BACAAJA, BANDA ACEH – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), angkat bicara mengenai kerusuhan peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh, kemarin.
JK termasuk tokoh yang menginisiasi perdamaian di Aceh. Ia menyatakan, kericuhan pada Peringatan Hari Damai itu lebih berkaitan dengan dinamika politik dan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan pemerintah, bukan bentuk penolakan masyarakat Aceh Negara Kesatuan Repblik Indonesia (NKRI).
“Yang penting masyarakat memahami bahwa perdamaian telah membawa kemajuan dan kesejahteraan. Jangan sampai apa yang sudah dicapai selama 21 tahun ini terganggu,” kata JK di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Bacaaja: Liputan Demo Bencana Nasional di Aceh, Ponsel Wartawan Dirampas Oknum TNI
Bacaaja: Bendera Bulan Bintang Berkibar di Tengah Bencana Aceh, Luapan Rasa Kecewa?
“Ini adalah ekspresi antara ketidaksenangan dan juga keinginan yang masih ada kelompok-kelompok, walaupun kecil, tetapi dapat memprovokasi masyarakat di sana,” sambung dia.
JK juga menyoroti absennya sejumlah tokoh penting Aceh ketika kericuhan terjadi. Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem diketahui sedang menjalani pengobatan di Kuala Lumpur. Sementara Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud berada di Penang untuk menjalani pengobatan.
“Jadi hampir tidak ada pimpinan yang berpengaruh berada di Banda Aceh pada saat ini. Hanya wakil gubernur dan tentu pihak kepolisian,” katanya.
Meski ada kelompok yang menyuarakan ketidakpuasan, JK menilai situasi tersebut tidak mewakili keinginan masyarakat Aceh secara keseluruhan.
“Rakyat Aceh selalu ingin damai,” tegasnya.
JK berharap masyarakat dan seluruh pihak tetap menjaga perdamaian yang telah dibangun sejak berakhirnya konflik Aceh. Menurutnya, stabilitas tersebut memberikan dampak besar terhadap pembangunan, termasuk melalui dukungan pemerintah pusat dan dana otonomi khusus.
Berawal dari Bendera Bulan Bintang
Kericuhan terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026).
Situasi memanas setelah sebagian massa hendak memasang bendera Bulan Bintang di salah satu tiang di kompleks masjid. Aparat TNI yang berjaga kemudian melarang pemasangan bendera tersebut.
Larangan itu kemudian diikuti beberapa kali tembakan peringatan ke udara. Suara tembakan membuat massa yang berada di halaman masjid spontan tiarap sebelum situasi berkembang menjadi bentrokan.
Sebagian massa kemudian mengejar personel TNI hingga ke sekitar Gedung DPRK Banda Aceh dan Simpang Kodim. Dalam peristiwa tersebut, massa melempari aparat dengan batu dan benda lainnya.
Kericuhan akhirnya mereda setelah personel TNI menjauh dari kejaran massa. Namun, massa masih bertahan di sekitar masjid dan menyampaikan protes atas larangan pengibaran bendera.
Satu sepeda motor milik aparat TNI yang terparkir di area masjid juga dibakar. Sementara seorang peserta aksi dilaporkan harus mendapat perawatan di rumah sakit akibat mengalami luka di kepala. (*)

