BACAAJA, SEMARANG- PSIS Semarang bakal mampir ke Stadion Maguwoharjo, Sleman, Sabtu (10/1/2026) sore buat menghadapi PSS Sleman di pekan ke-15 Liga Championship.
Statusnya memang tim tamu, posisinya juga masih di papan bawah. Tapi urusan niat, Mahesa Jenar datang nggak setengah-setengah. Di satu sisi, PSS Sleman lagi santai tapi serius. Mereka nangkring di posisi kedua klasemen Grup B dengan 30 poin dari 14 laga.
Menang lebih sering, kalah jarang, dan targetnya jelas: kejar puncak, lalu balik ke Liga 1. Lawan di depannya? PSIS yang baru kumpulin 8 poin. Di atas kertas sih kelihatan jomplang. Tapi sepak bola jarang nurut sama kertas.
Buktinya, laga ini langsung bikin heboh. Sebanyak 13.000 tiket Maguwoharjo ludes cuma dalam 75 menit. Kayak rebutan tiket konser, bukan pertandingan liga. Antusiasme tinggi, tensi naik.
Buat PSIS, laga ini bukan sekadar tandang biasa. Ini misi bertahan hidup. Zona degradasi masih dekat, dan poin di Sleman bisa jadi penyambung napas. Makanya, manajemen PSIS ambil langkah nekat tapi niat: nyiapin 14 pemain anyar buat langsung dites di laga panas.
COO PSIS, Fariz Julinar Maurisal blak-blakan. Begitu bursa transfer dibuka pukul 00.00 WIB, pemain baru langsung didaftarkan. Nggak pakai lama, nggak pakai nunggu chemistry sempurna. Logikanya sederhana: stagnan itu lebih bahaya daripada berani.
“Risiko pasti ada, tapi ini pesan bahwa PSIS pilih bergerak,” kurang lebih begitu sikapnya. Di sisi lain, PSS Sleman juga nggak mau kecolongan. Mereka kabarnya siap menurunkan rekrutan anyar seperti Lucas Gama, Figo Dennis, dan Jehan Pahlevi.
Adu Cepat
Manajemen PSS bahkan harus adu cepat sama jam, karena urusan administrasi pemain balapan langsung dengan jadwal kick-off. Pelatih PSIS, Jafri Sastra, juga datang dengan nada tenang tapi penuh isi.
Timnya dalam kondisi fit, mental naik setelah menang di laga sebelumnya, dan pemain baru dinilai cepat adaptasi. “Mereka profesional,” katanya singkat kode bahwa alasan “belum nyetel” nggak berlaku.
Nama-nama di koper PSIS juga nggak main-main. Dari Alberto Goncalves, Otavio Dutra, Esteban Vizcarra, sampai Rafinha dan Denilson Rodriguez. Campuran lokal, asing, naturalisasi skuad rasa update versi terbaru.
PSS Sleman memang lebih unggul di klasemen. Stadion penuh, dukungan masif, target besar. Tapi PSIS datang dengan satu senjata yang sering bikin kejutan: nekat dan lapar poin.
Jadi kalau Sabtu sore Maguwoharjo mendadak tegang, jangan heran. Soalnya ada tamu yang datang bukan buat sopan-santun. PSIS ke Sleman bukan mau healing, bukan mau foto-foto. Mereka datang buat ribut sebentar di lapangan lalu, kalau semesta mendukung, pulang bawa tiga poin sambil senyum tipis. (tebe)


