BACAAJA, SEMARANG – Bagi banyak orang, mendidik anak adalah soal sekolah dan pekerjaan. Bagi Sururi, mendidik anak lebih dari itu: ia menanamkan nilai hidup melalui tindakan nyata bercocok tanam mangrove, bersabar mnghadapi cobaan, dan memegang teguh prinsip.
Perjalanan hidupnya dimulai dari pesantren, nyantrik, dan kerja keras yang datang dari bawah. Tidak ada gelar akademik, ia justru dikenal luas sebagai tokoh mangrove di Semarang.
Sebutan “profesor mangrove” sering disematkan padanya, meskipun ia sendiri menolak gelar itu.
Bacaaja: Kenalan Sama Pak Sururi, Orang Biasa dengan Aksi Luar Biasa Jaga Pesisir Semarang
Bacaaja: Kata Mas Tri Sastra Nggak Bikin Kaya, tapi Kenapa Masih Banyak yang Bertahan?
Pesan paling kuat yang ia sampaikan kepada anak-anaknya bukan kata sambil tugas pagi atau nasehat kosong, tetapi contoh nyata.
Ketika anak-anak melihat ia bangun pagi menanam, merawat, dan bernegosiasi soal bibit, mereka belajar tentang kerja keras, ketekunan, dan integritas.
Kebiasaan keluarga juga tak lepas dari nilai spiritual. Sebelum makan, anak-anak selalu didoakan dulu.
Itu bukan sekadar ritual, tetapi bagian dari falsafah hidup: bahwa manusia hidup bukan hanya karena kerja, tetapi karena barokah dan doa.
Hasilnya luar biasa. Anak-anaknya tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan berguna: dari guru bersertifikasi, PNS, hingga pekerja swasta yang stabil.
Tidak satu pun yang anti terhadap kerja keras bahkan beberapa ikut terjun menanam mangrove di waktu luang mereka.
Kini, meskipun usianya tak lagi muda dan tenaga tidak sekuat dulu, Sururi tetap mengawasi jalannya usaha mangrove yang telah berjalan puluhan tahun.
Ia percaya bahwa apa yang dimulai dengan niat baik akan terus mengalir manfaatnya, bahkan untuk generasi setelahnya.
Ia mengaku takut jika kelak tidak ada yang meneruskan. Namun, melihat anak-anaknya yang tumbuh dengan dasar nilai yang kuat, ia yakin pengabdian kepada alam tidak akan berhenti begitu saja. (dul)

