BACAAJA, SOLO – Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menggelontorkan dana Rp150 miliar untuk revitalisasi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo).
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, revitalisasi tersebut merupakan bagian dari program pemerintah untuk memperbaiki dan menghidupkan kembali aset-aset budaya nasional.
“Revitalisasi keraton merupakan perintah langsung dari Presiden sebagai bagian dari upaya merevitalisasi aset-aset budaya nasional, termasuk istana, museum, dan aset budaya lainnya,” ujar Fadli, Rabu (23/9/2026).
Bacaaja: LDA Minta Dana Hibah Keraton Solo Diaudit
Bacaaja: Tersandung Regulasi, Dana Hibah untuk Keraton Solo Mandek Sejak 2012
13 Titik Bakal Dipoles
Revitalisasi tidak dilakukan di seluruh kompleks sekaligus. Ada 13 titik yang menjadi sasaran utama. Ke-13 lokasi tersebut yakni:
- Pagelaran
- Sitihinggil
- Museum Keraton
- Kasentanan
- Panti Pidono
- Keraton Kilen
- Keputren
- Ndalem Ageng
- Kawasan Kamandungan
- Bangsal Pradonggo
- Sasana Handrawina
- Panggung Songgobuwono
- Sinorenggo
Pemerintah menargetkan pekerjaan tersebut rampung pada akhir 2026. Namun, Fadli menyebut masih ada kemungkinan waktu pengerjaan diperpanjang jika diperlukan.
Soal anggaran, negara menyiapkan dana sekitar Rp150 miliar. Namun, seluruh biaya tersebut tidak sepenuhnya berasal dari APBN.
Sebagian pembiayaan menggunakan skema public-private partnership (PPP) atau melibatkan dukungan pihak korporasi.
Bukan Cuma untuk Wisata
Fadli berharap revitalisasi Keraton Solo tidak berhenti pada perbaikan fisik bangunan.
Setelah dibenahi, kompleks keraton diharapkan bisa menjadi salah satu destinasi penting di Solo dan Indonesia.
Konsepnya pun dibuat lebih luas. Tidak hanya wisata budaya, tetapi juga bisa dikembangkan sebagai destinasi sejarah, religi, kuliner, hingga pendidikan.
“Kisaran Rp150 miliar. Setelah direvitalisasi, kita berharap nantinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini bisa menjadi salah satu destinasi penting di Nusantara, khususnya di Solo,” kata Fadli.
Menurutnya, pengelolaan setelah revitalisasi juga menjadi hal penting. Pemerintah ingin kawasan tersebut dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Pemerintah pusat, Pemkot Solo, dan pihak keraton akan didorong untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan.
“Kita harapkan nanti pengelolaan dengan manajemen yang profesional. Kita sudah bicara dengan pihak keraton. Sehingga nanti bagaimana kita mengembangkan supaya ini sustainable ke depan,” ujarnya.
Dengan revitalisasi ini, pemerintah berharap Keraton Kasunanan Surakarta bukan cuma tampil lebih terawat, tetapi juga semakin hidup sebagai pusat budaya, sejarah, pendidikan, dan pariwisata di Kota Solo. (*)

