BACAAJA, TEGAL- Sekda Jateng, Sumarno meminta seluruh sekda kabupaten/kota di Jateng benar-benar memberi perhatian penuh pada tata kelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Pesannya jelas: jangan mengulang sejarah kelam Koperasi Unit Desa (KUD) yang dulu sempat berjaya, tapi akhirnya tumbang karena masalah manajemen.
“KDKMP harus jadi perhatian. Jangan sampai mengulang pengalaman KUD dulu yang rontok karena problem manajemen,” ujar Sumarno saat Rapat Koordinasi Forum Sekretaris Daerah Seluruh Indonesia (Forsesdasi) Komwil Jateng di Hotel Bahari Inn, Kota Tegal, Kamis malam (29/1/2026).
Baca juga: Kopdes Merah Putih di Jateng Sudah Beroperasi, Ini Kata Gubernur Luthfi
Menurutnya, KDKMP punya potensi besar sebagai motor ekonomi kerakyatan dari desa. Tapi catatannya satu: harus dikelola profesional dan benar-benar berpihak ke anggota, bukan cuma ramai di awal.
Data Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah per Oktober 2025 mencatat, sudah ada 8.523 unit Koperasi Merah Putih berbadan hukum di Jateng. Dari jumlah itu, 3.891 unit sudah aktif beroperasi dengan total anggota mencapai 136.112 orang.
Samakan Persepsi
Sumarno menilai rapat koordinasi ini bukan cuma soal agenda formal, tapi jadi ruang penting buat menyamakan persepsi antarsekda yang memegang tanggung jawab serupa. “Kegiatan ini yang utama adalah silaturahmi. Kita kumpul karena tanggung jawab kita yang sama,” katanya.
Ia juga menyinggung tantangan ke depan, mulai dari tata kelola pemerintahan, pengelolaan keuangan daerah, hingga penyesuaian dana transfer pusat ke daerah yang mau tak mau harus dihadapi bareng-bareng.
Tak hanya itu, Sumarno mengingatkan pentingnya hubungan harmonis antara sekda dan kepala daerah. Menurutnya, komunikasi yang nyambung dan satu frekuensi jadi kunci menjaga stabilitas pemerintahan.
Baca juga: Puan: Koperasi Merah Putih Bukti Negara Hadir di Desa
Hal senada disampaikan Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono. Ia menekankan pentingnya keterbukaan komunikasi agar birokrasi tidak terjebak sekat-sekat yang bikin kerja makin ribet. “Yang penting kepala daerah dan sekda satu frekuensi. Kalau tidak pas, saling mengingatkan supaya kebijakan berjalan baik,” ujarnya.
Singkatnya, Koperasi Merah Putih jangan cuma gagah di nama dan spanduk. Kalau tata kelolanya asal-asalan, bisa-bisa warnanya merah bukan karena semangat, tapi karena lampu tanda bahaya menyala. (tebe)


