BACAAJA, BANDAR LAMPUNG- Di era Artificial Intelligence, literasi digital bukan lagi bonus, tapi tameng wajib satu keluarga. Hal itu ditegaskan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat membuka Pelatihan Artificial Intelligence (AI) Ready ASEAN yang digelar Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), belum lama ini. Kegiatan ini diikuti secara virtual dari Ruang Kerja Wakil Gubernur Lampung.
Dalam sambutannya, Jihan mengapresiasi peran Mafindo Lampung yang dinilai konsisten turun ke masyarakat untuk urusan literasi digital, mulai dari ngenalin AI sampai ngajarin cara waspada terhadap kejahatan siber. “Saya ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Mafindo Lampung dan seluruh jejaringnya yang dengan sabar dan konsisten mengedukasi masyarakat tentang literasi digital,” ujar Jihan.
Menurutnya, Mafindo Lampung tak cuma aktif di lingkungan pendidikan, tapi juga rajin kolaborasi lintas sektor, dari pemerintah, swasta, sampai berbagai pemangku kepentingan buat ngobrolin pemanfaatan AI secara aman dan bertanggung jawab.
“Hari ini kita hidup di era yang menarik sekaligus menantang. Anak-anak kita mungkin duduk di kamar, tapi dunianya bisa berkeliling dunia,” katanya. Data APJII 2025 mencatat, pengguna internet di Indonesia sudah menyentuh 229 juta orang. Angka ini jadi penanda bahwa dunia digital bukan lagi ruang tambahan, tapi sudah jadi bagian dari rutinitas keluarga sehari-hari.
Baca juga: Pramuka Lampung Gaspol Bantu Banjir, Donasi Nyaris Setengah Miliar
Masalahnya, arus informasi di internet nggak semuanya ramah. Di balik kemudahan dan manfaat, ada hoaks, disinformasi, hingga ancaman kejahatan siber yang siap nyelip kapan saja. Karena itu, Jihan menekankan peran orang tua jadi kunci. Bukan cuma ngasih gawai, tapi juga ngasih arah.
“Tidak semua informasi yang beredar itu benar dan bermanfaat. Di sinilah peran orang tua penting untuk mendampingi dan mengarahkan anak,” tegasnya. Ia menjelaskan, pemerintah juga mulai pasang pagar. Lewat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 yang akan berlaku Maret 2026, negara mengatur penggunaan gawai dan media sosial bagi anak, memperkuat peran orang tua, serta mewajibkan platform digital ikut bertanggung jawab melindungi anak-anak.
Peran Keluarga
Meski begitu, Jihan mengingatkan satu hal: regulasi tanpa keterlibatan keluarga cuma jadi tulisan di atas kertas. “Tanpa peran aktif keluarga dan sinergi dengan berbagai pihak, aturan tidak akan berjalan maksimal,” ujarnya.
Itulah sebabnya, program “AI Ready ASEAN untuk Orang Tua” dinilai relevan. Bukan sekadar pelatihan formal, tapi bekal biar keluarga nggak kaget menghadapi perubahan zaman. “Saya berharap setelah kegiatan ini, Bapak dan Ibu tidak hanya membawa sertifikat, tapi juga semangat untuk berbagi ilmu dan menerapkannya di keluarga, sekolah, sampai lingkungan sekitar,” kata Jihan.
Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, mengingatkan bahwa AI itu ibarat dua sisi koin. Manfaatnya besar, tapi risikonya juga nyata. “Kita harus siap menjaring manfaat AI sekaligus memitigasi risikonya. Tidak mungkin kita hanya mau manfaatnya tanpa memahami ancamannya,” ujarnya. Ia menyebut, program “AI Ready ASEAN” dirancang agar guru, orang tua, dan siswa bisa bersikap seimbang dan bertanggung jawab dalam menggunakan AI.
Sementara itu, Project Manager AI Ready ASEAN, Diera Gala Paksi menjelaskan, program ini merupakan inisiatif regional dari ASEAN Foundation dengan dukungan penuh google.org. Targetnya nggak main-main: menjangkau 5,5 juta orang di sepuluh negara ASEAN.
Baca juga: Bikin Geram! Orang Tua Kritik SPPG, Siswa di Lampung Tak Dikasih Jatah MBG Seminggu
“Program ini bukan cuma pelatihan, tapi juga training of trainers, pembelajaran mendalam, sampai riset untuk mengukur kompetensi guru, orang tua, dan siswa,” jelasnya. Ia berharap masyarakat berhenti melihat AI sebagai momok.
“Silakan belajar dan cari tahu tentang AI. Harapannya, AI justru membantu pekerjaan Bapak dan Ibu ke depan dan menghapus stigma negatif,” pungkasnya.
Di era AI yang makin pintar, jangan sampai manusianya justru makin lengah. Soalnya, teknologi boleh canggih, tapi kalau literasi digital keluarga masih ketinggalan, yang cerdas bukan AI, melainkan hoaks yang keburu dipercaya. (tebe)


