Ahmad Alfani Hasan, mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Berasal dari Banyuwangi.
Ketika seseorang yang menjadi simbol perlawanan saja mampu berkhianat, lantas bagaimana dengan orang lain yang melakukan hal yang sama?
Sebagai salah satu fans Rocky Gerung sejak masih aktif dengan caci makian elegannya, jujur saja keputusannya kali ini membuat saya bertanya-tanya. Apakah mungkin seseorang yang sangat diagungkan oleh publik karena kelihayannya menyuarakan aspirasi rakyat itu, kini sudah mulai ikut barisan kelompok yang justru pernah dia maki setiap hari?
Ada beberapa hal setidaknya yang bisa kita pertanyankan sekarang. Apakah keputusan Rocky murni kepentingan pribadi? Atau jangan jangan (kalau kalian percaya konspirasi) ada maksud tertentu dia terlibat dalam barisan rezim? Atau justru kita yang terlalu lebay karena memberikan harapan untuk satu orang manusia yang juga bisa salah?
Kalau kita mau lihat dengan jujur, keputusan yang dilakukan Rocky tidaklah salah sebagai individu. Karena keputusan seseorang adalah hak prerogatifnya sendiri untuk melakukan keputusan yang menurutnya baik. Tidak ada yang boleh mengintervensi keputusan seseorang jika itu adalah memang murni keinginan pribadi.
Apakah Rocky pernah berjanji secara tertulis bahwa dia tidak akan terlibat dalam pemerintahan? Saya rasa tidak, dan sah-sah saja jika dia mau. Dan juga, apakah kita juga bisa menjamin bahwa Rocky hidup sejahtera jika selalu berada di barisan rakyat? Saya rasa hidup demikian tidak terlalu menyenangkan. Jadi keputusan Rocky secara individu sama sekali tidak salah, dan kita tidak berhak memutuskan dia mau hidup seperti apa.
Kemudian, jika kita mau kita mau berprasangka baik, apakah memang ada niat tertentu keputusan Rocky untuk terlibat dalam posisi strategis di dewan pertimbangan presiden? Boleh jadi iya, boleh jadi tidak. Memang posisi Rocky hari ini bisa memberikan masukan secara langsung tentang cara sebuah kebijakan pemerintah diimplementasikan. Bayangkan seumpama pagi-pagi di kantor Rocky berdiskusi dengan Prabowo soal seberapa banyak ompreng bisa didistribusikan ke meja makan siswa. Atau tentang militerisasi ruang publik yang perlu dievaluasi secara komprehensif. Itu misal.
Tetapi dengan melihat sikap Rocky dalam beberapa waktu belakangan yang pro terhadap kebijakan Makan Bergisi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih yang notabene adalah program utama Pemerintah, hal itu membuat kita mau tidak mau bersikap skeptis kepadanya. Kalimat makian filosofis yang sebelumnya ditujukan kepada pemerintah hari ini menjadi pisau pelumas untuk menjelaskan kebermanfaatan program-program tersebut. Dan itulah yang membuat publik kemudian bertanya, bagaimana mungkin Rocky bisa benar-benar berubah 120 derajat dalam bersikap kepada pemerintah dalam waktu sesingkat ini?
Lalu apa yang kita resahkan sekarang terhadap keputusan rocky? Ini yang menjadi titik persoalan utama hari ini. Keputusan Rocky ternyata punya dampak yang besar di sisi masyarakat. Rocky sebelumnya dianggap bukan lagi sebatas individu yang berkoar-koar tentang bobroknya pemerintah, akan tetapi dia sudah menjadi simbol dari sikap rakyat yang muak dengan kondisi pemerintahan yang amburadul. Kalimat-kalimat yang dulu keluar dari mulutnya merepresentasikan semua kemuakan itu dalam satu suara makian dari seorang Rocky Gerung.
Secara alami harapan orang-orang terakumulasi menjadi sebuah sikap kolektif yang tersalurkan dalam tiap-tiap kalimat yang keluar darinya. Dan ketika Rocky sekarang ikut dalam barisan musuh rakyat, yaitu pemerintah rezim Prabowo – Gibran, tak ayal lagi ini menimbulkan perasaan kecewa yang besar bagi kita yang selama ini mengikuti dan mendukung jejak beliau dalam menyalurkan aspirasi rakyat.
Sebut saja ini pengkhianatan. Karena harapan kita selama ini ternyata hanya menjadi sebuah batu loncatan manakala dihadapkan dengan tawaran menggiurkan dari rezim. Dan keputusan Rocky menjadi saksi bahwa integritas bisa dibeli oleh kekuasaan. Inilah barangkali yang saya bisa jelaskan mengapa publik hari ini patah hati.
Efek domino yang dihasilkan dari keputusan Rocky itu bagi saya cukup fatal. Ketika seseorang yang menjadi simbol perlawanan saja mampu berkhianat, lantas bagaimana dengan orang lain yang melakukan hal yang sama? Bagaimana dengan mahasiswa yang turun kejalan? Bagaimana dengan aktivis yang selama ini berkoar? Bagaimana dengan konten kreator yang aktif menyuarakan kritik? Apakah mereka juga akan menjadikan kita sebagai batu loncatan? Atau bagaimana jika mereka dihadapkan dengan tawaran yang sama seperti Rocky Gerung?
Yang perlu kita ketahui dan lakukan sekarang adalah bahwa napas perlawanan harus terus dilanjutkan selama rezim belum memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Dan saat kita nanti dihadapkan dengan keputusan-keputusan sulit, semoga kita tetap bisa istiqomah di sisi perjuangan. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

