BACAAJA, SOLO – Isu kesehatan mental di Solo ternyata nggak bisa lagi dianggap sepele. Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, blak-blakan bilang kondisi mental warga saat ini cukup memprihatinkan.
Data yang diungkap bikin auto mikir: dari sekitar 6.000 orang yang pakai layanan psikolog, sebanyak 9 persen harus dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan. Artinya, kasusnya nggak bisa cuma ditangani di tahap deteksi awal.
“Ini akan ekstra lagi kita untuk menekan angka gangguan mental di Solo. Karena cukup memprihatinkan,” kata Respati.
Bacaaja: Miris! Siswa SD di NTT Bundir karena Gak Bisa Beli Buku dan Pena, Surat Wasiat Bikin Nangis
Bacaaja: Respati Hadiri Localfest: Bikin Solo Makin Hype, Industri Kreatif Siap Ngebut!
Sebagai respons, Pemkot Solo berencana menambah tenaga psikolog sekaligus meningkatkan layanan Posyandu Plus, fasilitas yang selama ini jadi garda depan buat deteksi dini kondisi kejiwaan masyarakat.
Awalnya, layanan ini cuma diproyeksikan buat screening. Tapi realitanya, cukup banyak warga yang ternyata butuh penanganan lebih serius.
“Dari 9 persen yang kita cek dari Posyandu Plus, harus ada rujukan dari puskesmas. Nah ini yang akan kita tindaklanjuti,” jelasnya.
Nggak cuma berhenti di situ, Respati juga mau ngegas penanganan mental health tahun ini dengan menggandeng RSUD Fatmawati dan RSUD Bung Karno untuk menambah psikolog.
Menariknya, pasien yang datang ternyata lintas generasi, mulai dari remaja, usia produktif, sampai lansia. Ini jadi sinyal kalau kesehatan mental bukan lagi isu kelompok tertentu, tapi sudah jadi alarm serius buat semua.
Tapi ada satu pertanyaan penting: dengan angka rujukan yang cukup tinggi, apakah penambahan psikolog bakal cukup? Atau justru Solo butuh strategi yang lebih menyeluruh, dari edukasi publik sampai pencegahan?
Yang jelas, makin banyak orang berani cari bantuan itu bukan tanda lemah, justru bukti kalau awareness soal mental health mulai naik.
Sekarang PR terbesarnya ada di pemerintah: jangan sampai warga sudah berani speak up, tapi akses bantuannya malah terbatas. (*)


