BACAAJA, BOYOLALI – Pelarian pelaku perampokan sadis di Desa Pengkol, Karanggede, Boyolali akhirnya tamat.
Satu terduga pelaku berinisial A alias Agus Ratmono (30) ditangkap polisi saat kabur ke Kudus, Jumat (30/1/2026) pagi.
Penangkapan ini dilakukan jajaran Polres Boyolali, kurang dari 24 jam setelah kejadian bikin geger warga.
Bacaaja: Kades Ungkap Detik-detik Perampokan Rumah Juragan Sate di Boyolali, Satu Anak Tewas
Bacaaja: MBG ‘Ngerampok’ Persen Anggaran Pendidikan, JPPI Siapkan Gugatan ke MK
Kasus ini bukan perampokan biasa. Aksi brutal tersebut menewaskan bocah 6 tahun berinisial AO, sementara sang ibu DY (33) mengalami luka parah dan masih dirawat intensif di RSUD Simo.
Polisi juga mengamankan kendaraan milik korban saat menangkap pelaku.
“Bersama terduga pelaku, kami turut mengamankan kendaraan milik korban,” kata Kapolres Boyolali AKBP Indra Maulana Saputra, Jumat (30/1).
Terduga pelaku perampokan ini merupakan tetangga satu kampung dengan korban. Rumah mereka hanya beda RT.
Diduga terkait motif utang-piutang
Meski pelaku sudah di tangan, polisi belum buka kartu soal motif. Penyidik masih mendalami dan mengembangkan kasus ini.
“Untuk motif dan lain-lain, mohon bersabar. Masih proses pendalaman,” tegas AKBP Indra.
Namun di level warga, spekulasi mulai ramai. Keluarga korban menduga kuat ada urusan utang-piutang di balik tragedi ini.
Salah satu keluarga korban, Wahyudi (60), mengungkapkan bahwa pelaku dan korban saling mengenal, meski tak punya hubungan keluarga.
“Tidak ada hubungan keluarga. Tapi saling kenal. Istrinya pelaku juga sering main ke sini,” ujarnya.
Menurut Wahyudi, beberapa hari sebelum kejadian korban sempat menagih utang ke terduga pelaku. Situasi itu diduga memicu emosi dan berujung kekerasan.
“Sekitar lima atau enam hari lalu korban menagih utang ke A. Karena belum ada, A marah, lalu berujung penganiayaan,” katanya.
Kasus ini masih terus dikuliti polisi. Satu hal yang pasti, pelarian ke Kudus gagal total, dan publik kini menunggu: apakah ini murni perampokan, atau konflik utang yang meledak jadi tragedi? (*)


