Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Karhutla dan Situasi Konyol Negara yang Tiada Henti
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Karhutla dan Situasi Konyol Negara yang Tiada Henti

Redaktur Opini
Last updated: Oktober 20, 2026 8:02 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Made Supriatma, peneliti di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.

Saya tahu dan sadar sepenuhnya bahwa sinisme tidak akan menyelesaikan apa pun. Namun, apa pilihan untuk tidak sinis dalam situasi konyol yang tiada henti ini?

Beberapa hari silam, Presiden RI Prabowo Subianto memimpin rapat soal Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Ini rapat rutin. Atau sudah menjadi rutin karena hutan dan lahan tetap terbakar. Dan, karenanya rapat terus menerus diadakan.

Kita tidak tahu apa yang dibicarakan dalam rapat itu. Karena tidak ada kamera dan mikrofon, kita tidak tahu ide-ide cemerlang apa lagi yang muncul dari pikiran Bapak Presiden setelah mendapat laporan. Kemarin dulu, dia diberitahu soal tepung untuk memadamkan kebakaran. Dan, jadilah dia suruh produksi massal.

Soal Karhutla ini memang sudah membuat para elit kita hilang akal. Oh, sebenarnya tidak hilang akal. Mungkin saja mereka pura-pura hilang akal. Pura-pura kerja. Mereka pun tahu bahwa kebakaran hutan dan lahan itu perlu.

Hasil penelitian sebuah organisasi masyarakat sipil bernama Pantau Gambut memperlihatkan bahwa 54 persen dari hutan yang terbakar antara 2015-2025 menjadi perkebunan sawit dan akasia. 41 persen menjadi belukar. Hanya tiga persen yang benar-benar kembali menjadi hutan.

Dan tentu kita tidak lupa, presiden yang sama ini, ketika awal kekuasaannya pernah mengatakan bahwa sawit juga pohon. Dia mengeluarkan oksigen. Ambisinya adalah membuat negeri ini mandiri secara energi karena sawit bisa dipakai sebagai minyak diesel.

Maka mulailah program B10, B30, B50, dan seterusnya. Ini adalah campuran antara minyak diesel dari fosil dan minyak sawit atau etanol (dari tebu). Hingga nanti puncaknya B100 dan kendaraan akan dijalankan dengan 100 persen bahan bakar minyak sawit dan etanol.

Ucapan seorang presiden tentu punya bobot. Ia mengirim sinyal akan kebutuhan sawit (biodiesel) dan etanol. Dan untuk itu, terbuka peluang menangguk keuntungan. Untuk untung, perlu menanam. Untuk menanam, perlu lahan. Hanya sayangnya, lahan masih berbentuk hutan.

Membakar adalah cara paling murah untuk membersihkan lahan. Umumnya lahan, yang sebelumnya hutan ini, sudah diambil kayu-kayunya (ini duit tersendiri). Nah, sekarang tinggal dibersihkan (land clearing) dengan cara murah: dibakar!

Saat terbaik untuk membersihkan lahan adalah pada musim kering. Apalagi dengan El Nino sekarang ini. Lengkap sudah. Bakar. Asap? Seperti kata Gubernur Jambi, siapa yang bisa mengendalikan asap? Para pejabat mulai bermain semantik. Ini adalah kehendak Allah. Atau, asap tidak punya KTP. Apalagi paspor.

Yang jelas tiga negara tetangga Indonesia dilanda asap, dari Malaysia, Singapura, hingga Filipina. Mereka menawarkan bantuan. Mereka menggugat ke ASEAN. Bahkan beberapa warga mereka sudah ada yang meninggal.

Indonesia? Negara besar ini tenang-tenang saja. Seakan tidak ada masalah. Indonesia seperti tetangga gila yang berak mencret di mana-mana, termasuk ke tetangga. Ketika mau ditolong untuk dicebokin, malah cuek sambil terus lari ke sana-kemari membawa kotoran dan bau tak sedap. Tamsil ini mungkin tidak terlalu tepat karena mungkin tidak ada korban jiwa hanya karena orang gila berak sembarangan.

Tapi itulah kita. Gubernur Kalimantan Timur kabarnya pelesir ke Singapura ketika daerahnya diamuk asap. Dia dan bininya nonton balapan F1. Tidak tahu diri? Sejak kapan menjadi pejabat di Indonesia itu dituntut untuk tahu diri? Lha wong orang enggak cukup umur dan enggak punya ijazah saja bisa jadi wakil presiden! Kowe nuntut tahu diri?

Pejabat dan aparat pun makin aneh. Mereka makin tidak bisa dikontrol. Dan, mereka tidak peduli. Kalau pun mereka peduli, mereka memperlihatkannya dengan cara-cara yang ganjil. Seperti orang tua yang kasihan melihat anaknya lapar dan mengajaknya jalan-jalan ke mal. Seperti pemimpin yang kasihan dan menangis melihat anak-anak Indonesia stunting dan memberinya … racun?

Saya tahu dan sadar sepenuhnya bahwa sinisme tidak akan menyelesaikan apa pun. Namun, apa pilihan untuk tidak sinis dalam situasi konyol yang tiada henti ini? Tadi siang, saya keliru menulis pesan “20 tahun pemerintahan Prabowo.” Teman yang menerima pesan dari saya itu segera mengoreksi, 2 tahun bukan 20 tahun. Tapi memang benar, dua tahun ini terasa dua puluh tahun!

Presiden memimpin rapat Karhutla. Aparat-aparatnya di bawah dengan sigap dan kreatif menanggapi seruan presiden untuk memadamkan kebakaran. Setelah tepung, sprayer tanaman, dan ember-ember untuk memadamkan api, kini aparat kita makin kreatif: pakai penggebuk kasur!

Kaum Gen Z mungkin bingung karena mereka tahunya hanya spring bed dan kasur busa. Begini ya, Dek. Dulu kami tidur di kasur kapuk. Kasur ini harus dijemur secara reguler kalau tidak dia akan kempes, lembab, dan penuh Tinggi (kepinding pengisap darah). Kalau dijemur, dia harus digebuk untuk mengembalikan keempukannya, mengeluarkan debunya, dan menghalau Tinggi-nya.

Rotan penggebuk kasur itu kadang mampir ke pantat kami, terutama kalau kami nakal. Nah, mungkin satu saat, ketika tidak ada kebakaran hutan, aparat-aparat ini kembali ke metode lama untuk menghadapi anak-anak muda yang berdemo: menggebuknya dengan penggebuk kasur!

Inilah Indonesia yang kita miliki sekarang. Indonesia yang diurus oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Orang-orang yang amat sangat tidak kompeten. Tapi di saat lain hidup sangat mewah, dengan puluhan ekor kuda hanya untuk menyambut seorang jendral dari Mesir.

Jadi? Biarlah kita sinis sejenak. Walau sinisme tidak akan mengubah apa pun. (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Dari Bayangan Luhut ke Menteri Keuangan: Purbaya Si Anak Buah Kini Jadi Bos

Pukul Rata Tuduhan KIP Kuliah Salah Sasaran Justru Problematis

Tragedi Al-Khoziny: Bukan Takdir, tapi Alarm Sistem Pesantren Kita

Bencana Ekologis Dimulai Ketika Manusia Memandang Alam sebagai Benda Mati

Memendam Amarah Ibarat Bom yang Bisa Meledak Kapan Saja

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Bidik 190 Emas, Semarang Bertekad Pertahankan Juara Umum Porprov Jateng
Next Article Ketemu Hoaks di Medsos? Warga Jateng Kini Bisa Lapor Lewat Padhang dan LaporGub

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Pemprov Jateng Biayai Kuliah 482 Santri hingga Lulus

Emas Porprov Bisa Berbonus Rp 50 Juta, tapi Atlet Semarang Harus Nunggu

Ketemu Hoaks di Medsos? Warga Jateng Kini Bisa Lapor Lewat Padhang dan LaporGub

Karhutla dan Situasi Konyol Negara yang Tiada Henti

Bidik 190 Emas, Semarang Bertekad Pertahankan Juara Umum Porprov Jateng

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Kantin Sekolah, Pasar Baru Ekonomi Halal

September 8, 2026
Opini

Menyelamatkan Diri dengan Tertawa

Agustus 26, 2026
Opini

Emas, Imajinasi Global, dan Realitas Nilai Tukar

Februari 16, 2026
Presiden Prabowo merombak kabinet dengan mencopot lima menteri, termasuk Sri Mulyani dan Budi Arie. Langkah ini dinilai sebagai konsolidasi politik, sekaligus melepaskan bayang Jokowi. Publik menanti, apakah reshuffle ini akan bawa perubahan nyata atau sekadar ganti nama. Foto: dok.
Opini

Dari Reshuffle, Prabowo Mulai Lepas Bayang Jokowi, Siapa Masuk Siapa Tersingkir?

September 15, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Karhutla dan Situasi Konyol Negara yang Tiada Henti
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?