BACAAJA, BANYUMAS – Kehadiran Trans Banyumas bikin pilihan transportasi warga tak lagi terbatas. Bahkan, pelan-pelan Trans Banyumas mulai mengubah budaya transportasi warga setempat.
Kebiasaan warga Banyumas mengandalkan sepeda motor mulai bergeser. Sekarang cukup banyak warga yang menjadikan Trans Banyumas sebagai pilihan utama sebagai moda transportasi sehari-hari.
Bus yang beroperasi dengan skema Buy the Service (BTS) itu bahkan mulai menarik minat warga yang sebelumnya terbiasa menggunakan sepeda motor.
Setidaknya demikian yang disampaikan Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno. Ia menilai Banyumas termasuk daerah yang berhasil membenahi layanan transportasi umum di tingkat kabupaten.
Bacaaja: Koridor Anyar Trans Banyumas, Akhirnya Sampai di Banyumas Juga
Bacaaja: Mulai 2027, Trans Jateng Sambungkan Magelang-Temanggung
Trans Banyumas sendiri mulai beroperasi sejak 5 Desember 2021 dengan dukungan subsidi Kementerian Perhubungan. Kini, layanan tersebut memiliki lima koridor yang menghubungkan permukiman, pusat kota, kawasan pendidikan, terminal, stasiun hingga destinasi wisata Baturraden.
Yang menarik, survei Laboratorium Transportasi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata pada Agustus 2026 menunjukkan 58 persen pengguna Trans Banyumas masih memiliki sepeda motor.
Sebelum menggunakan Trans Banyumas, sepeda motor menjadi moda transportasi utama bagi 55 persen responden. Artinya, keberadaan bus tersebut mulai mendorong perubahan pilihan moda transportasi warga.
“Trans Banyumas bukan sekadar sarana moda transportasi harian, melainkan rekam jejak transformasi mobilitas publik yang terbukti mampu mengubah budaya bertransportasi warga,” kata Djoko, Rabu (23/9/2026).
Pelajar Jadi Pengguna Terbanyak
Pengguna Trans Banyumas paling banyak berasal dari kalangan pelajar, dengan persentase mencapai 40 persen.
Jika dilihat berdasarkan usia, kelompok di bawah 20 tahun menjadi pengguna terbesar dengan 28 persen, disusul kelompok usia 21-30 tahun sebesar 27 persen.
Daya tariknya bukan hanya tarif yang mendapat subsidi. Trans Banyumas juga menyediakan bus ber-AC, fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas, serta sistem pemantauan perjalanan melalui CCTV dan GPS.
Pembayaran nontunai menggunakan e-money dan QRIS juga membuat layanan tersebut semakin praktis.
Namun, perjalanan Trans Banyumas untuk menjadi transportasi publik yang benar-benar kuat masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya adalah kepastian anggaran. Pembiayaan layanan ke depan mulai melibatkan pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Banyumas sehingga diperlukan komitmen anggaran yang berkelanjutan.
Masalah lain ada pada konektivitas. Feeder dari wilayah pinggiran menuju koridor utama dinilai belum optimal.
Selain itu, tingkat keterisian bus masih belum merata. Pada jam sibuk, terutama ketika pelajar dan pekerja beraktivitas, bus cenderung penuh. Namun, jumlah penumpang menurun pada jam-jam di luar waktu sibuk.
Djoko menilai pengembangan Trans Banyumas harus dilakukan secara menyeluruh. Bukan hanya menambah atau mempertahankan armada, tetapi juga memperkuat feeder, memperbaiki halte, serta memastikan anggaran tetap aman.
“Keberlanjutan inovasi ini sangat bergantung pada komitmen lintas pemangku kepentingan, terutama dalam menjaga ketahanan anggaran, memperkuat armada pengumpan, serta membenahi infrastruktur pendukung,” ujarnya.
Jika persoalan tersebut bisa diatasi, Trans Banyumas berpotensi menjadi contoh bahwa transportasi umum di daerah tidak harus kalah dari kendaraan pribadi.
Justru, ketika layanannya nyaman, terjangkau, dan terkoneksi dengan baik, warga bisa mulai meninggalkan ketergantungan pada sepeda motor secara perlahan. (dul)

