BACAAJA, SEMARANG – Alih fungsi lahan di Kota Semarang bagian atas sebenarnya bukan cerita baru. Dalam satu dekade terakhir, kawasan yang dulu berupa hutan, kebun, dan area resapan air perlahan berubah jadi perumahan, kampus, sampai kawasan komersial.
Manajer Kampanye dan Media Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah, Zalya Tilaar, bilang lembaganya pernah membuat kajian perubahan lahan sejak 2012.
“Dalam satu dekade terakhir, alih fungsi lahan banyak terjadi di Semarang atas,” kata Zalya saat menjadi narasumbe Podcast untuk kanal YouTube Bacaajadotco, Jumat (6/3/2026).
Bacaaja: Alih Fungsi Lahan di Kawasan BSB Masif, Jadi Biang Kerok Banjir Semarang
Bacaaja: Banjir Parah Terjang Kawasan Industri Candi Semarang: Mobil Terendam, Motor Terseret Arus
Wilayah yang paling terasa perubahannya antara lain Tembalang, Gunungpati, Mijen, dan Ngaliyan.
Di kawasan atas itu juga berdiri kampus besar seperti Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Selain itu, perumahan skala besar juga tumbuh cepat, salah satunya di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB City). Di kawasan ini bahkan ada mal baru dan kampus kedua Soegijapranata Catholic University (SCU).
Data Walhi menunjukkan luas kawasan permukiman di Semarang terus naik. Pada 2012 luasnya sekitar 7.022 hektare, lalu meningkat menjadi 7.361 hektare pada 2022.
Artinya, ada tambahan sekitar 300 hektare kawasan permukiman dalam satu dekade.
“Itu belum ditambah dengan data sampai 2026 ini gitu. Sedangkan pembangunan terus terjadi kan di atas sana,” ungkap Zalya.
Berdasarkan penelusuran citra satelit terbaru, terdapat pembukaan lahan baru sekitar 100 hektare di dekat Danau BSB. Area yang sebelumnya masih hijau kini berubah jadi hamparan tanah terbuka yang sedang diratakan.
Pengembangan kawasan BSB sendiri memang sangat besar. Merujuk pernyataan pengembang pada 2017 lalu di media, PT Karyadeka Alam Lestari menyebut total lahan yang dikelola di kawasan BSB mencapai sekitar 1.100 hektare. Lahan seluas itu dimanfaatkan untuk pengembangan industri, perumahan, hingga kawasan komersial.
Zalya bilang fenomena ini juga dipicu keterbatasan lahan di pusat kota. Kawasan bawah Semarang sudah padat, sehingga pembangunan akhirnya bergerak ke dataran yang lebih tinggi.
“Di bawah sudah penuh. Mau tidak mau pembangunan bergerak ke atas. Jadi wilayah atas ini seperti jadi ruang baru untuk pertumbuhan kota,” ujarnya.
Namun, alih fungsi lahan besar-besaran di Semarang atas akan berdampak pada berkurangnya daerah resapan. Akibatnya, air tak bisa ditahan yang ujungnya menjadi banjir di wilayah bawah.
Bahkan, belakangan ini kawasan atas tak luput dari terjangan banjir bandang. (bae)


