Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
Reading: Puluhan Anak Jateng Terpapar Konten Ideologi Kekerasan, Kapolda Bentuk Tim Khusus
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
© 2025 Bacaaja.co
Tumbuh

Puluhan Anak Jateng Terpapar Konten Ideologi Kekerasan, Kapolda Bentuk Tim Khusus

R. Izra
Last updated: Januari 14, 2026 8:12 am
By R. Izra
4 Min Read
Share
SHARE

BACAAJA, SEMARANG — Paparan konten kekerasan di dunia digital ternyata bukan cuma soal orang dewasa. Di Jawa Tengah, anak-anak dan remaja ikut terseret arusnya. Fakta ini bikin Kapolda Jateng Irjen Pol. Ribut Hari Wibowo pasang perhatian serius.

Polda Jateng bakal membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Bukan cuma polisi, tapi juga melibatkan Pemprov Jateng, akademisi, Komdigi, hingga psikolog dari Biro SDM Polda Jateng.

Pendekatannya jelas: kolaboratif dan humanis. Anak-anak tidak diproses hukum.

Bacaaja: 22 Anak di Jateng Terpapar Konten Kekerasan, Densus 88 Endus Metode Tebar Jaring di Medsos
Bacaaja: Orang Tua Hati-hati, Anak Sedang Dalam Fase Ini Jadi Sasaran Empuk Jaringan Terorisme

Hal ini disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng Brigjen Pol. Dwi Subagio saat ditemui di Mapolda Jateng, Kota Semarang, Rabu (7/1/2026).

“Kami tidak bisa bergerak sendirian. Pak Kapolda memberi perhatian khusus. Penanganannya juga tidak bisa sembarangan karena mereka masih anak-anak, masih pelajar,” kata Dwi.

Dibongkar Densus 88

Kasus ini mencuat setelah Densus 88 Antiteror menyampaikan informasi adanya anak-anak di Jateng yang terpapar konten dan ideologi kekerasan. Temuan ini juga berkaitan dengan kasus pelajar SMA 72 Jakarta yang sempat bikin geger karena melakukan aksi kekerasan dengan senjata mainan dan petasan di sekolah, November 2025 lalu.

Dari laporan itu, Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Jateng langsung bergerak. Anak-anak yang terpapar berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Paparan itu datang dari banyak pintu. Mulai dari gim online bertema peperangan, konten menyakiti orang lain, sampai akhirnya nyasar ke grup WhatsApp tertutup yang isinya makin ekstrem.

“Kami masih mendalami aktivitas mereka, menelusuri dari mana awalnya dan bagaimana pola keterlibatan mereka,” lanjut Dwi.

Dari nonton, jadi pengin niru ngelakuin

Yang bikin ngeri, paparan ini bukan cuma berhenti di layar. Konten kekerasan yang dikonsumsi pelan-pelan memotivasi anak-anak untuk melakukan hal serupa.

Beberapa bahkan sudah merencanakan aksi, lengkap dengan niat merekam dan mengunggahnya ke grup yang mereka ikuti. Untungnya, polisi bergerak cepat sebelum rencana itu benar-benar jadi kejadian.

“Ada yang terpapar paham ekstrem kiri, ada juga ekstrem kanan. Usia paling muda 13 tahun. Ini sangat berbahaya,” tegasnya.

Saat ini baru teridentifikasi satu grup, tapi polisi yakin masih ada grup lain dengan anggota yang lebih senior.

Bullying jadi pintu masuk

Fakta lain yang terungkap: banyak dari anak-anak ini adalah korban bullying. Ada yang benar-benar dibully, ada juga yang merasa dibully. Misalnya merasa dikucilkan karena tidak diajak teman-temannya pergi bersama.

Perasaan ditinggalkan itu jadi luka. Media sosial kemudian jadi tempat pelarian. Tapi alih-alih menemukan ruang aman, mereka justru terpapar konten kekerasan yang menguatkan rasa marah dan keinginan balas dendam.

“Dari situ muncul keinginan menyakiti orang lain, terutama yang mereka anggap telah menyakiti atau menjauhi mereka,” jelas Dwi.

Ironisnya, banyak orangtua tidak menyadari aktivitas digital anak-anaknya. Baru ketika polisi menunjukkan isi ponsel, barulah mereka tersadar bahwa anaknya sudah terpapar konten berbahaya.

Masalah bersama, bukan cuma polisi

Polda Jateng menegaskan kasus ini bukan cuma urusan aparat. Ini soal keluarga, sekolah, lingkungan, dan dunia digital yang makin liar.

“Ini fenomena yang harus jadi perhatian bersama. Anak-anak ini butuh perlakuan khusus. Orangtua tentu ingin pola pikir anaknya kembali seperti sebelum terpapar,” tandas Dwi.

Di tengah derasnya arus konten digital, kasus ini jadi pengingat: scroll tanpa pengawasan bisa jadi pintu masuk bahaya, terutama buat anak-anak yang sedang rapuh secara emosional. (*)

You Might Also Like

Emang Gen Z Sengeri Itu? Masuk Kuliah tapi Gak Bisa Baca, Kampus di AS ‘Nyerah’

Cilacap Nandur Harapan di Tepi Laut, Wow Ini Caranya

Sampah di Jateng Mau Diolah Jadi Bahan Bakar Pabrik Semen, Gimik Atau Realita?

Libur Akhir Tahun, Kapolda Turun Gunung Cek Posyan Tawangmangu

Warga Lereng Merapi Vs Kapolda Jateng: Pengadilan Tolak Praperadilan Tambang Ilegal

TAGGED:anak terpapar terorismeDensus 88ideologi kekerasankapolda jatengterorisme
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kondisi Nenek Saudah (68) yang menjalani perawatan di RSUD Tuanku Imam Bonjol Lubuk Sikaping, Senin (5/1/2026), seusai menjadi korban dugaan penganiayaan oleh para petambang emas ilegal di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Tolak Tambang Emas Ilegal di Lahan Sendiri, Nenek Saudah Dihajar Preman hingga Terkapar
Next Article Fullback Anyar Merapat! PSIS Datangkan Alwi Fadillah dan Rangga Sumarna

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Keseruan Meet & Greet Densus di SMAN 6 Semarang, Selasa (10/2/2026). Acara seperti ini menjadi langkah penting untuk sosialisasi pencegahan intoleransi dan radikalisme anak-anak di Jawa Tengah.

Bank BJB, Telkomsel, Larissa, hingga Uncle Bao Dukung Bacaaja ‘Meet & Greet Densus’ di SMAN 6 Semarang

Bukan Cuma Kolesterol: CKG Kini Urus Scabies sampai Kusta

Siswa SMAN 6 Semarang, Khansareta Prayunita menjelaskan kesannya ikut Meet & Greet Densus di sekolahnya, Selasa (10/2/2026). (bae)

Pengakuan Siswa SMAN 6 Semarang: Auto Melek Isu Radikalisme Usai Meet & Greet Densus

Mantan Bupati Purworejo, Agus Bastian (batik hijau) dan tiga orang lain bersaksi di sidang korupsi BPR Purworejo, Selasa (10/2/2026). (bae)

Mantan Bupati Purworejo Dicecar Soal BPR saat Jadi Saksi Sidang Korupsi di Semarang

COO bacaaja.co, Puji Utami, menyebut media punya kewajib mengedukasi pelajar agar tak terpapar radikalisme.

COO Bacaaja: Media Berperan Edukasi Pelajar, Cegah Mereka Tak Terpapar Terorisme

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Ilustrasi anak-anak menjalani pemeriksaan mata.
Tumbuh

Fenomena Balita Rabun: Mata Minus Datang Lebih Cepat, Negara Datang Terlambat

Januari 23, 2026
Ilustrasi makan steak daging sapi.
Tumbuh

Pola Makanmu Pengaruhi Perubahan Iklim, Kok Bisa? Begini Penjelasannya

Januari 1, 2026
Tumbuh

Tanpa Solar, Nggak Berisik: Pompa Rob Demak Kini Ngandelin Matahari

Januari 1, 2026
Ilustrasi anak terpapar konten radikalisme dan terorisme dari game online.
Tumbuh

22 Anak di Jateng Terpapar Konten Kekerasan, Densus 88 Endus Metode Tebar Jaring di Medsos

Januari 7, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Puluhan Anak Jateng Terpapar Konten Ideologi Kekerasan, Kapolda Bentuk Tim Khusus
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?