Ngozi, tetapi lebih takjub lagi setelah mengetahui bahwa Ngozi bisa bicara bahasa Inggris dengan sangat fasih.
“Ia tidak tahu bahwa bahasa nasional kedua di Nigeria adalah bahasa Inggris,” kata Ngozi. “Dan ia semakin frustrasi melihat saya bisa mendendangkan lagu Mariah Carey dengan lancar.”
Ngozi mengenang, “Ia mengira bahwa Nigeria, seperti yang juga menjadi gambaran umum dunia tentang kami, melulu hutan lebat dan kami tinggal di rumah-rumah gubuk mengenakan cawat seperti di film-film Hollywood.”
Nah, tapi tahukah Anda, bahwa kita orang Timur juga punya pandangan stereotype tentang Dunia Barat? Seorang rekan saya yang belum pernah ke luar negeri kebetulan mendapat kesempatan berkunjung untuk suatu acara kesenian di New York, Amerika Serikat.
Gegar budaya yang ia hadapi bukanlah gedung-gedung pencakar langit melainkan para “homeless” alias gembel yang tidur bergelimpangan di depan toko atau di taman. Juga bau pesing dan sampah yang berserakan.
Walau demikian, tentu saja ia memilih berfoto bak pesohor di tempat-tempat yang mewakili “peradaban Barat” seperti Broadway Theater, Wall Street, atau Fifth Avenue yang gilang gemilang.
Mengapa? Karena demikianlah “Dunia Barat” yang telanjur ia hikmati selama ini. Sulit mengubahnya. Persis seperti foto-foto atau kartu pos atau film yang ia saksikan sejak kecil.
“Itulah perlunya mempelajari sejarah yang tidak tunggal,” kata Ngozi. “Menghindarkan kita dari single story, cerita tunggal yang terus diulang dalam melihat asal usul seseorang atau suatu bangsa, sering kali bisa melahirkan cara pandang klise yang menyesatkan.”
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.


