BACAAJA, DEMAK – 900 Kepala Keluarga (KK) dengan ribuan jiwa terdampak banjir. Ratusan hektare sawah terendam. Entah seperti apa jadinya.
Pagi yang mencekam hadi bagi warga di Desa Tlogoweru, Kecamatan Karangawen, Demak, . berubah jadi momen panik, Senin (16/2/2026).
Ratusan rumah mendadak terendam banjir setelah tanggul Sungai Cabean jebol usai dihantam hujan deras dan kiriman air dari hulu.
Bacaaja: 351 KK di Semarang Terendam Banjir, Dampak Tanggul Plumbon Jebol
Bacaaja: 14 Desa di Grobogan Kebanjiran
Tanggul yang berada di wilayah Kecamatan Karangawen tak kuat menahan debit air. Dampaknya paling terasa di permukiman warga, dengan ketinggian banjir dilaporkan mencapai hingga satu meter.
Kepala Desa Tlogoweru, Jaryanto, mengatakan laporan mulai berdatangan sekitar pukul 04.00 WIB. Tak lama setelah tanggul jebol, air langsung masuk ke kampung-kampung.
“Air meluap di dua titik, satu ke arah Tajemsari dan satu ke barat Tlogoweru. Potensinya bisa melebar sampai Dukuhseri dan Guntur,” jelasnya.
Data sementara mencatat sekitar 900 kepala keluarga terdampak, dengan tinggi air bervariasi antara 70 sentimeter hingga satu meter.
Meski situasinya cukup genting, belum ada evakuasi resmi ke posko desa. Banyak warga memilih menyelamatkan diri secara mandiri, numpang di rumah saudara atau tetangga yang posisinya lebih tinggi.
Salah satu warga, Jumiati, mengaku air mulai naik sejak dini hari.
“Sekitar jam 03.30 WIB air sudah masuk. Di depan rumah setinggi lutut. Saya masih bertahan, semoga cepat surut,” ujarnya.
Sayangnya, bukan cuma rumah yang terdampak. Sekitar 350 hektare lahan pertanian ikut terendam, padahal petani dijadwalkan panen raya pekan depan. Harapan panen pun terancam berubah jadi kerugian besar.
Hingga kini, BPBD Kabupaten Demak masih melakukan asesmen untuk menghitung total dampak serta kemungkinan perluasan banjir.
Sementara itu, warga berharap ada gerak cepat dari pemerintah untuk memperbaiki tanggul agar air tak semakin meluas. Karena kalau tanggul belum beres, rasa was-was jelas belum akan ikut surut.


