Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Pilkada Emang Banyak Masalah, tapi Bukan Lempar ke DPRD Solusinya
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Politik

Pilkada Emang Banyak Masalah, tapi Bukan Lempar ke DPRD Solusinya

Pilkada langsung memang nggak sempurna. Ribet iya, mahal juga, konflik sering muncul. Tapi begitu ada masalah, solusinya bukan buru-buru nyopot hak pilih rakyat lalu diserahkan ke DPRD. Logikanya simpel: kalau sistemnya bocor, yang dibenerin ya pipa-nya, bukan malah nutup keran airnya.

T. Budianto
Last updated: Januari 6, 2026 8:43 am
By T. Budianto
3 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, SEMARANG- Nggak ada yang bilang pilkada langsung itu suci dan tanpa dosa. Masalahnya banyak. Ribet, mahal, dan sering bikin panas. Tapi semua itu bukan alasan buat nyopot hak pilih rakyat dan menggantinya dengan pilkada lewat DPRD.

Pengamat politik dari Fisip Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Nur Syamsudin menyebut, ada tiga penyakit kronis di pilkada langsung yang selama ini dibiarkan kambuh.

Pertama, duit. Pilkada sudah lama berubah jadi ajang adu modal. Biaya kampanye selangit mendorong politik uang, ketergantungan ke donatur, sampai balas budi setelah terpilih. Ujung-ujungnya, korupsi dianggap cicilan kekuasaan.

Kedua, polarisasi. Pilkada kerap membelah masyarakat. Isu SARA gampang dipantik. Politik identitas dipelihara. Warga diadu, elite tepuk tangan. Setelah selesai, lukanya sering ditinggal begitu saja.

Baca juga: Biaya Mahal Bukan Alasan, Pilkada Lewat DPRD Tanda Elite Mulai Takut Rakyat Kritis

Ketiga, soal kualitas calon. Sistem yang mahal otomatis menyaring kandidat berdasarkan isi dompet, bukan kapasitas dan integritas. Yang pintar tapi miskin minggir dulu. Yang kuat modalnya, maju paling depan.

Tapi menurut Nur, semua masalah itu masih bisa dicarikan solusi. Yang perlu dibenahi adalah sistem pilkada langsungnya, bukan dibuang sekalian. “Solusi alternatif tidak harus menghapus hak pilih rakyat, tetapi memperbaiki sistem yang ada,” jelasnya, Senin (29/12/2025).

Banyak Jalan

Ada banyak jalan tanpa harus menarik pilkada ke DPRD. Mulai dari pembiayaan kampanye yang lebih adil dan transparan. Donasi dibatasi, pengawasan diperketat, dan negara hadir memberi subsidi kampanye agar kompetisi lebih setara.

Lalu, seleksi calon diperketat. Bisa lewat ambang elektabilitas atau mekanisme lain, supaya yang maju benar-benar punya dukungan riil, bukan sekadar modal besar. Jumlah calon berkurang, politik uang ikut ditekan.

Partai politik juga harus dipaksa berbenah. Pencalonan jangan lagi jadi urusan elite tertutup. Harus ada seleksi terbuka, kompetitif, dan melibatkan publik. Bukan sekadar tunjuk atau setor mahar.

Baca juga: Pilkada lewat DPRD Bentuk Kemunduran Demokrasi, Pengamat: Politik Transaksional

Di sisi lain, edukasi politik publik juga wajib digenjot. Selama pemilih masih permisif pada uang dan sentimen identitas, pilkada akan terus bermasalah, siapa pun yang memegang sistemnya.

Terakhir, menurut Nur, soal hukuman. Bagi pelanggar politik uang, sanksinya harus bikin kapok. Bukan cuma calon, tapi juga partai. Dari pembekuan hingga pencabutan kursi DPRD. Singkatnya, pilkada langsung memang banyak cacat. Tapi menggantinya dengan pilkada lewat DPRD bukan obat, malah bisa jadi penyakit baru. (bae)

You Might Also Like

Bank Jateng Beri Kredit Ratusan Miliar Rupiah ke Sritex Tanpa Agunan, Gak Cek Ulang Pula!

Transfer Nyasar Rp20 M, Koper Misterius, dan Drama Lahan 700 Hektare

Serunya Tradisi Gebyuran Bustaman, Ada Makna Sakral di Balik Aksi Saling Coret-Saling Siram

Perang Mental di Batakan

DPR: Mudik 2026 Jangan Jadi Ajang Uji Nyali

TAGGED:dprdheadlinepilkadauin walisongo
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Sambut Samba di Tengah: PSIS Akhirnya Punya Denilson
Next Article ASN, Ingat Ya! Liburan Nggak Boleh Pakai Mobil Dinas

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

SIDANG TPPU--Gus Yazid terdakwa kasus pencucian uang BUMD Cilacap, digiring dari ruang sidang menuju mobil tahanan. (bae)

Istri Gus Yazid Ungkap Fakta Mencengangkan: Dia Lebih Pilih Setia kepada Jenderal Widi

JALAN--Jalan baru Undip Tembalang. (google earth)

Pemkot Semarang Ikut Terseret, Warga Tuntut Ganti Rugi Lahan Proyek Jalan Jangli-Undip

Mohammad Saleh Minta Perbaikan Jalan Pantura Barat Dipercepat

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Warga Binaan Lapas Purwodadi Belajar Jadi Barista

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Eks bos Sritex, Iwan Setiawan (kemeja putih) berjalan keluar ruang sidang usai menjalani tuntutan di pengadilan, Senin (20/4/2026). (bae)
Hukum

Kredit Sritex Dikorupsi, Dipakai Buat Beli Apartemen dan Mobil Mewah

April 20, 2026
Ilustrasi penangkapan tersangka.
Hukum

Cemburu Keras! Istri Potong Kemaluan Suami hingga Tewas

Oktober 23, 2025
Daerah

Wagub Kawal Penutupan Tanggul Sungai Tuntang

Februari 19, 2026
Real Madrid dicukur 4 gol tanpa balas oleh PSG, dalam semifinal Piala Dunia Antarklub FIFA 2025, di Stadion Metlife, New Jersey, Kamis (10/7/2025) dini hari WIB.
Sepak Bola

Madrid Menangis di Kaki Enrique, PSG Bantai Pasukan Xabi 4 Gol Tanpa Balas

Juli 10, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Pilkada Emang Banyak Masalah, tapi Bukan Lempar ke DPRD Solusinya
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?