Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Ramadhan Datang, Tapi Hati Kok Tetap Kosong? Ada yang Salah?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Info

Ramadhan Datang, Tapi Hati Kok Tetap Kosong? Ada yang Salah?

Buya Yahya, menyinggung soal siapa saja yang sebenarnya merugi di bulan suci ini. Ucapannya sederhana, tapi cukup bikin mikir dalam.

Nugroho P.
Last updated: Februari 24, 2026 2:36 pm
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
, KH Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya.
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Ramadhan itu tiap tahun datang, tapi nggak semua orang benar-benar “datang” menyambutnya. Ada yang puasanya jalan, sahurnya bangun, bukanya tepat waktu, tapi hatinya terasa biasa saja. Nggak ada getar, nggak ada rindu, nggak ada target berubah.

Padahal bulan ini sering disebut sebagai momen reset paling besar dalam hidup seorang muslim. Waktu di mana pahala dilipatgandakan, pintu ampunan dibuka lebar, dan kesempatan memperbaiki diri terasa begitu dekat. Tapi tetap saja, ada yang melewatinya seperti lewat bulan biasa.

Dalam sebuah ceramah, pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, menyinggung soal siapa saja yang sebenarnya merugi di bulan suci ini. Ucapannya sederhana, tapi cukup bikin mikir dalam.

Menurutnya, orang yang tidak punya rasa rindu pada Ramadhan patut khawatir pada dirinya sendiri. Ramadhan itu tamu agung. Kalau tamu istimewa datang tapi kita biasa saja, bahkan nggak antusias, ada yang perlu dibereskan di dalam hati.

Ceramah tersebut dirangkum dari tayangan di kanal YouTube Al Bahjah. Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar kewajiban tahunan, tapi kesempatan emas yang belum tentu terulang.

Banyak orang menjalani Ramadhan hanya sebatas formalitas. Puasa iya, tapi kebiasaan lama tetap dipelihara. Lisan masih mudah menyakiti, waktu habis untuk hal sia-sia, dan ibadah tambahan terasa berat.

Inilah barisan orang yang sebenarnya rugi di bulan Ramadhan. Mereka yang masuk bulan suci tanpa target apa pun, lalu keluar darinya tanpa perubahan apa pun. Nggak ada peningkatan, nggak ada evaluasi, nggak ada perbaikan.

Ramadhan seharusnya jadi ruang refleksi. Tempat kita jujur pada diri sendiri. Sudah sejauh mana hubungan dengan Allah? Sudah berapa banyak dosa yang ditinggalkan? Atau jangan-jangan, masih nyaman dengan kebiasaan lama?

Puasa bukan cuma menahan lapar dan haus. Kalau cuma itu, semua orang yang diet juga bisa. Tapi esensi puasa adalah menahan diri dari yang haram, yang sia-sia, dan yang merusak hati.

Ada juga yang sibuk berburu takjil, sibuk buka bersama, sibuk update media sosial, tapi lupa memperbaiki kualitas sholatnya. Ramadhan jadi ramai di luar, tapi kosong di dalam.

Buya Yahya mengingatkan, ukuran keberhasilan Ramadhan bukan seberapa sering kita upload momen ibadah, tapi seberapa dalam perubahan itu terasa setelahnya. Apakah kita jadi lebih sabar? Lebih jujur? Lebih ringan membantu orang lain?

Orang yang beruntung di bulan ini biasanya terlihat dari perubahan kecil yang konsisten. Dulu jarang ke masjid, sekarang lebih rajin. Dulu mudah marah, sekarang lebih tenang. Dulu pelit, sekarang lebih dermawan.

Sebaliknya, orang yang merugi adalah mereka yang tetap sama seperti sebelum Ramadhan. Sholat masih bolong, maksiat masih jalan, hati masih keras. Seolah-olah Ramadhan hanya numpang lewat tanpa bekas.

Ada juga yang merasa aman karena sudah puasa penuh, tapi lupa mengevaluasi kualitas puasanya. Padahal bisa jadi, yang didapat hanya lapar dan haus, tanpa pahala maksimal karena sikap dan lisannya tak dijaga.

Ramadhan sering disebut sebagai madrasah kehidupan. Tempat belajar mengendalikan diri, mengatur waktu, dan melatih empati pada yang kekurangan. Kalau lulusannya nggak berubah, berarti ada yang salah dalam prosesnya.

Yang bikin sedih, kesempatan bertemu Ramadhan bukan jaminan tiap tahun. Banyak yang tahun lalu masih semangat tarawih, tapi tahun ini namanya tinggal kenangan. Umur itu rahasia.

Karena itu, siapa pun yang masih diberi umur untuk bertemu Ramadhan harusnya merasa beruntung. Ini bukan rutinitas biasa, ini kesempatan langka yang bisa jadi yang terakhir.

Jangan sampai Ramadhan berlalu dan kita cuma ingat menu buka puasanya, bukan momen taubatnya. Jangan sampai yang tersisa hanya foto-foto kebersamaan, tapi nggak ada cerita perubahan dalam diri.

Buya Yahya menegaskan, yang paling rugi adalah orang yang tidak mendapatkan ampunan di bulan penuh ampunan. Bayangkan, diskon dosa besar-besaran sedang dibuka, tapi kita malah cuek.

Ramadhan itu bukan soal ramai-ramai, bukan soal tren, bukan soal gaya hidup musiman. Ini soal hati dan kesungguhan. Soal mau berubah atau tidak.

Akhirnya, pertanyaannya sederhana tapi dalam: setelah Ramadhan selesai nanti, kita mau jadi versi yang sama, atau versi yang lebih baik? Karena yang benar-benar rugi bukan yang tak punya harta, tapi yang melewati Ramadhan tanpa makna. (*)

You Might Also Like

Libur Nataru, Penumpang Pesawat Naik 5,6 Persen

Puan: Transformasi Harus Pelan tapi Nempel

Enam Hari Berlalu, Misteri Pembunuhan Bocah Cilegon Belum Terjawab

Infinix Note 60: HP Murah Gak Bikin Kamu Tersesat, Bisa Nyambung Satelit Anti-Lost Contact!

Puluhan Rumah di Sragen Mulai Dibedah, Bupati Turun Langsung Pantau Proyek Desa Bebas RTLH

TAGGED:buya yahyaislamiPUASA MERUGIRUGII PAS PUASA
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis. Sentil Keras Kesepakatan Dagang RI-AS, MUI: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
Next Article Suasana meriah Bazar Ramadan di Muladi Dome Undi, Senin (23/02/2026). Meski diguyur hujan, antusiasme pengunjung tidak surut untuk berburu takjil. (dul) War Takjil Muladi Dome, Bukan Sekadar Bazar! Tetap Ramai meski Diguyur Hujan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pemprov Serahkan 36 Hunian Tetap untuk Warga Banjarnegara

Andri Minta Pemain Tetap Fokus

Agustina Ajak Warga Kompak Sambut MTQ Nasional 2026

Mudik Aman, Wisata Nyaman: Parakan-Dieng Resmi Mulus

Pemprov Dorong Transformasi Sampah Jadi Energi

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Analis Bank Jateng bersaksi di sidang korupsi kredit Sritex di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (26/1/2206). (bae)
Hukum

Bank Jateng Beri Kredit Ratusan Miliar Rupiah ke Sritex Tanpa Agunan, Gak Cek Ulang Pula!

Januari 26, 2026
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengaku bahwa tunjangan rumah Rp50 juta per bulan bagi anggota DPR RI lebih efisien. Foto: dok.humas
NasionalPolitik

Tunjangan Rumah DPR Rp50 Juta: Katanya Efisien, Nyatanya Rakyat Masih Ngekos di Hati Sendiri

Agustus 20, 2025
Amar Zoni dan napi berisiko tinggi lain dipindah ke Nusakambangan. (dok Ditjenpas Jateng)
Hukum

Tak Kapok Jerat Narkoba, Artis Ammar Zoni ‘Dibuang’ ke Nusakambangan

Oktober 16, 2025
Pendidikan

Gus Yasin Ajak Pramuka Jadi Teladan di Era Digital, Bukan Cuma Pandai Baris-Berbaris

Agustus 14, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Ramadhan Datang, Tapi Hati Kok Tetap Kosong? Ada yang Salah?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?