BACAAJA, BATAM – Sidang di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (5/3/2026), mendadak penuh emosi saat majelis hakim menjatuhkan vonis untuk Fandi Ramadhan (25), seorang anak buah kapal yang terseret kasus narkoba internasional.
Ketua majelis hakim, Tiwik, memutuskan Fandi dihukum lima tahun penjara. Putusan itu jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya meminta hukuman mati.
Begitu vonis dibacakan, suasana ruang sidang langsung pecah. Ibu Fandi, Nirwana, berlari mendekat ke kursi terdakwa dan memeluk anaknya sambil menangis. Momen itu bikin suasana sidang jadi haru.
Sebelumnya, jaksa menilai Fandi terlibat dalam pemufakatan jahat peredaran narkotika dan menjeratnya dengan pasal dalam Undang-Undang Narkotika. Namun majelis hakim akhirnya menjatuhkan hukuman lima tahun penjara.
Di balik kasus itu, kehidupan Fandi sebenarnya penuh perjuangan. Ia merupakan anak pertama dari enam bersaudara dan menjadi harapan keluarga yang hidup serba pas-pasan. Ayahnya bekerja sebagai nelayan dan harus berjuang keras membiayai pendidikan anaknya.
Fandi sempat kuliah di Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh. Untuk bisa terus kuliah, ia bahkan pernah berjualan nasi goreng dari pintu ke pintu di asrama.
Orang tuanya juga berkorban besar. Rumah papan sederhana di pesisir Medan sampai digadaikan agar Fandi bisa menyelesaikan pendidikan pelayaran.
Setelah lulus pada 2022, ia mencoba mengubah nasib keluarga dengan bekerja sebagai ABK di kapal internasional bernama Sea Dragon Terawa.
Namun perjalanan itu justru jadi titik petaka. Pada Mei 2025, kapal tersebut berlayar menuju Phuket, Thailand, membawa puluhan kardus yang belakangan diketahui berisi sabu dengan berat hampir dua ton.
Fandi mengaku saat itu hanya menjalankan perintah kapten kapal. Sebagai ABK baru, ia merasa tidak punya posisi untuk bertanya soal isi muatan ataupun alasan pemindahan barang dilakukan di tengah laut.
“Saya hanya ABK yang baru bergabung. Tidak punya hak atau keberanian untuk bertanya,” kata Fandi dalam persidangan.
Kini, meski terhindar dari hukuman mati, masa depan Fandi tetap harus dijalani dari balik jeruji penjara. Kasus ini pun masih terbuka kemungkinan upaya hukum lanjutan dari jaksa. (*)


