BACAAJA, BREBES- Bencana tanah gerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, bikin satu kampung berubah jadi zona siaga. Data dari Badan Penanggulangan Bencama Daerah (BPBD) Brebes mencatat 143 rumah terdampak. Rinciannya, 10 rumah rusak berat, 124 rumah lainnya statusnya terancam. Dua tempat ibadah dan dua fasilitas pendidikan ikut kena imbas.
Yang bikin makin miris, akses utama jalan desa sepanjang kurang lebih 700 meter juga ambles. Jadi bukan cuma rumah yang “geser”, tapi akses hidup warga pun ikut tergerus.
Pergerakan tanah sampai sekarang masih aktif. Curah hujan tinggi di kawasan perbukitan bikin lereng dengan kemiringan sekitar 45 derajat terus bergerak ke arah Kali Keruh. Potensi susulan? Masih ada.
Baca juga: Pemprov Relokasi 900 Rumah di Kawasan Tanah Gerak Tegal
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi turun langsung ke lokasi pengungsian dan memimpin rapat penanganan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Sirampog, Rabu (18/2/2026).
Pesannya simpel tapi tegas: “Untuk tanah gerak ini yang bisa dilakukan adalah memindah orang dan barang.” Artinya? Jangan nekat balik dulu. Karena tanahnya belum benar-benar berhenti “bergerak”.
Pemprov Jateng sudah koordinasi dengan Badan Geologi Kementerian ESDM. Rencananya, hunian sementara (huntara) bakal dibangun di lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat, lokasi yang dinilai aman secara teknis.
Lokasi Pengungsian
Sementara ini, pengungsian dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Dukuh Limbangan. Dapur umum berdiri pakai anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Bantuan juga langsung dikucurkan, totalnya Rp175,97 juta dari berbagai OPD dan PMI.
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma menyebut respons Pemprov cepat dan solid. Ia memastikan warga tak perlu panik karena semua dinas sudah bergerak. Di balik angka-angka itu, ada cerita nyata yang nggak bisa dihitung pakai rupiah.
Susi Susanti, warga Dukuh Bojongsari, harus mengungsi bareng tiga anaknya. Salah satunya bayi 10 bulan. Ia memilih pergi demi keselamatan buah hatinya. Harapannya sederhana: kebutuhan bayi seperti pampers, sabun, minyak telon, sampai perlengkapan mandi tetap tersedia.
Baca juga: Ngeri! Detik-detik Bangunan Ponpes Al Adalah Ambruk Ditelan Tanah Gerak di Tegal
Warga lain, Tona, yang rumah kayunya ada di pinggir hutan dan dekat sungai, mengaku tiap hujan deras datang, jantungnya ikut balapan. “Sekarang lebih parah. Tanahnya cepat sekali bergerak. Kalau malam hujan deras, saya tidak bisa tenang,” katanya.
Harapannya cuma satu: relokasi permanen. Hunian tetap yang benar-benar aman. Biar hidup nggak lagi ditemani rasa waswas tiap langit mendung. Sebagai catatan, bencana ini terjadi sejak Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 18.00 WIB, dipicu cuaca ekstrem yang bikin lereng perbukitan Sirampog bergerak turun ke arah aliran sungai.
Dan di tengah semua ini, satu pelajaran terasa jelas: Kalau alam sudah kasih “kode keras”, manusia nggak bisa debat. Yang bisa dilakukan cuma pindah, saling bantu, dan berharap semoga setelah tanah berhenti bergerak, hidup mereka juga bisa kembali stabil. (tebe)


