BACAAJA, SEMARANG – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah nggak bosan-bosan mengkritik proyek Tol dan Tanggul Laut Semarang-Demak.
Proyek tersebut merupakan bagian integral dari proyek strategis nasional giant sea wall atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara Jawa.
Meski proyek sudah jalan lama, kritikan terus ia lempar. Manajer Kampanye dan Media Walhi Jateng, Zalya Tilaar menyinggung giant sea wall yang konsepnya sering dibandingkan dengan tanggul laut di Belanda.
Bacaaja: Walhi: Pembangunan di Hulu Bikin Semarang Bawah Tambah Banjir
Bacaaja: Banjir Lereng Muria Bukan Takdir Ilahi, Walhi Sorot Krisis Lingkungan
Menurut Zalya, kondisi Indonesia tidak bisa disamakan begitu saja dengan Belanda. Karakteristik geografi, tanah, dan sistem sungainya berbeda jauh.
“Tidak bisa langsung copy paste. Karakteristik Belanda dengan Indonesia jelas beda,” ujar Zalya saat menjadi narasumber Podcast Ruang Baca untuk kanal YouTube bacaajadotco, Jumat (6/3/2026).
Ia juga mengingatkan ancaman tenggelamnya wilayah pesisir jika penurunan tanah dan naiknya muka air laut terus terjadi. Contohnya sudah terlihat di wilayah pesisir Kabupaten Demak.
Desa Bedono di Demak, sebagian wilayah sudah hilang karena terendam laut. Desa itu dulu memiliki sekitar tujuh dusun, namun kini tinggal beberapa dusun yang tersisa.
“Dari tujuh dusun, sekarang tinggal tiga atau empat. Sisanya sudah tenggelam,” kata Zalya.
Ia menambahkan perubahan itu juga terlihat jelas dari citra satelit. Jika gambar dimundurkan ke tahun-tahun sebelumnya, garis daratan tampak terus mundur.
Menurut Zalya, tanggul laut raksasa bukanlah solusi tapi masalah baru. Sebab, keberadaannya bikin beban pesisir tambah berat dan makin ambles.
Jika pola pembangunan seperti ini terus berlanjut, kondisi kota bisa makin berat dalam 10 sampai 20 tahun ke depan. (bae)


