BACAAJA, SEMARANG- Pendapatan asli daerah (PAD) Kota Semarang terus menunjukkan tren naik di tengah situasi ekonomi yang tak selalu ramah. Data realisasi PAD 2025 menunjukkan gambaran yang kontras. Pajak hiburan tembus 106,38 persen dari target, pajak restoran 104,31 persen.
Sementara pajak hotel masih di bawah target, di angka 79,10 persen, dengan Silpa mencapai Rp186,9 miliar. Angka-angka itu nunjukin, meski belanja dinas dan korporasi melambat, uang masyarakat tetap berputar, terutama di hiburan dan kuliner. Ekonomi kerakyatan jadi bantalan utama.
Baca juga: Kas Semarang Aman, Target Hampir Kesentuh
“Angka-angka ini adalah cerminan nyata dari daya lenting ekonomi warga yang luar biasa,” ujar Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, Jumat (20/2/2026). UMKM dan pelaku ekonomi kreatif menjadi penyangga vital kota ini di masa penuh tantangan.
Ia menyebut, kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin diarahkan untuk menyelaraskan seluruh mesin pemerintahan. Tapi pemerintah kota tak menutup mata. Masih ada kebocoran di sejumlah pos yang bikin potensi pemasukan belum tergarap maksimal.
Pendapatan Berkelanjutan
Agustina menyebut, fokus utama pemkot saat ini bukan cuma mengejar angka, tapi menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan. Ia menegaskan, upaya ini butuh dukungan semua pihak.
Salah satu sumber kebocoran paling nyata ada di penataan pedagang kaki lima (PKL). Bukan soal PKL-nya, tapi sistem penataan dan retribusinya yang belum tertib, sehingga banyak potensi pendapatan yang lolos begitu saja.
Baca juga: UMK Semarang Nggak Bisa Seenaknya, Semua Harus Ikut Aturan Pusat
Masalah serupa juga terjadi di retribusi kebersihan. Padahal, menurut Agustina, sektor ini menyimpan potensi besar jika dikelola dengan sistem yang lebih rapi dan transparan. Selain itu, pajak hotel dan restoran juga jadi perhatian serius. Pemkot berencana memasang sistem berbasis teknologi agar transaksi bisa terekam otomatis dan lebih akurat. (bae)


