BACAAJA, SEMARANG – Saat waktu Ramadan memasuki momen berbuka, banyak orang langsung memburu gorengan. Padahal, menurut Ustadz Adi Hidayat, pilihan makanan pertama saat berbuka sebaiknya bukan yang berminyak.
Pendakwah yang akrab disapa UAH itu menjelaskan bahwa berbuka puasa sebaiknya mengikuti tuntunan Nabi Muhammad. Dalam sunnah, makanan pembuka puasa dianjurkan yang ringan dan mampu mengembalikan energi tubuh dengan cepat.
UAH menyebut ada tiga jenis makanan yang paling dianjurkan untuk berbuka. Ketiganya sederhana, mudah didapat, dan punya manfaat langsung bagi tubuh yang sudah menahan lapar serta haus seharian.
Pilihan pertama yang paling utama adalah kurma. Buah ini dikenal sebagai makanan yang sangat dianjurkan dalam sunnah ketika waktu berbuka tiba.
Dalam penjelasannya, kurma terbagi menjadi dua jenis utama, yakni rutub dan tamar. Rutub adalah kurma yang masih segar dan memiliki kadar air lebih tinggi.
Sementara tamar adalah kurma yang sudah dikeringkan. Meski sama-sama baik, rutub biasanya memiliki kandungan glukosa lebih cepat diserap tubuh.
Karena itu, rutub sering dianggap lebih bernilai di kawasan Timur Tengah. Kandungan gulanya mampu membantu tubuh mendapatkan energi dengan cepat setelah berpuasa.
UAH menjelaskan bahwa makanan manis seperti kurma memiliki fungsi penting bagi tubuh. Gula alami yang terkandung di dalamnya mudah diserap sehingga tubuh kembali bertenaga sebelum menjalankan sholat Maghrib.
Namun tidak semua orang memiliki kurma di rumah. Dalam kondisi seperti itu, ada pilihan lain yang juga bisa digunakan untuk berbuka.
UAH menyebut makanan manis bisa menjadi alternatif pengganti kurma. Prinsipnya sama, yaitu membantu tubuh mendapatkan energi secara cepat.
Di Indonesia, salah satu makanan yang sering disebut memiliki manfaat serupa adalah kolak.
Kolak yang terbuat dari gula, santan, dan bahan seperti pisang atau ubi dianggap cukup efektif untuk mengembalikan energi setelah puasa.
Rasa manis pada kolak membuat tubuh lebih cepat pulih dari kondisi lemas akibat menahan lapar sepanjang hari.
Meski begitu, jika tidak tersedia makanan manis, berbuka tetap bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana.
UAH menjelaskan bahwa pilihan berikutnya adalah air putih. Air bersih bisa menjadi cara paling sederhana untuk menyegerakan berbuka.
Meneguk beberapa tegukan air dapat membantu melembapkan tenggorokan yang kering setelah seharian tidak minum.
Selain itu, air juga membantu tubuh kembali segar sebelum melanjutkan ibadah malam seperti sholat Tarawih.
Dalam sejumlah riwayat hadis yang dijelaskan UAH, menyegerakan berbuka menjadi salah satu amalan yang dianjurkan.
Karena itu, berbuka tidak harus selalu dengan makanan berat. Yang terpenting adalah ada sesuatu yang dikonsumsi untuk menandai berakhirnya puasa.
UAH juga mengingatkan agar tidak langsung makan berlebihan saat berbuka. Kebiasaan ini justru bisa membuat tubuh terasa berat.
Banyak orang langsung mengonsumsi gorengan dalam jumlah banyak ketika berbuka. Padahal makanan berminyak cenderung membuat pencernaan bekerja lebih keras.
Jika dikonsumsi terlalu banyak, gorengan bisa menyebabkan rasa tidak nyaman di perut setelah puasa.
Itulah sebabnya UAH menyarankan agar berbuka dengan makanan ringan terlebih dahulu, kemudian baru makan setelah sholat.
Pola ini mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad yang berbuka dengan kurma atau air, lalu melanjutkan makan setelah sholat Maghrib.
Dengan cara tersebut, tubuh memiliki waktu menyesuaikan diri setelah seharian tidak menerima asupan makanan.
Kesimpulannya, tiga pilihan sederhana untuk berbuka menurut UAH adalah kurma, makanan manis seperti kolak, serta air putih.
Pilihan itu dianggap lebih sehat dan sesuai sunnah dibanding langsung menyantap makanan berat atau gorengan saat waktu berbuka tiba. (*)

